Laporan mendalam/DAK Pertanian Pidie

[Bagian II] Dugaan Korupsi yang Bermula dari Pengingkaran terhadap Juklak dan Juknis

·
[Bagian II] Dugaan Korupsi yang Bermula dari Pengingkaran terhadap Juklak dan Juknis
Dam parit di Gampong Empeh, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Bukan dam parit biasa.

sinarpidie.co--Dam parit adalah suatu bangunan konservasi air berupa bendung kecil pada parit-parit alamiah atau sungai-sungai kecil yang dapat menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk disalurkan sebagai air irigasi.

Artinya, di lokasi dam parit, setidaknya terdapat parit-parit alamiah atau sungai-sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk dibendung guna menaikkan elevasi bagi keperluan irigasi.

Di samping itu, saluran air untuk menghubungkan dam parit ke lahan usaha tani yang akan diairi juga harus tersedia.

Bangunan dam parit terdiri dari talud, bangunan bendung atau pelimpas, pengendali pintu air, pintu penguras, saluran irigasi, dan kolam olak. Selain itu, lokasi dam parit juga harus memiliki debit air minimal lima liter per detik. Demikian spesifikasi dam parit yang termaktub dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10.1/Permentan/RC.120/3/2018 tentang Petunjuk Operasional Penggunaan DAK Fisik Bidang Pertanian Tahun Anggaran 2018.

Di Pidie, pembangunan dam parit yang dibiayai DAK Fisik bidang Pertanian tersebar di Gampong Blang Jeurat Tangse senilai Rp 190 juta, Gampong Empeh Mutiara Timur Rp 166.250.000, dan Gampong Beungga Tangse Rp 165.796.850. Untuk anggaran perencanaan tiga kegiatan tersebut Rp 16. 458.690 dan anggaran untuk pengawasan Rp 10.990.460.

Dam parit yang dibangun di Gampong Beungga, Kecamatan Tangse, Pidie tak memiliki pintu pengendali air.

Pintu pengendali air di Dam Parit di Gampong Beungga, Tangse, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Di samping itu, saluran air untuk menghubungkan dam parit ke lahan usaha tani yang akan diairi terlalu lebar untuk bisa terhubung dengan saluran tanah bawaan.

“Pembangunan saluran pada dam parit tersebut seharusnya mengikuti saluran tanah bawaan untuk mengaliri air ke sawah warga, namun saluran yang dibangun tak demikian. Padahal lebih bermanfaat jika dibangun sesuai dengan saluran bawaan yang bisa mengaliri air hingga seratus meter ke depan. Saya heran mengapa begini yang dibangun,” kata Keuchik Gampong Beungga, Kecamatan Tangse, Pidie, Zulkifli Umar, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Amatan sinarpidie.co di lokasi, ketebalan lantai saluran irigasi mencapai 40 cm dengan kedalaman 70 cm. Panjang saluran irigasi sekitar 50 meter, sedangkan panjang saluran pembuang sekitar 10 meter.

Lokasi dam parit tak memiliki debit air minimal lima liter per detik.

“Yang kerja kelompok tani Harkat Tani, terdiri dari 15 orang. Kontrak mulai sejak Agustus, 120 hari. Realisasi fisik sudah 100 persen, sedangkan realisasi keuangan 70 persen. Sudah dua kali penarikan,” kata Ketua Kelompok Harkat Tani, Imran M Piah, lewat sambungan telepon selular, Sabtu, 27 Oktober 2018.

“Pintu pengendali air memang pakai papan. Kita kerja sesuai dengan RAB dan gambar,” kata Bendahara Kelompok Tani Harkat Tani, Askari Bustamam di Tangse, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Yang lebih celaka adalah pemandangan dam parit di Gampong Empeh, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. Bangunan bendung atau pelimpas dan kolam olak nyaris menyamai saluran irigasi. Dengan kata lain, bangunan-bangunan tersebut dapat dikatakan nihil.

Pekerjaan dam parit itu dikerjakan kelompok Menasah Burat, yang terdiri dari 12 anggota dan diketuai sang keuchik gampong setempat, M. Musa.

Amatan sinarpidie.co, lebar saluran sekitar 1, 5 meter. Panjangnya sekitar 80 meter dengan tinggi saluran 1 meter.

“Sumber airnya dari atas,” kata M. Musa, tanpa bisa merinci lokasi sumber air tersebut. “Dari payau-payau di atas sana. Kata konsultan, kalau keputusan masyarakat mau ubah, kita ubah bentuknya ini. Kalau prasasti tidak tertera dalam RAB.”

Bangunan yang diklaim sebagai bangunan bendung dam parit. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Memang itu salah. Tapi saya sudah suruh mereka (Koptan-red) untuk memindahkan pintu air dan memperbesar bangunan yang dijadikan bendungan. Tidak mungkin dirusak atau dihancurkan untuk dibangun ulang,” kata Kepala Seksi (Kasi) Irigasi dan Lahan pada Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Zulfikar, Jumat, 26 Oktober 2018 via telepon selular. “Saya tidak bisa jawab mengapa lokasinya dipilih di situ. Saya masuk (ke dinas pertanian-red) kegiatan itu sudah dikerjakan.”

Di Gampong Blang Jeurat, Kecamatan Tangse, Pidie, bentuk dam parit tampak begitu remuk. Padahal realisasi keuangannya sudah mencapai 70 persen atau telah dilakukannya penarikan tahap II.

Panjang saluran 50 meter, sedangkan tingginya 2 meter. “Realisasi fisik 70 persen. Realisasi keuangan juga 70 persen. Baru cair tahap kedua. Tidak bisa dibuat terjunan karena tanah rata. Lokasi yang cocok ya di sini,” kata Burni, Ketua Kelompok Tani Suka Maju, Minggu, 27 Oktober 2018.

Membawa material bangunan ke lokasi agak sulit lantaran harus menjejaki persawahan warga. Letak dam parit ini tak memperhatikan kemudahan dalam membendung dan mendistribusikan air. Dan jelas dam parit ini tak memiliki debit air minimal lima liter per detik.

Infografis sinarpidie.co

Amatan sinarpidie.co, tak ada parit-parit alamiah atau sungai-sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk dibendung guna menaikkan elevasi bagi keperluan irigasi di lokasi dam parit tersebut. Selain itu, meskipun realisasi fisik diklaim sudah mencapai 70 persen dan realisasi keuangan sudah mencapai 70 persen, namun tak terlihat ada tanda-tanda keberadaan bangunan bendung atau pelimpas, kolam olak, pengendali pintu air, dan pintu penguras.

“Lokasi yang semula kita tentukan di Blang Jeurat bukan di situ. Tapi lokasi lain lagi.  Saya pernah bilang pada mereka kalau ada apa-apa, mereka harus bertanggung jawab,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, yang juga PPTK untuk kegiatan irigasi, embung, dan dam parit DAK 2018 pada Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Husaini, Senin, 29 Oktober 2018 di Sigli.

Kondisi bangunan yang diklaim sebagai bangunan dam parit di Gampong Blang Jeurat, Tangse, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Satu hal yang mencolok lainnya, dari tiga dam parit tersebut—sebagaimana yang termaktub dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10.1/Permentan/RC.120/3/2018 tentang Petunjuk Operasional Penggunaan DAK Fisik Bidang Pertanian Tahun Anggaran 2018—adalah seharusnya kontruksi bendung terbuat dari pasangan batu.  Artinya, bagian tersebut harus diikat dengan batu air, bukan dicor. Kendati demikian, masing-masing Poktan mengklaim mereka telah bekerja sesuai dengan RAB, gambar dari konsultan, dan arahan pihak dinas.

Baca juga:

“Masih ada kesempatan untuk diperbaiki. Masih ada uang dan masih bisa diadendum pekerjaan, jadi apa saja items yang belum dikerjakan akan kita sampaikan pada kelompok tani nanti. Jadi sama-samalah kita awasi. Maunya kita setiap pengerjaan itu bisa bermanfaat besar bagi masyarakat. Kita juga mau bagaimana pengerjaan itu sesuai instruksi Juklak dan Juknis. Persoalannya kebijakan dipusat itu berubah-ubah. Kegiatan 2017 semua pekerjaan dikerjakan pihak ketiga. Ada rekanan yang kerja. Kemudian ada konsultan perencana. Kegiatan ini berubah awal tahun ini menjadi swakelola. Anggaran untuk perencanaan dan pengawasan berubah namanya menjadi biaya honorarium fasilitator pedamping,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, yang juga PPTK untuk kegiatan irigasi, embung, dan dam parit DAK 2018 pada Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Husaini. 

Penyaluran DAK fisik tahun anggaran 2018 dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap I sebesar 25 persen dari pagu alokasi, disalurkan paling cepat Februari, paling lambat Juli. Tahap II sebesar 45 persen dari pagu alokasi, disalurkan paling cepat April, paling lambat Oktober.

Tahap III sebesar selisih antara jumlah dana yang telah disalurkan sampai dengan tahap II dengan nilai rencana kebutuhan dana untuk penyelesaian kegiatan. Disalurkan paling cepat September dan paling lambat Desember. []

Bersambung ke Bagian III

Reporter: Firdaus dan Diky Zulkarnen

Komentar

Loading...