Pertemuan penting di Bangkok

[Bagian II] Jafar Siddiq Hamzah

·
[Bagian II] Jafar Siddiq Hamzah
Konferensi Fifty Four Years within Indonesia yang digelar IFA dan Forum-Asia di Hotel Y.M.C.A. Bangkok, Thailand, Sabtu, 24 Juli 1999 dan Minggu, 25 Juli 1999. Dok. keluarga Jafar Siddiq Hamzah.

sinarpidie.co- JAFAR SIDDIQ HAMZAH, Ketua International Forum for Aceh (IFA), datang ke Bangkok untuk menemui Chalida Tajaroensuk, yang saat itu masih bekerja di Forum Asia untuk Hak Asasi Manusia dan Pembangunan (Forum-Asia), yang berkantor pusat di Bangkok, Thailand, pada suatu hari di awal 1999.

“Pada waktu itu, kami sedang sangat sibuk dengan Timur Leste sehingga kami tidak memiliki banyak waktu untuk Aceh,” kata Chalida, melalui pesan elektronik Senin, 14 April 2014 lalu. “Tapi saya membantu Jafar mengadakan pertemuan regional untuk Aceh di Bangkok.”

Kata Chalida lagi, konferensi hak asasi manusia (HAM) yang digelar IFA dan Forum-Asia, yang bertajuk Fifty Four Years within Indonesia, ini, menjadi isu yang besar.

Hotel Y.M.C.A. Bangkok, Thailand, tempat konferensi itu digelar pada Sabtu, 24 Juli 1999 dan Minggu, 25 Juli 1999, katanya, dijaga ketat polisi.

“Kami membentuk komite regional untuk Aceh guna menjalankan kampanye advokasi kasus-kasus pelanggaran HAM. Kami juga menerbitkan buku Aceh Untold Story,” sebut Chalida.

Komite regional itu adalah Support Committee for Human Rights in Aceh atau SCHRA, jaringan lembaga-lembaga internasional yang membantu mengadvokasi dan mengampanyekan isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kemanusiaan di Aceh.  

Pada 15 dan 16 Januari 2000, SCHRA menggelar konferensi pertama di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Setelah agenda IFA dan Forum Asia

Pertemuan antara  perwakilan GAM dan tokoh masyarakat Aceh, yang untuk pertama kalinya membahas penyelesaian konflik Aceh lewat perdamaian, juga digelar dalam konferensi tersebut.

“Itulah peace talk pertama antara GAM dan RI,” kata Muhammad Nur Juli, mantan Press and Communications Director International Forum for Aceh (IFA), Kamis, 13 Agustus 2020.

Mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Yusra Habib Abdul Ghani menyebutkan dari Swedia, perwakilan GAM yang hadir ialah dirinya, dr Zaini Abdullah, dan Bahtiar Abdullah.

“Dari Malaysia, perwakilan GAM yang hadir: Muzakir Manaf, Teungku Tahir Has, Mahmud, dan Toke Harun. Zakaria Saman yang saat itu tinggal di Bangkok, juga hadir,” kata Yusra, Kamis, 13 Agustus 2020.

Di lain pihak, perwakilan tokoh masyarakat Aceh yang hadir (Indonesia), sebutnya lagi, Prof HM Yusuf Hanafiah, HM Nurnikmat, Ibrahim, Abdul Kamal, dan Abdullah Yahya. “Mereka umumnya aktif di organisasi Aceh Sepakat,” katanya. “Menurut saya, hasil konferensi ini ada dua. Pertama, silaturahmi atau mendekatkan orang Aceh yang GAM dan orang Aceh yang bukan GAM secara emosional. Karena cara berpikir saat itu Aceh ini seolah-olah hanya milik GAM. Yang kedua, delegalasi dari yang bukan GAM secara non-formal menginginkan GAM berunding dengan Pemerintah Indonesia.”

Setelah bertemu sekitar satu jam, para delegasi ini, kata M Nur Juli, menggelar konferensi pers: “Agree to Disagree”.

Usai konferensi tersebut, kata Yusra Habib Abdul Ghani lagi, Prof HM Yusuf Hanafiah, HM Nurnikmat, Ibrahim, Abdul Kamal, dan Abdullah Yahya, diutus untuk menemui Hasan Tiro di Stockholm, Swedia, untuk menjejaki perdamaian dengan Pemerintah Indonesia.

Nezar Patria, yang saat itu mewakili Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dalam konferensi di Bangkok itu, mengatakan pertemuan antara kedua belah pihak tersebut dilakukan secara informal dan di luar agenda pertemuan resmi IFA.

Dalam pertemuan yang tertutup untuk wartawan itu, perbedaan prinsip antara kedua belah pihak menyebabkan kelima utusan tokoh Aceh itu harus menemui langsung Hasan Tiro di Swedia.

“Dalam konferensi pers, dr Zaini menjelaskan bahwa sudah ada persamaan antara utusan masyarakat Aceh dengan dirinya dalam artian sama-sama ingin menyelesaikan masalah Aceh. Namun dia juga menyatakan ada perbedaan, karena ASNLF (GAM-red) berpendapat satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah Aceh adalah Aceh lepas dari Indonesia. Sedangkan utusan rakyat Aceh belum menjawab mengenai soal itu," kata Nezar, sebagaimana dikutip dari Kompas edisi Kamis, 29 Juli 1999. "Malam itu juga mereka langsung berangkat ke Stockholm untuk bicara langsung dengan Hasan Tiro.”

Baca juga:

Rabu, 28 Juli 1999, deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro dikabarkan keberatan menerima usulan perundingan antara GAM dan Pemerintah Indonesia tanpa adanya pihak ketiga atau badan dunia yang menjembatani perundingan tersebut.

Anjte Missbach, dalam bukunya Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh, menuliskan bahwa konferensi di Bangkok merupakan konferensi ketiga yang digelar IFA, setelah sebelumnya IFA menggelar konferensi di New York University pada Desember 1998 dengan tema Years of Living Dangerously: The Struggle for Justice in Aceh, Indonesia beyond Suharto. “Konferensi kedua bertema The Future Integration of Indonesia: Focus on Aceh diadakan pada April 1999 di Washinton, serta dihadiri orang-orang Aceh yang terkemuka, mulai dari anggota parlemen di Jakarta hinga faksi-faksi pecahan GAM,” tulis Anjte Missbach. []

Bersambung Bagian III

Loading...