[Bagian III] Kebun, Pupuk, dan Jalan Aspal Bupati Roni

·
[Bagian III] Kebun, Pupuk, dan Jalan Aspal Bupati Roni
Pabrik pupuk PT Blang Thoei Luah di Gampong Kambuek Paya Pi, Kemukiman Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. (sinarpidie.co/DIky Zulkarnen).

Bupati Pidie Roni Ahmad hanya melaporkan lima persil tanah dalam LHKPN.

sinarpidie.co - Di kebun seluas 1,2 hektare di Gampong Kambuek Paya Pi, Kemukiman Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, teronggok sebuah bangunan industri terpadu pengolahan pupuk, pembasmi hama, pakan, obat tradisional, dan CaO/CaCO3 PT Blang Thoei Luah.

Meski perusahaan ini dipimpin oleh Fachruddin Haji Kaoy, bagi masyarakat setempat dan para petani di Pidie, pabrik pupuk tersebut merupakan milik Bupati Pidie, Roni Ahmad. Hal itu ditandai dengan masifnya kampanye penggunaan pupuk organik yang dilakukan Bupati Pidie yang akrab disapa Abusyik ini dalam setiap kesempatan resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie, kunjungan sejumlah pejabat negara—baik dari instansi horizontal maupun vertikal— yang didampingi Abusyik ke lokasi pabrik tersebut, dan intensitas kehadiran Abusyik ke lokasi tersebut meski pada hari dan jam kerja.

Mukhtar, 56 tahun, warga Gampong Meunasah Kumbang, Kecamatan Mila, Pidie, mengatakan bahan baku pupuk organik itu berbentuk seperti tanah karang bewarna hitam, putih dan tanah karang coklat.

“Saya melihat sekilas. Saya tidak tahu, dari mana bahan baku pupuk itu diambil,” kata Mukhtar, pekan lalu.

Mukhtar merupakan pekebun yang sering lalu-lalang di depan pabrik tersebut. Ia menggarap lahan miliknya yang terletak di seberang pabrik tersebut.

Baca juga:

Sumber sinarpidie.co menyebutkan bahan baku pupuk tersebut berasal dari Gua Tujoh, Kecamatan Muara Tiga.

Ekspansi kebun

Bupati Pidie Roni Ahmad membeli kebun di Gampong Kambuek Paya Pi, Kemukiman Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, atas nama putranya, Muhammad Rizal, pada 29 Juli 2019 lalu.

Di Kemukiman Kunyet, Bupati Pidie Roni Ahmad juga memiliki kebun lainnya di Gampong Seunadue, seluas dua hektare. Selain kebun, Bupati Pidie Roni Ahmad juga membeli sawah di gampong yang sama.

“Kebun itu dibelinya dari salah seorang warga Gampong Meunasah Kumbang, Kecamatan Mila, Pidie, yang bernama Ramli,” kata Mukhtar.

sinarpidie.co juga menghimpun beberapa titik kebun Bupati Pidie di Kecamatan Batee, Pidie.  Ia memiliki kebun di samping Waduk Lhok Kumude, perbatasan antara Gampong Alue Lada, Kecamatan Batee, dan Gampong Kupula Tanjong, Kecamatan Padang Tiji, dengan luas sekitar delapan hektare. Di dalamnya, terdapat kandang sapi dan pohon-pohon sentang. Di kawasan perbukitan di Gampong Kulee, Batee, yang jauhnya sekitar tujuh kilometer ke arah utara dari Waduk Lhok Kumude, Abusyik juga memiliki kebun seluas dua hektare. Hanya saja, belakangan kebun Abusyik tersebut ternyata diketahui masuk ke dalam lahan yang telah dibebaskan oleh PT Samana Citra Agung, sebuah perusahaan yang memiliki kontrak joint venture dengan PT Semen Indonesia untuk mendirikan PT Semen Indonesia Aceh (SIA), pabrik semen yang semula direncanakan beroperasi di Batee dan Muara Tiga, Pidie. Namun hingga kini hal itu belum terealisasi karena terganjal konflik lahan dengan warga di sejumlah gampong pada dua kecamatan tersebut, termasuk dengan Abusyik.

Selain di Kecamatan Padang Tiji dan Batee, Bupati Pidie Roni Ahmad juga disebut-sebut telah membeli kebun di Gampong Lutueng, Kecamatan Mane, Pidie, atas nama kerabatnya.

Bupati Roni Ahmad tak melaporkan ekspansi kebunnya yang rata-rata berada di areal penggunaan lain atau APL selama dua tahun belakangan dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Dalam salinan LHKPN 30 April 2020/periodik – 2019, Bupati Pidie Roni Ahmad hanya melaporkan lima bidang tanahnya senilai Rp 1,7 miliar, yang terdiri dari tanah seluas 24000 m2 senilai Rp 700 juta, tanah seluas 9000 m2 senilai Rp 400 juta, tanah seluas 1098 m2 senilai Rp 150 juta, dan tanah 1639 m2 senilai Rp 200 juta.

Dalam laporan tersebut, Abusyik melaporkan bahwa dirinya tidak memiliki mobil, tapi hanya memiliki dua sepeda motor yang ia beli pada 2014 dan 2015, yang masing-masing nilainya adalah Rp 8 juta.

Hingga berita ini diturunkan, sinarpidie.co belum memperoleh konfirmasi dari Bupati Pidie, Roni Ahmad. Daftar pertanyaan yang dikirimkan pada yang bersangkutan belum dijawab. []

Reporter: Diky Zulkarnen dan Candra Saymima

Bersambung Bagian IV

Loading...