Figur

[Bagian II] Perjalanan Said Mulyadi, dari Kursi Staf Kantor Camat Ulim ke Kursi Wakil Bupati Pijay

·
[Bagian II] Perjalanan Said Mulyadi, dari Kursi Staf Kantor Camat Ulim ke Kursi Wakil Bupati Pijay
Wakil Bupati Pidie Jaya Periode 2014-2019, yang kini, bersama Ayub Abbas kembali mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah Pidie Jaya pada periode berikutnya, menyerahkan penghargaan bagi perawat yang berprestasi pada Hari Kesehatan Nasional. Sumber foto: meurahsetiapijay.

sinarpidie.co-- “Dua tahun sebelum pemekaran Pidie Jaya, berkas-berkas sudah dimasukkan. Kode plat nomor kendaraan untuk Pidie Jaya, saya yang pilih. Yang ada saat itu, O dan I. Akhirnya saya pilih O,” kenangnya.

Di lain sisi, kelak, dalam perjalanan menjabat sebagai Kepala Bagian Umum Sekretaris Daerah Pidie, Said Mulyadi bukan hanya sudah menjalin hubungan yang baik dengan Muspida melainkan juga mulai dekat dengan rekan-rekan wartawan.

“Kuncinya, saling menghargai. Dari luar, kita jalin hubungan yang bagus dengan Muspida dan rekan-rekan media. Di dalam, kita beri kepercayaan pada tim kerja kita, pada bawahan kita. Pada bagian umum, perlengkapan, dan humas,” kata dia, menjelaskan.

Pada 2007, dua tahun setelah penandatanganan MoU Helsinki antara GAM dengan Pemerintah RI, terjadi pergantian kepala daerah. Calon independen Mirza Ismail dan Nazir Adam, yang mendapat dukungan penuh GAM saat itu, memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar pada 11 Desember 2006.

“Saya, karena pekerjaan saya, termasuk orang yang paling dekat dengan Bupati Pidie saat itu, Pak Abdullah Yahya,” kenang suami Hj Syarifah Hasnah SE, itu.

Oleh rekan-rekan di kantor, kata alumni SMP Negeri Ulee Gle, itu, ia diisukan berada dalam garis merah.

“Mengapa demikian,  karena sebagian melihat saya saat itu dari sudut pandang kepentingan politik. Tapi kalau dilihat dari kepentingan professional, saya dianggap orang professional,” ungkapnya.

Suatu hari, Said Mulyadi menjumpai Bupati Pidie periode 2007-2012, Mirza Ismail, untuk memberikan surat yang berkenaan dengan urusan pemerintahan.

“Saat itu dia sudah terpilih tapi belum dilantik,” ujar Said Mulyadi.

“Baik, Said. Nanti kamu bantu saya, ya,” kata Said Mulyadi, menirukan ucapan Mirza Ismail padanya saat itu.

“Ya, Pak. Bagaimana arahan bapak saja,” kata dia, menanggapi.

Hingga waktu berjalan dan pelantikan telah dilakukan, Said Mulyadi kembali menjumpai Mirza Ismail.

“Pak, saya jangan lagi di jabatan ini,” kata dia. “Saya Bapak tempatkan di Infokom saja kalau bisa.”

Oleh Bupati saat itu, Said Mulyadi justru ditempatkan pada Kantor Industri dan Perdagangan.

“Dinas itu bukanlah dinas yang bonafid saat itu. AC saja kantor itu tidak punya,” kenangnya lagi.

Tugas pertamanya  adalah melakukan beberapa pembenahan secara struktural dan kultural.

“Industri terpisah, perdagangan terpisah-pisah mulanya pola kerja mereka. Karena relasi mereka ke provinsi beda-beda: ada kantor perdagangan dan ada industri. Kemudian saya satukan. Saya bangun iklim kerja yang baik dan hubungan kekeluargaan antar staff. Kantor pun saya ambil inisiatif untuk saya rehab sendiri,” ungkapnya.

Pada 2009, kembali terjadi penggabungan dinas, yakni penyatuan dinas koperasi, perdagangan, pertambangan, dan pasar. “Saat itu, Pak Iriawan (Wakil Bupati Pidie periode 2012-2017-red), menjabat sebagai Kepala Dinas Koperasi. Setelah penggabungan, saya kemudian jadi Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan, dan Pasar; dan Pak Iriawan jadi Kepala Bappeda lalu jadi Sekda," kata dia.

Baca juga:

Bagian I

Pada 2012, dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Muhammad Iriawan mendampingi Sarjani Abdullah, sebagai calon Wakil Bupati Pidie.  “Saat Pak Iriawan jadi Wabup, saya jadi Sekda Pidie,” tuturnya seraya tersenyum. [] Bersambung ke Bagian III.

Loading...