Sejarah

[Bagian III] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda

·
[Bagian III] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda
Ilustrasi. Sumber: http://siswa.top

sinarpidie.co--ZAINAL ABIDIN kembali ke balai dengan membawa setumpuk dokumen. “Ini milik Abu (ayahnya-red) Musana, Teungku Abdul Wahab. Teungku Wahab pada waktu GAM-GAM dulu tahun 1976 pernah ditangkap. Beliau kini sudah almarhum.”

“Bang Dek,” Zainal Abidin memangil abangnya, Azis. “Bang Wahab ada pergi sekolah dia kan sampai ke Langkat?”

Azis mengangguk sambil menatap kertas-kertas di depannya.

PERTEMPURAN yang ngeri itu telah usai. Mayat-mayat bergelimpangan. Saat menyisir medan pertempuran untuk menghitung jumlah korban yang tewas baik di pihak pejuang Aceh maupun di pihak Pemerintah Hindia-Belanda, Kolonel Schmidt menemukan Cut Mirah Gambang tergeletak di atas tanah. Ia terluka parah.

Kala itu, Cut Mirah Gambang memeluk putranya yang saat itu baru berumur lima bulan, Teungku AminTiro (Abdullah), yang tak lain adalah ayah kandung Zainal Abidin dan Azis.

Kolonel Schmidt, yang mahir berbahasa Aceh, mendekati Cut Mirah Gambang.

“Maaf Yang Mulia, maukah Anda minum segelas air ini?” kata Kolonel Schmidt, menawarkan air putih.

Hening sesaat. Lalu Kolonel Schmidt melanjutkan, “Apakah Yang Mulia mengizinkan kami untuk mengobati luka Yang Mulia?”

Cut Mirah Gambang masih tak mengeluarkan sepatah kata pun. Beberapa waktu kemudian, ia bangkit pelan-pelan dan duduk di atas tanah. Lalu, ia berkata pada Kolonel Schmidt, “Enyahlah dari hadapanku, kafir laknat! Jangan sentuh aku! Aku tak sudi menerima bantuanmu. Kau telah bunuh ayahku, ibuku, suamiku, kau sudah bunuh kami semua. Kau takkan bisa menggantikan apa yang telah kau hancurkan. Aku menolak kebaikan dan kemurahan hatimu! Pergilah!”

Cerita dan adegan tersebut disampaikan oleh sang Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Teungku Hasan Tiro, di hadapan pengikut setianya di puncak Gunong Halimon pada masa-masa awal dideklarasikannya Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) atau yang belakangan dikenal sebagai GAM pada 1976 silam. Nukilan itu tertera dalam buku The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro (1984).

Sang Wali menjadikan hari dan tanggal pertempuran tersebut—21 Mei 1910—sebagai hari libur nasional Aceh.

Ihwal waktu dan tempat tewasnya Teungku Mahyiddin-- sebagaimana yang dituturkan sang cucu, Zainal Abidin pada sinarpidie.co--berbeda dengan yang tertulis pada buku catatan harian Sang Wali Teungku Hasan Tiro.

Hal tersebut lumrah adanya, sebab saat itu ayah Zainal Abidin, Teungku Amin Tiro (Abdullah) masih sangat kecil dan cerita tentang keluarganya pun ia dengar dari orangtua asuhnya, berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.

“… nenek saya, Potjut Mirah Gambang di Tiro meninggal dunia di sini (di medan pertempuran-red) saat masih sangat muda, yakni saat berumur 30 tahun. Sementara itu, Teungku Tjhik Mahyeddin di Tiro, berhasil meloloskan diri dari maut bersama Pang Rabo,” tulis Teungku Hasan Tiro dalam The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro (1984).

Dengan kata lain, pasangan suami-istri, Teungku Mahyiddin dan Cut Mirah Gambang, tidak meninggal dunia dalam medan pertempuran pada waktu yang bersamaan. Cut Mirah Gambang meninggal dalam pertempuran di Gunong Halimon pada 21 Mei 1910. Sementara itu, Teungku Mahyiddin, yang selamat dalam pertempuran di Gunong Halimon, akhirnya tewas pada saat pertempuran di Pucok Alue Semi, pada 5 September 1910, berlangsung.

“Cut Mirah Gambang adalah putri Cut Nyak Dhien dari pernikahannya dengan Teungku Ibrahim Lamnga. Pernikahan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar tidak dikaruniai anak,” tutur Zainal Abdidin pada sinarpidie.co.

Namun, dari pelbagai catatan sejarah, disebutkan bahwa Cut Mirah Gambang merupakan putri dari pasangan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien.

Di lain pihak, Teungku Ibrahim Lamnga—tewas dalam pertempuran dengan Belanda—adalah suami Cut Nyak Dhien yang pertama, sebelum ia menikah dengan Teuku Umar.

Baca juga:

Berdasarkan kertas besar—berisikan silsilah keluarga Tiro—yang diperlihatkan Zainal Abidin pada sinarpidie.co, Teungku Chik di Tiro memiliki enam anak: Fatimah, Muhammad Amin, Mahjiddin (Mahyiddin), Ubaidillah, Muhammad Ali Zainal Abidin, dan Teungku Lambada.

Ayah Zainal Abidin dan Azis, Teungku Amin Tiro (Abdullah) konon adalah putra satu-satunya Teungku Mahyiddin dan Cut Mirah Gambang. Sedangkan Pocut Fatimah--ibu kandung sang Wali, Teungku Hasan Tiro-- dan Teungku Umar Tiro merupakan anak Teungku Mahyiddin dari pernikahannya dengan Cut Asiah.

Satu hal yang bisa disimpulkan: keluarga besar Tiro menamai nama anak dan cucu mereka dengan nama yang sama dengan nama buyut mereka yang hidup pada zaman dan generasi yang sebelumnya. Hingga kini, hal tersebut tampaknya masih berlaku dalam keluarga besar ini.

“Adapun Muhammad Saman, jang terkenal kemudian dengan Tengku Tjhik di Tiro putera Tengku Sjech Abdullah, anak Tengku Sjech Ubaidillah kampung Garot negeri Samaindra, Sigli, Ibunja Sitti Aisjah kakak Tengku Tjhik Muhammad Amin Dajah Tjut, puteri Tengku Sjech Abdussalam Muda Tiro anak Leube Polem Tjot Rheum. Lahir pada tahun 1251 H (kira-kira tahun 1836 Mesehi), di Dajah Krueng kenegerian Tjumbok Lamlo, jang terkenal sekarang dengan Kota-Bakti. Tengku Sjech Abdullah ajahanda Muhammad Saman berasal dari kampong Garot Sigli,” tulis Ismail Jakub dalam bukunya yang berjudul Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya (1960).

Makam Syeh Ubaidillah—kakek Teungku Chik di Tiro— diperkirakan ada di dalam pekarangan Meunasah Gampong Ulee Ceue Klibeut, Kemukiman Klibeut. Lima menit berkendara dari Gampong Pante Garot.

Keuchik Gampong Ulee Ceue Klibeut, Musliadi. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula)
Keuchik Gampong Ulee Ceue Klibeut, Musliadi. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula)

“Kami memugar kembali makam tersebut, karena kami dengar makam-makam tersebut adalah makam-makam keturunan Teungku Chik di Tiro,” ungkap Keuchik Gampong Ulee Ceue Klibeut, Musliadi, Senin, 14 Agustus 2017. []

Bersambung Bagian 4

Komentar

Loading...