[Bagian II-Selesai] Lenguhan Sapi Saree

·
[Bagian II-Selesai] Lenguhan Sapi Saree
Sapi Australia dalam kandang penggemukan di kompleks Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Inseminasi Buatan dan Inkubator atau Inkubator Kader Peternakan (IKP) Dinas Peternakan Aceh, di Gampong Suka Damai, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.coSUATU HARI pada awal Oktober 2017 silam, Sofyan, 50 tahun, menggali tanah untuk mengubur sekitar 20 Sapi Bali yang mati di kompleks Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Inseminasi Buatan dan Inkubator (UPTD-IBI) atau Inkubator Kader Peternakan (IKP) Dinas Peternakan Aceh, di Gampong Suka Damai, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar.

Sofyan diminta oleh petugas di sana untuk menggali kubur Sapi Bali dengan menggunakan eksavator. “Ada dua lubang yang saya gali. Pada 5 Oktober 2017 dan 7 Oktober 2017. Setelah sapi Bali dikubur kemudian permukaan tanah di sana dibakar agar tidak bau,” kata dia, Rabu, 10 Juni 2020. “Saya masih ingat di mana lokasi itu.”

Menurut Sofyan, sapi-sapi itu mati karena mereka terlanjur dimasukkan ke dalam kandang di UPTD tersebut, sedangkan padang pengembalaan dan rumput potong belum sepenuhnya tersedia saat itu.

Seorang petugas pada UPTD tersebut, yang identitasnya enggan dituliskan, mengatakan beberapa Sapi Bali bahkan telah mati sejak dalam perjalanan dari luar daerah (luar Aceh) ke Saree. “Dalam perjalanan beberapa Sapi Bali memang sudah mati karena mungkin tidak diberikan pakan padahal sapi-sapi itu menempuh perjalanan yang jauh. Dua hari berada di UPTD, sapi-sapi itu mati dua ekor atau tiga ekor per hari di awal-awal,” kata dia, Rabu, 10 Juni 2020.

Kepala UPTD IBI Saree, drh T Zulfadhli MSi, tak menampik tingginya angka kematian Sapi Bali di sana. “Dari 225 ekor, tinggal 40-an ekor Sapi Bali,” katanya. “Angka kematian Sapi Bali paling tinggi pada 2018 lalu.”

Berdasarkan sensus 2018, jumlah sapi yang dipelihara di UPTD IBI atau IKP Saree ialah 848 ekor: 118 ekor sapi jantan dan 730 ekor sapi betina.

Namun kini jumlah sapi yang tersisa di sana sekitar 480 ekor, yang berdasarkan keterangan Kepala UPTD IBI Saree, drh T Zulfadhli MSi, terdiri dari “sapi simmental, limousin, brahman, PO atau peranakan ongole, sapi Aceh, dan sapi Bali”.

“Juga ada lima ekor kerbau hibah dari Kementan,” kata drh T Zulfadhli MSi.

***

UPTD ini semula berangkat dari Sekolah Pengamat Kehewanan (SPK) Saree, yang didirikan pada 1968 dengan masa pendidikan selama satu tahun ajaran. Lalu, pada 1969/1970, SPK ini berubah menjadi Sekolah Kehewanan Menengah Atas (SKMA), yang masa belajarnya juga satu tahun ajaran. Mereka disiapkan untuk menjadi mentri hewan.

Pada 2001, SKMK ini berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Inkubator Kader Peternakan Dinas Peternakan Aceh, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 59.

“Sebenarnya UPTD ini untuk tujuan pendidikan. Di sini ada sekolah kader inkubator. Kita juga terima mahasiswa-mahasiswa praktik di sini,” kata drh T Zulfadhli MSi, Kepala UPTD IBI Saree.

Namun seiring berjalannya waktu, sapi-sapi yang ditampung di UPTD ini semakin membludak karena pengadaan sapi yang bersumber dari APBA juga dimasukkan ke sana dalam skala yang besar. Alih-alih berkembang biak, banyak sapi mati sia-sia karena perbandingan jumlah rumput atau pakan dengan jumlah ternak di sana sangat timpang.

Luas lahan yang ditanami rumput hanya sembilan hektare: dua hektare padang pengembalaan dan tujuh hektare lahan rumput potong. Pelbagai jenis rumput yang ditanami atau dibudidayakan di sana juga sebenarnya dititikberatkan untuk kepentingan pendidikan: rumput BH atau brachiaria humidicola, rumput gajah, rumput odot, dan rumput setaria.

“Tidak mungkin sekitar 480 sapi di sini digembalakan di dalam kompleks UPTD ini karena syarat ternak gembala ialah 1 hektare padang pengembalaan untuk tujuh hingga delapan ekor sapi, dan ternak potong, satu hektare untuk 10 hingga 12 sapi,” kata Kepala UPTD IBI Saree, drh T Zulfadhli MSi. “Selain itu, jika di lepas maka kompleks dan rumput-rumput di sini akan rusak.”

Di samping rasio rumput dan jumlah sapi yang timpang, jumlah tenaga harian lepas atau THL, yang bertugas memotong rumput dan membersihkan kandang di sana, juga berkurang sejak Februari 2020, dari 37 THL menjadi 17 THL.

Baca juga:

"Upah sekarang dihitung per hari Rp 70 ribu dan dibayar setiap bulan. Dulu upah Rp 2,8 juta sebulan. Sekarang Rp 2,2 juta sebulan,” kata salah seorang THL di sana yang identitasnya enggan dituliskan.

Kepala UPTD IBI Saree, drh T Zulfadhli MSi, mengatakan jumlah THL sebelumnya ialah 33, bukan 37 THL. “Alasannya karena anggaran pada Dinas Peternakan Aceh. UPTD hanya pelaksana. Kewenangan anggaran ada di dinas,” sebutnya.

Pemutusan hubungan kerja THL juga ikut berdampak pada tingginya angka kematian sapi di sana karena sistem pemeliharaan sapi PO atau peranakan ongole, peranakan brahman, dan sapi Bali di sana dilakukan secara intensif dalam kandang tertutup dengan pakan dipotong pada pagi dan sore, sedangkan sapi Aceh kadang dilepas ke padang pengembalaan dan diberikan rumput potongan.

Hal ini diperparah oleh alpanya pemberiaan konsentrat karena perubahan harga dalam pengadaan konsentrat sehingga pengadaan tersebut tak kunjung terealisasi hingga memasuki pertengahan tahun anggaran 2020.

***

KANDANG sapi di sana, yang berjumlah sepuluh unit, sebenarnya merupakan kandang percobaan: kandang penggemukan, kandang induk, kandang karantina, kandang kelompok, kandang campuran, kandang pedet, kandang bunting, dan kandang laktasi.

Kesan sebagai tempat penggemukan dan pembibitan lebih kentara di tempat ini, ketimbang sebagai tempat untuk mencetak mentri hewan dan peneliti.

Manajemen perkandangan sapi di UPTD ini dapat dikatakan jauh dari kata sempurna. Selain dekat dengan pemukiman penduduk, rata-rata tinggi kandang sekitar 4 meter dengan tinggi tiang depan 2 meter dan tinggi tiang dalam sekitar 3,5 meter di sana tak memiliki dinding. Tiga hingga lima kayu digunakan sebagai palang kandang.

Tempat makan dan minum di kandang-kandang tersebut umumnya terbuat dari bahan beton. Namun, ada pula tempat makan yang masih terbuat dari kayu tanpa memiliki tempat minum. Drainase pada kandang selebar kira-kira 27 cm mengalir ke tempat penampungan kotoran, tetapi ada juga yang mengalir ke lahan hijau untuk pakan.

Kata drh T Zulfadhli MSi, Kepala UPTD IBI Saree, pihaknya akan menghibahkan sapi-sapi di sana untuk kelompok tani. “Pergubnya sedang digodok. Di sini kita harus memelihara ternak sesuai dengan pakan yang tersedia. 100 hingga 150 ekor saja di sini. Ketika sudah over kapasitas, sapi-sapi harus dikeluarkan. Namun harus terlebih dahulu memiliki payung hukum, yakni Pergub,” sebutnya.

***

SOFYAN, 50 tahun, warga Gampong Saree Aceh, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, sebenarnya  juga seorang peternak sapi. Ia merupakan mantan Sekretaris Kelompok Tani Blang Ubo-Ubo.

Sofyan merasa kebijakan pemerintah selama ini tidak berpihak pada kelompok tani karena alih-alih memberdayakan petani untuk mengembangkan sektor peternakan di Blang Ubo-Ubo, Saree Aceh, dengan luas lahan gembala lebih dari 500 hektare, sejumlah pengadaan yang sebenarnya diperuntukkan ke Blang Ubo-Ubo justru dialihkan ke UPTD IBI Saree.

Sofyan, 50 tahun, mantan Sekretaris Kelompok Tani Blang Ubo-Ubo. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Di Blang Ubo-Ubo semuanya kita rintis dengan pemerintah dan BRR sejak 2007. Sudah siap pada 2009. Asetnya mencapai miliaran,” kata Sofyan.

Lahan tersebut terletak pada perbatasan Lampanah Leungah dengan Saree Aceh. Sebelumnya, 35 anggota kelompok tani tersebut memelihara sapi Bali.

Punca bubarnya kelompok tersebut, kata dia, karena sapi yang semula dihibahkan pada mereka berjumlah 500 ekor di atas kertas tetapi yang sampai ke lokasi hanyalah 150 ekor. []

 Reporter: Candra Saymima, Firdaus

Loading...