Sejarah

[Bagian II] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda

·
[Bagian II] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda
Azis dan Zainal Abidin. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co--Seorang pria paruh baya tengah mengaduk-ngaduk sesuatu di dalam belanga. Seorang lainnya memotong buah labu menjadi sebesar ¼ telapak tangan. Mereka berdua sesekali menolehkan wajah ke arah Zainal Abidin yang tengah menjawab pertanyaan sinarpidie.co.

“Di Klibeut, ada makam teungku Ubaidillah, ayah dari Teungku Abdullah. Kakek Teungku Muhammad Saman,” ucap Zainal Abidin.

Tak lama kemudian, Azis, 65 tahun, mengucapkan salam dan menyapa dua pria yang sibuk dengan belanga, buah labu, dan bumbu-bumbu memasak.

“Ini abang kandung saya,” ucap Zainal Abidin, mempersilan Azis naik ke atas balai kayu. “Bang Adek tolong bantu saya jawab ini.”

“Kami ini orang tasawuf. Tidak sekolah tinggi-tinggi,” kata Zainal Abidin, sambil tersenyum.

Kata dia, pekerjaannya sehari-hari adalah bertani. Sementara, di malam hari ia mengajar mengaji anak-anak di kampung setempat.

Balai kayu di dalam Makam Teungku Abdullah. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).
Balai kayu di dalam Makam Teungku Abdullah. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co kemudian bertanya, apa makna menjadi “orang tasawuf” bagi Zainal Abidin dan Azis.

Zainal Abidin, yang hanya sekolah sampai bangku sekolah dasar, menjawab, “Setamat sekolah dasar, saya kemudian mengaji di Dayah Cut Tiro. Di satu sisi, kami ini kan orang kurang mampu. Ayah saya, Teungku Amin Tiro itu yatim-piatu. Dalam peperangan, ayah dan ibunya syahid. Dia diambil dan diasuh oleh orang Aceh Besar yang bernama Ayah Wa Gapi. Beliau (Teungku Amin Tiro-red) kurang suka pada harta.”

Teungku Mahyiddin, ayah Teungku Amin Tiro atau Teungku Abdullah tewas dalam pengepungan yang dipimpin Letnan Schmidt. Ia kemudian dikebumikan di Pulo Mesjid Tangse, Pidie.

Menurut Zainal Abidin, berdasarkan penuturan ayahnya padanya dulu, dalam pertempuran tersebut, Cut Mirah Gambang yang terluka ditawari untuk diobati namun ia menolak tawaran Belanda itu.

Letnan Schmidt memilih untuk tidak berada di dekat Cut Mirah Gambang selama satu hari. Ia dan pasukannya kembali ke tempat tersebut pada keesokan harinya.

Baca juga:

“Pertempuran di Alue Seumi, perbatasan Geumpang-Tangse. Setelah syahid Cut Mirah Gambang, ayah saya masih menyusu pada ibunya yang sudah meninggal itu selama sehari semalam. Berada dalam pangkuan,” ungkapnya. “Ayah saya diambil Belanda dan diserahkan pada orang kampung.”

Zainal Abidin kemudian meninggalkan balai kayu tersebut selama beberapa saat. Azis mengambil alih pembicaraan. Kata Azis, balai yang ada di dalam pekarangan makam Teungku Abdullah, berasal dari Tiro.

Azis berperawakan tinggi-besar. Nada bicaranya begitu halus tapi tegas. []

Bersambung Bagian III

Komentar

Loading...