Laporan Mendalam

[Bagian II] Mencari Hasan Ubit

·
[Bagian II] Mencari Hasan Ubit
Hasan Ubit dan Istrinya, Jauhari. Dok. sinarpidie.co.

Pada Bakri, Irwandi pernah mengeluarkan kata-kata akan menghabisi nyawa Hasan Ubit.

sinarpidie.co — Bertahun-tahun silam, Muhammad Hasan Ubit sering menjual botol-botol plastik bekas minuman pada pabrik pengolah atau penggilingan plasik milik H Jamal yang terletak di Gampong Jadan, Kecamatan Mutiara. Dari rumah Hasan Ubit di Gampong Bentayan, Kecamatan Kembang Tanjong, jarak tempuh ke pabrik tersebut sekitar dua kilometer.

Di pabrik yang terletak di dalam pekarangan rumah H Jamal ini, Irwandi, 36 tahun, pernah dipercaya sebagai pengelola. “Pabrik penggiling plastik beroperasi sekitar tujuh tahun,” kata H Jamal, Senin, 4 Januari 2021. “Saat itu, jumlah pekerja harian lepas sekitar 8 hingga 10 pekerja.”

Kata H Jamal lagi, kapasitas produksi mesin penggiling plastik di pabrik tersebut saat itu 1,5 ton per hari. “Tapi rata-rata, saat masih beroperasi, plastik yang kita produksi sekitar 500 kilogram hingga 700 kilogram per hari,” sebutnya lagi. “Sebelumnya, Irwandi bertugas menghidupkan mesin di pabrik, menjaga pabrik, hingga mencari pekerja. Saat itu, dia sudah saya anggap seperti anak sendiri.”

Hasan Ubit kadang-kadang membawa botol plastik bekas seharga Rp 250 ribu ke pabrik H Jamal, tapi dia meminta Rp 250 ribu lainnya sebagai pinjaman, yang nantinya dibayar dengan barang bekas senilai harga tersebut.

Saat Irwandi datang ke rumah Hasan Ubit untuk mengambil barang-barang senilai pinjaman sebelumnya, pria kelahiran Mesjid Bungie pada 1940 ini membuang karung yang dibawa Irwandi.

Selain itu, seiring waktu berlalu, Irwandi ketahuan menjual bahan-bahan baku di pabrik tersebut ke Pasar Beureunuen, dan ayah tiga anak ini juga kerap memainkan berat timbangan. “Sebagian barang yang dibeli dengan uang pabrik diturunkan di rumahnya di Bentayan,” kata H Jamal. “Dalam menjalankan usaha di bidang ini, sulit untuk mendeteksi gundukan-gundukan botol plastik bekas yang sudah menggunung.”

Bekas bangunan pabrik pengolah atau penggilingan plasik milik H Jamal yang terletak di Gampong Jadan, Kecamatan Mutiara, Pidie. Kini, pabrik tersebut telah berhenti beroperasi. (sinarpidie.co/Firdaus).

Sejak saat itu, Irwandi tak lagi mendapat kepercayaan H Jamal. H Jamal tidak memecat Irwandi, tapi hanya membatasi perannya di pabrik tersebut. “Bang Hasan juga pernah mengingatkan saya untuk tidak melepaskan semua tanggung jawab pabrik pada Irwandi. Antara Bang Hasan dan Irwandi memang memiliki konflik pribadi,” kenang H Jamal.

Bakri, mantan pekerja pada pabrik penggilingan plastik milik H Jamal, mengatakan Irwandi merasa Hasan Ubit-lah penyebab terbongkarnya kedoknya di pabrik tersebut. Pada Bakri, Irwandi juga pernah mengeluarkan kata-kata akan menghabisi nyawa Hasan Ubit. “Jangan coba-coba jelekkan saya, saya akan habisi dia (Hasan Ubit-red),” kata Bakri, menirukan ucapan Irwandi padanya.

Beberapa hari setelah Muhammad Hasan Ubit hilang usai keluar dari rumahnya bersama Irwandi pada Sabtu, 2 Agustus 2008 sore, Irwandi tiba-tiba hilang dari Gampong Bentayan dan tidak lagi bekerja di pabrik H Jamal. “Sejak saat itu, Irwandi tidak lagi bekerja pada pabrik saya,” sebut H Jamal.

Sekitar 2012, pabrik ini berhenti beroperasi. Hasan Ubit, sejak hilang pada Sabtu, 2 Agustus 2008 sore, hingga kini belum ditemukan.

Sepulang dari Malaysia, Irwandi bekerja di salah satu pabrik penggilingan plastik di Gampong Tibang, Kecamatan Pidie, Pidie. Hingga berita ini diturunkan, sinarpidie.co belum bisa melakukan konfirmasi pada Irwandi karena, berdasarkan informasi yang dihimpun, ia menjalani hukuman penjara di Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah.

Irwandi dan pembunuhan pada 2015

Irwandi lahir di Simpang Tiga pada 8 November 1984. Ia tercatat sebagai warga Gampong Bentayan, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, setelah menikah dengan Nurbaiti, 35 tahun, pada 2003 silam.  Sebelumnya, Irwandi tercatat sebagai warga Gampong Seukee, Kecamatan Simpang Tiga.

Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Sigli, dengan Hakim Ketua Dr Amir Khalis dan Hakim Anggota—Irwan SHI dan Muhammad Redha Valevi SHI MH— mengabulkan permohonan Itsbat Nikah yang diajukan Nurbaiti berdasarkan surat permohonannya tertanggal 17 Februari 2016 dan terdaftar pada Kepaniteraan Mahkamah Syar’iyah Sigli dengan register Nomor: 86/Pdt.G/2016/MS-Sgi tanggal 16 Maret 2016 dan menyatakan sahnya perkawinan antara Irwandi bin Kamaruddin dan Nurbaiti binti Abdullah yang dilaksanakan pada 2003 bertempat di Gampong Bentayan, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie.

Dalam salinan putusan Mahkamah Syar’iyah Sigli nomor 86/Pdt.G/2016/MS.Sgi, termaktub bahwa pernikahan keduanya pada 2003 tidak disertai bukti secara tertulis berupa akta nikah “karena pada saat itu konflik melanda Aceh.”

Satu tahun sebelum Hakim Mahkamah Syar’iyah mengabulkan permohonan Nurbaiti, pada Jumat, 24 Juli 2015 sekira pukul 10.00 WIB, Irwandi meninggalkan rumahnya di Gampong Bentayan menuju ke rumah temannya, Saumi Ramadhan, 36 tahun,  di Gampong Blang Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, dengan mengendarai sepeda motor Suzuki Nex bernomor polisi : BL 2287 IX.

Infografis sinarpidie.co.

Kepada Saumi, Irwandi mencurahkan kekesalannya pada selingkuhannya, Ani Danuaini, yang mendatangi Nurbaiti ke rumah untuk menagih hutang sang suami senilai Rp 5 juta.

“Karena kejadian tersebut saya ribut dengan istri. Apa kita pukul saja dia sampai mati?” kata Irwandi.

“Terserah kamu saja, itu kan pacar kamu. Kalau kamu mau, saya ada jalan, dan saya akan tunjukkan di mana lokasi yang aman untuk melakukan pembunuhan,” jawab Saumi Ramadhan.

Sekira pukul 13.30 WIB, Irwandi keluar dari rumah Saumi. Ia lantas menghubungi Ani Danuaini untuk mengajak perempuan tersebut jalan-jalan. Irwandi menjemput Ani di depan SMA Unggul Blang Galang.

Saumi juga keluar dengan sepeda motor Honda Grand hitam tanpa nomor polisi. Saumi menunggu Irwandi dan Ani di SPBU Grong-Grong.

Sekira pukul 15.00 WIB, mereka bertiga singgah di warung mie di Laweung. Dari Laweung, mereka menuju ke Gampong Leungah, Kecamatan Seulimum, dengan tujuan ke Ujong Batee.

Sekira pukul 23.00 WIB, mereka pulang melintasi jalan Krueng Raya – Laweung. Setibanya di jalan di Gampong Leungah, mereka berhenti. Saat jam menunjukkan pukul 00.10 WIB, Sabtu, 25 Juli 2015, Irwandi mengajak Ani berhubungan badan di pinggir pantai. Saumi kemudian memperkosanya. Meski telah melawan, Ani tak berdaya melawan keinginan Saumi.

Amarah Ani meledak. “Ini malam terakhir hubungan kita,” kata Ani pada Irwandi.

Irwandi mencoba menenangkan Ani dengan membelai rambutnya. “Tidak, kamu akan saya bawa pulang,” kata Irwandi.

Baca juga:

Saat-saat itu, Saumi sedang memantau keadaan. Sambil mencium wajah Ani, tangan kanan Irwandi mencekik leher Ani sehingga perempuan tersebut meronta. Tidak lama kemudian, Ani tak lagi bergerak. Jasad Ani dicampakkan di sana dan ditutupi semak-semak di sekitar. Uang Rp 665.000 milik Ani mereka bagi dua.

Kelak, kasus pembunuhan berencana tersebut terungkap. Pada 29 Maret 2016, Irwandi dan Saumi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama.

Baik Saumi maupun Irwandi mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh atas putusan tersebut. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Banda Aceh mempertahankan dan menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jantho tanggal 29 Maret Nomor: 280/Pid.B/2015/PN-Jth: penjara seumur hidup! []

Selesai

Loading...