Laporan Mendalam

[Bagian II] Oknum Polisi Penadah Barang Curian Sang Informan Narkoba

·
[Bagian II] Oknum Polisi Penadah Barang Curian Sang Informan Narkoba
Rutan Kelas II B Sigli. Dok. sinarpidie.co.

LBH Banda Aceh: Aneh jadinya jika aparat penegak hukum memfasilitasi terjadinya tindak pidana.

sinarpidie.coRAJU GUNAWAN, 24 tahun, warga Gampong Cot Geunduek, Kecamatan Pidie, Pidie, melewati hari-hari yang pengap di balik sel tahanan di Mapolres Pidie selama tiga bulan sejak ia ditahan pada 12 April 2018 silam karena tersangkut kasus penyalahgunaan narkotika. Saat-saat itu, Raju berada di dalam sel Mapolres Pidie bersama 43 tahanan lainnya.

“Sekitar Mei 2018, Habibi ditahan di dalam sel Polres selama tiga hari. Dia satu sel dengan saya. Setelah itu, dia dilepas,” kata Raju Gunawan, yang ditemui di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Sigli, Jumat, 11 Desember 2020. “Habibi ditahan karena pencurian sepeda motor. Di dalam sel, Habibi dipukul oleh sesama tahanan karena dia cuak atau aneuk itek. Di dalam sel, kami saling bertanya antara sesama tahanan terkait kasus kami masing-masing.”

Raju Gunawan tak tahu penyebab Habibi dibebaskan. Raju divonis pidana penjara selama enam tahun pada Kamis, 11 Oktober 2018 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sigli. Saat ini, ia masih menjalani hukuman di Rutan Kelas II B Sigli.

Habibi yang dimaksud Raju Gunawan adalah Mexzal Habibi, 35 tahun, warga Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, yang baru-baru ini divonis pidana penjara satu tahun empat bulan karena kasus pencurian kambing. Dalam kasus tersebut, keterlibatan istrinya, Irene Fransisca Regalado alias Ririn Fransisca, 38 tahun, begitu gamblang. Hal itu dapat ditelusuri melalui putusan Pengadilan Negeri (PN) Sigli Nomor 285/Pid.B/2020/PN Sgi.

Sementara Mexzal Habibi bertindak sebagai pemberi perintah pencurian kambing pada Irvandi, 19 tahun; Riski Munandar, 32 tahun; dan Riski Kana, 19 tahun; Ririn memfasilitasi para pencuri ini baik saat aksi pencurian berlangsung maupun saat mereka kepergok warga.

Irvandi, Riski Munandar, dan Riski Kana juga divonis satu tahun empat bulan penjara oleh majelis hakim PN Sigli pada Kamis, 26 November 2020, tapi Ririn tak terjamah dalam kasus pencurian ini.

Beberapa waktu kemudian, di satu pihak, dari pengembangan kasus pencurian kambing tersebut, terungkap kasus pencurian penyejuk udara atau AC yang dilakukan Mexzal Habibi. Di lain pihak, istrinya, Irene Fransisca Regalado alias Ririn Fransisca, tersangkut kasus prostitusi anak.

Ririn tercatat sebagai DPO dalam kasus-kasus narkotika. Namanya sebagai DPO, antara lain tertera dalam putusan PN Sigli nomor 124/Pid.Sus/2020/PN Sgi dengan Afrizal, 34 tahun, warga Gampong Dayah Teubeng, Kecamatan Pidie, Pidie, sebagai terdakwa; dan dalam putusan PN Sigli nomor 215/Pid.Sus/2020/PN Sgi, dengan Yusrizal, 42 tahun, warga Gampong Meurah, Kecamatan Samalanga, Bireun, sebagai terdakwa.

HARI KETIKA MEXZAL HABIBI berstatus sebagai tahanan Kejaksaan Negeri Pidie untuk kasus pencurian kambing dengan surat bernomor Print-1502/L.1.11/Eoh.2/10/2020, para warga binaan di Rutan Kelas II B Sigli telah berkumpul di bawah pohon asam jawa di dalam pekarangan rutan. Hari itu Kamis, 21 Oktober 2020 sore, mereka menunggu Mexzal dilepas ke blok belakang. Para warga binaan ini punya cara mereka sendiri untuk menggelar prosesi penyambutan cuak atau aneuk itek, sebutan bagi para informan yang digunakan Satuan Reserse Kriminal Narkoba (Satresnarkoba) Polres Pidie dalam operasi-operasi pengangkapan pelaku penyalahgunaan narkoba.

Jonni Zainal Abidin, 37 tahun, warga Gampong Pulo Tunong, Kecamatan Delima, Pidie, ada di antara kerumunan warga binaan yang menunggu kedatangan Mexzal Habibi.

Jonni berkulit gelap, bertubuh jangkung, dan punya selera humor yang baik. Ayah satu anak ini menuturkan bahwa ia berakhir di balik jeruji besi setelah rekannya, Zulhelmi, 33 tahun, dan Azhari bertransaksi sabu dengan Mexzal Habibi, pada Kamis 2 Agustus 2018 sekira pukul 23.00 WIB, di Jembatan Benteng, Kota Sigli.

“Saya menyesal. Karena uang Rp 100 ribu, saya harus berada di penjara selama tujuh tahun. Anak saya yang pertama pun lahir saat saya di penjara, karena saat saya ditangkap, istri saya hamil dua bulan. Kedai kopi saya di gampong pun bangkrut dan tutup,” kata Joni dengan senyum yang tersungging di bibirnya, Jumat, 11 Desember 2020, di Rutan Kelas II B Sigli.

Semula, Jonni diminta Azhari untuk membeli sabu pada Safrizal. Azhari memberikan uang Rp 3,5 juta pada Jonni. Jonni lantas membelanjakan uang Azhari tersebut Rp 3,4 juta dengan membeli sabu pada Safrizal. Kemudian, sabu tersebut diserahkan pada Azhari. “Saya cuma kurir tapi kena hukuman tujuh tahun. Tapi Safrizal, yang bandar, dipenjara empat tahun. Karena dia banyak uang. Sekarang Safrizal sudah bebas. Remisi Corona,” kata Jonni. “Saya kena pasal mengetahui tapi tidak bilang-bilang.”

KETIKA JONNI berada dalam kerumunan di bawah pohon asam jawa, sebagian warga binaan lainnya menggedor-gedor jeruji besi kamar mereka seraya meneriakkan kata bunuh dan bunuh. Teriakan itu ditujukan pada Mexzal Habibi. Mexzal memohon pada sipir di rutan itu agar dirinya tidak dilebur bersama para warga binaan di dalam blok di belakang. Wajahnya pucat pasi dan lututnya bergetar.

Muhammad, Kepala Keamanan Rutan Kelas II B Sigli, sadar bahwa teriakan-teriakan seperti itu dapat memicu pecahnya kerusuhan yang dapat berakibat fatal. “Saya jamin kalau dia berada di rutan ini, dia akan mati dibunuh, karena dia banyak sekali terlibat dalam penangkapan para warga binaan di sini,” kata Muhammad, yang didampingi anggotanya, Kamis, 19 November 2020 lalu. “Jika dia dibawa ke LP Lameulo juga akan dipukul.”

Karena hari sudah menjelang malam, Mexzal dibiarkan berada di kamar karantina yang terpisah dari blok-blok sel para warga binaan selama satu malam. Keesokan harinya, ia dikembalikan ke pihak Kejaksaan Negeri Pidie. “Satu malam di sini, kita isolasi dia jauh dari tahanan yang lain,” kata Muhammad.

Kapolres Pidie Zulhir Destrian SIK MH, melalui Kasatreskrim Polres Pidie, Iptu Ferdian Chandra SSos MH, mengatakan saat ini Mexzal Habibi berada di sel di Mapolres Pidie. “Kita sudah koordinasi dengan pihak kejaksaan untuk dititip di sel Mapolres Pidie,” kata Iptu Ferdian Chandra SSos MH, Kamis, 19 November 2020 lalu.

Iptu Ferdian Candra menyebutkan, dalam serangkaian proses penyelidikan hingga penyidikan, pihaknya tidak menemukan keterlibatan Mexzal Habibi dalam kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan prostitusi anak di mana istri Mexzal, Irena Fransisca Regalado alias Ririn Fransisca, bertindak sebagai mucikari. “Bahkan hingga berkas perkara ini telah ke JPU Kejaksaan Negeri Pidie, tidak ada keterlibatan Mexzal Habibi dalam kasus TPPO ini, baik dari keterangan Ririn maupun dari para korban,” katanya, menjelaskan. “Dalam kasus ini, tidak ada pelaku lain selain Ririn, Ikhwan alias Toke Salak, Deni, dan Imran.”

Iptu Ferdian Chandra juga menjelaskan Mexzal terlibat kasus pencurian lainnya, seperti pencurian AC kantor Keuchik Gampong Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.  Kata dia, Mexzal telah ditetapkan sebagai tersangka pencurian. “Untuk 480 (pasal penadah-red), tersangkanya: Afdarul Akbar, Muammar Hafiz, dan Mahrizal,” katanya.

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Pidie, Dahnir SH, mengatakan pihaknya telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) kasus yang menjerat tiga oknum polisi pada Satresnarkoba Polres Pidie tersebut. “Kita terima pada 20 November 2020. Pada 20 Desember 2020 mendatang, kita akan menagih perkembangan penyidikan,” kata Dahnir SH, Jumat, 11 Desember 2020.

Hingga berita ini diturunkan, sinarpidie.co belum bisa melakukan konfirmasi pada Bripka Afdarul Akbar, Brigadir Mahrizal, dan Brigadir Muammar Hafiz, meski ketiganya tidak ditahan dan masih bertugas.

DIREKTUR LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) BANDA ACEH, Syahrul SH MH, mengatakan, pertama, dalam kaidah hukum tindak pidana, untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka “harus ada tindak pidana yang disertai minimal dua alat bukti”.

“Artinya, untuk kasus ini, dua alat bukti sudah terpenuhi,” kata Syahrul, Jumat, 11 Desember 2020.

Pertanyaan selanjutnya, kata dia, apakah seseorang yang telah ditetapkan sebagai tersangka harus ditahan atau tidak. “Jawabannya ada dua: jawaban subjektif dan jawaban objektif. Jawaban objektifnya: jika ancaman pidana penjara di atas lima tahun, tersangkanya wajib ditahan. Jika ancaman pidana di bawah itu, baru kemudian dapat digunakan alasan subjektif atau tidak ditahan. Namun, tersangka dengan alasan subjektif ini pun jika ia berpotensi menghilangkan alat bukti, mengancam saksi, dan melarikan diri, harus ditahan. Nah, jika tersangkanya atau pelakunya adalah orang yang seharusnya menjadi penegak hukum tapi kemudian melakukan tindak pidana, maka alasan subjektif tidak dilakukan penahanan mesti dikesampingkan demi memberi contoh pada publik bahwa aparat penegak hukum juga ditindak jika mereka melakukan tindak pidana,” katanya, menjelaskan.

Baca juga:

Aneh jadinya, kata Syahrul, jika aparat penegak hukum memfasilitasi tindak pidana. “Jika mereka tidak tahu bahwa AC tersebut barang curian, kita patut pertanyakan status mereka sebagai polisi,” katanya. “Akan aneh lagi jika polisi tidak kenal DPO. Celakanya lagi, jika ada polisi membeli barang curian pada DPO. Nah, hubungan antara para oknum ini dan serangkaian tindak pidana-tindak pidana lainnya yang dilakukan oleh tersangka pencurian pasti ada. Makanya harus diungkap.”

Syahrul meminta Kapolres Pidie, AKBP Zulhir Destrian SIK MH, mengambil tindakan yang tegas terhadap oknum-oknum ini. “Kapolres ini kan kapolres baru. Artinya, dia harus menunjukkan wibawanya. Bawahannya yang terlibat kejahatan luar biasa harus dihukum seberat-beratnya agar publik menilai performanya baik. Kasus ini harus ditangani dengan hati-hati dan serius. LBH akan memantau kasus ini secara intens. Kita akan minta SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan-red) kasus ini,” tutupnya. [Selesai]

Loading...