[Bagian II] Kebun, Pupuk, dan Jalan Aspal Bupati Roni

·
[Bagian II] Kebun, Pupuk, dan Jalan Aspal Bupati Roni
Jalan di Kemukiman Kunyet. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Alih-alih menyahuti kepentingan masyarakat Kemukiman Kunyet agar mengaspal jalan keluar-masuk ke 14 gampong dalam kemukiman tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie justru mengaspal jalan ke kebun Bupati Pidie, Roni Ahmad. Kebun itu juga terletak di kemukiman yang sama.

sinarpidie.co - Di dalam sebuah warung kopi di Gampong Baro, Kemukiman Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, M Nur Alibasyah, 75 tahun, duduk di atas sebuah kursi plastik, Senin, 5 Oktober 2020 siang.  Ia dikelilingi empat pemuda yang berasal dari sejumlah gampong di Kemukiman Kunyet.  Agak jauh ke depan, beberapa pemuda lainnya juga memasang kuping untuk mendengar kata-kata yang dilontarkan pria yang akrab disapa Ustad Nu, itu.

“14 gampong yang ada di dalam Kemukiman Kunyet seperti sengaja diisolasi oleh Negara. Buktinya, akses jalan keluar-masuk ke wilayah kami dibiarkan rusak parah selama bertahun-tahun, sementara akses ke jalan mewah menuju kebun Abusyik, di Gampong Kambuek Paya Pi, lebih diprioritaskan pembangunannya oleh pemerintah,” kata Ustad Nu, kesal.

Warga di Kemukiman Kunyet harus menempuh perjalanan darat dengan berkendara, melintasi sepanjang tujuh kilometer--lima kilometer di antaranya rusak parah--untuk bisa sampai ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Padang Tiji.

“Anak ketujuh saya, Khairiah, 35 tahun, pernah mengalami kecelakaan saat melintas jalan tersebut. Tangannya patah. Angka kecelakaan di jalan Kunyet termasuk tinggi. Dalam setahun terakhir, terdapat empat sampai lima warga di Kemukiman Kunyet yang mengalami kecelakaan saat melintasi jalan tersebut,” kata Ustad Nu lagi. “Dan tak usah saya cerita berapa jumlah ibu hamil yang terpaksa melahirkan di tengah jalan.”

Ridwan Muhammad, 46 tahun, warga Gampong Baro Kunyet, Padang Tiji, mengatakan jalan yang teraspal dengan baik di sana sangat dibutuhkan warga di Kemukiman Kunyet karena mayoritas warga di sana menggunakan jalan tersebut untuk mengangkut hasil perkebunan, seperti pinang dan kakao.

“Jika Pemerintah masih mengabaikan tuntutan warga Kunyet terhadap pembangunan jalan, maka lebih baik jangan bangun apa-apa lagi di kawasan kami, seperti pembangunan jalan tol yang juga masuk ke wilayah Kunyet, itu lebih baik jangan dibangun,” kata Ridwan, Senin, 5 Oktober 2020.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie Ir Samsul Bahri MSi mengatakan pihaknya akan melanjutkan pengaspalan atau lanjutan pengaspalan Jalan Kumbang – Kunyet, Kecamatan Mila/Padang Tiji. “Dalam perubahan anggaran 2020, terdapat Rp 800 juta anggaran untuk pembangunan ruas jalan Kumbang –Kunyet,” kata Samsul, Senin, 5 Oktober 2020.

Baca juga:

Pada 29 Juli 2019, Bupati Roni membeli 1,2 hektare lahan di Gampong Kambuek Paya Pi, Kemukiman Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, dari Fatimah, warga gampong setempat seharga Rp 25 juta per naleh (satu hektare terdiri dari empat naleh). “Atas nama Muhammad Rizal, anak Abusyik,” kata Keuchik Gampong Paya Kambuek Paya Pi, Kecamatan Padang Tiji, Sayuti. “Saat tanah itu dibeli pada Fatimah, tanah itu belum bersertifikat. Saat ini, sertifikat sedang diurus.”

Di sana, pria yang akrab disapa Abusyik ini mendirikan pabrik pupuk, di mana pada 5 Agustus 2019, sebagai Bupati Pidie, ia menerbitkan izin lingkungan melalui keputusan nomor 660/505/KEP.19/2019 untuk industri terpadu (produksi pupuk, pembasmi hama, pakan, obat tradisional, dan CaO/CaCO3) PT Blang Thoei Luah di Gampong Kambuek Payapi Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. []

Bersambung bagian III

Loading...