Sang pengacara LBH

[Bagian III] Jafar Siddiq Hamzah

·
[Bagian III] Jafar Siddiq Hamzah
Jafar Siddiq Hamzah. Dok. keluarga.

sinarpidie.coALAMSYAH HAMDANI, 63 tahun, masih dapat menceritakan dengan lancar hari-hari 35 tahun silam saat dirinya mengisi kelas di Fakultas Usluhuddin Universitas Alwashliayah Medan, Sumatera Utara, kala Jafar Siddiq Hamzah masih tercatat sebagai mahasiswa di universitas tersebut.

“Pertanyaan-pertanyaan Jafar saat ia masih mahasiswa bagus-bagus. Saya bertanya pada dia, asalnya dari mana? Dia jawab, dari Lhokseumawe,” kisah Alamsyah Hamdani, Jumat, 14 Agustus 2020.

Selain mengajar di Fakultas Usluhuddin Universitas Alwashliayah Medan, Alamsyah saat itu juga bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan. “Saya ajak Jafar ke LBH sejak dia masih kuliah,” kata Alamsyah Hamdani.

Hubungan antara dosen dan mahasiswa ini kian hari kian dekat. Jafar kelak mengenalkan Alamsyah pada sang ayah, Nyak Hamzah Yusuf—kini almarhum. “Baik saat saya ketemu di Medan maupun saat saya ke Lhokseumawe, ayah Jafar selalu menitip pesan pada saya untuk menjaga Jafar,” kenang Alamsyah.

Jafar Siddiq Hamzah lahir di Blang Pulo, Lhokseumawe, pada 16 November 1965. Anak kedua dari sembilan bersaudara ini menamatkan SDN Blang Pulo pada 1976 dan menamatkan MTsN Lhokseumawe pada 1980. Usai menamatkan MTsN Lhokseumawe, putra pasangan Nyak Hamzah Yusuf dan Habibah Rashid ini melanjutkan pendidikan ke PGAN atau sekolah pendidikan guru tingkat menengah Lhokseumawe.

Memilih jurusan hukum dilatari pengalaman pahit yang pernah menimpa keluarganya. Sang ayah, Nyak Hamzah Yusuf, seorang kepala sekolah SD Blangkumbang, dipenjara selama enam bulan lalu dipindahtugaskan ke Singkil selama lima tahun pada awal 1970-an.

“Sebagai pegawai negeri, guru, beliau bersikeras tidak ikut Golkar dan menolak memakai baju dinas dengan lambang partai tersebut. Setelah masa berpisah dengan keluarga selama lima tahun karena dipindah ke Singkil, beliau dipulangkan dan berkumpul kembali dengan keluarga,” kata Cut Zahara Hamzah, adik Jafar Siddiq Hamzah, Selasa, 11 Agustus 2020.

Saat Soeharto berkuasa selama 32 tahun, PNS wajib memilih Partai Golongan Karya atau Golkar.

Karena kesibukan Alamsyah Hamdani di LBH Medan, kadang pria yang pernah menjabat sebagai Direktur LBH Medan dari 1990 hingga 1997 ini meminta Jafar Siddiq Hamzah menjadi assistennya untuk mengajar di kampus. “Di Universitas Alwashliayah Medan dan Universitas Dharmawangsa Medan. Jafar lebih cenderung dan kuat di perdata,” sebutnya.

Bagi Jafar, lingkungan kampus pada tahun pertama ia mengenyam pendidikan di Universitas Alwashliayah Medan, Sumatera Utara, cukup otoriter. Hal itu, sebutnya, merupakan konsekuensi dari kebijakan rezim Soeharto di mana “administrasi universitas hanyalah perpanjangan tangan rezim Orde Baru”.

Baca juga:

“Untuk menjinakkan dan melakukan depolitisisasi kampus-kampus,” tulis Jafar Siddiq Hamzah dalam personal statement atau surat pernyataan pribadi saat ia mendaftar sebagai mahasiswa S- 2 di Fakultas Ilmu Politik Universitas New School, Amerika.

Memasuki semester akhir di Fakultas Usluhuddin Universitas Alwashliayah Medan, Sumatera Utara, Jafar mulai menjadi volunter di LBH Medan. “Setelah satu tahun, saya dipromosikan menjadi staf dengan gaji mula-mula Rp 50 ribu per bulan,” kata Jafar dalam personal statement-nya.

Selain di Universitas Alwashliayah Medan, Jafar juga mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Amir Hamzah Medan. Ia menyelesaikan kuliah di Universitas Alwashliayah pada 1990 dan di Universitas Amir Hamzah pada 1991. “LBH Medan memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi pengacara serta mengirim saya pada pelatihan-pelatihan hukum lingkungan hidup dan hukum hak asasi manusia,” kata Jafar dalam surat tertanggal 23 Desember 1998, itu.

Di LBH Medan, Jafar mula-mula menjabat sebagai asisten pembela umum selama tiga tahun, sejak 1990 hingga 1993. Ia lalu menjadi pembela umum, sekaligus Kepala Divisi (Kadiv) Litbang dan Humas LBH Medan pada 1993 hingga 1994. Setahun menduduki posisi tersebut, ia dipercayakan menjadi Kadiv Pertanahan, Lingkungan, dan Humas LBH Medan.

Selama 1991 hingga 1992, Jafar telah mengikuti sejumlah kursus program advokasi kasus-kasus lingkungan hidup dan HAM, di antaranya di Natural Resources Law, Universitas Colorado; Human Rights Watch (Asia Watch), New York; Sierra Club Legal Defense Club, San Francisco, dan National Wildlife Federation, Washinton DC, Amerika Serikat.

Pada 1991, tim pengacara LBH Medan menjadi pengacara Azwani Wan bin Jalil alias Iwan Dukun. “Jafar merupakan salah satu dalam tim pengacara LBH Medan untuk kasus itu,” kata Alamsyah Hamdani.

Iwan Dukun—saat itu berumur 44 tahun—ditangkap polisi pada 22 Juli 1991 karena bisnis ganja jalur Aceh-Medan-Jakarta. Namun, saat disidang di Pengadilan Negeri Medan, Iwan juga dijerat dengan tuduhan subversi karena ia dituduh penyandang dana GAM.

Ia divonis lima tahun penjara. Saat memasuki penghujung atau di akhir-akhir masa hukuman di Lembaga Pemasayarakatan (LP) Tanjung Gusta, Medan, Iwan Dukun dan lima teman dalam satu sel terpanggang saat selnya itu dibakar dan dikunci dari luar pada 22 Mei 1996.

Bertahun-tahun kemudian, saat jenazah Jafar ditemukan dengan tangan dan kaki terikat kawat, lima lubang di dada, dan wajah disiram air keras agar tak bisa dikenali, kata Cut Zahara Hamzah, “kain batik yang dipakai untuk menutup jenazah adalah pemberian Kak Ros, istri almarhum Bang Iwan Dukun”. []

Bersambung Bagian IV

Loading...