Figur

[Bagian I] Perjalanan Said Mulyadi, dari Kursi Staf Kantor Camat Ulim ke Kursi Wakil Bupati Pijay

·
[Bagian I] Perjalanan Said Mulyadi, dari Kursi Staf Kantor Camat Ulim ke Kursi Wakil Bupati Pijay
Said Mulyadi. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co—Pria berkulit putih dengan potongan rambut pendek itu duduk di sebuah sofa. Ia, yang pada Rabu, 21 Maret pagi, dalam setelan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan, menerima sinarpidie.co di sebuah café di Banda Aceh. Pria itu adalah Said Mulyadi SE MSi, Wakil Bupati Pidie Jaya periode 2014-2019. Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018, ia bersama Aiyub Abas, juga mencalonkan diri serta ikut bertarung memperebutkan kursi Kepala Daerah Pijay periode 2019-2023.

“Saya ini kan pejabat karir mulanya. Staf di kantor camat Ulim,” kata dia, membuka obrolan. “Semua jabatan dan tugas yang diembankan pada saya, saya nikmati. Saya kerjakan dengan totalitas.”

Selepas ditempatkan di Kantor Camat Ulim, ia kemudian menghabiskan 10 tahun pengabdiannya pada Dinas Perikanan Pidie. Jabatan yang diembannya pada dinas tersebut: mulai kasubag teknis pengelolaan, kaur keuangan, hingga kasubbag tata usaha.

"Dari dinas perikanan saya berkeinginan untuk pindah ke salah satu Subbag di bagian Ekonomi Setda Pidie, namun pada waktu itu bupati menawarkan saya untuk menjabat Kabag umum dan perlengkapan di Setda Pidie, yang kebetulan jabatan itu masih kosong karena baru mengalami penggabungan tiga bagian (umum, perlengkapan, dan Kabag humas)," kata pria kelahiran Ulee Gle, 31 Desember 1963, itu.

Ia lantas menduduki posisi sebagai Kepala Bagian Umum Sekretaris Daerah Pidie sejak 2002 hingga 2007.

Ayah empat anak itu mengenang, awal tahun-tahun 2000-an, adalah tahun-tahun yang cukup berat baginya karena Aceh saat itu masih diisi dengan desing peluru konflik bersenjata. “Seluruh persoalan di Pidie masuk melalui bagian umum,” ujarnya.

Tak sedikit rekan-rekannya mengingatkan, untuk berhati-hati menduduki posisi tersebut.

“Tak sedikit juga yang menakut-nakuti saya. Saya bekerja professional. Pintu ruangan tidak pernah saya tutup dan terbuka bagi siapa saja,” ungkap lulusan Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Unsyiah pada 1999 itu.

Di tengah kondisi yang “panas” tersebut,  ia menjalani pekerjaannya seprofesional mungkin dan menjalin komunikasi yang baik dengan semua pemangku kepentingan. Bahkan untuk urusan terkecil sekalipun.

“Saya menjadi fasilitator dalam tiap pertemuan Bupati dengan Muspida. Misalnya, bupati saat itu pakai baju apa, datangnya jam berapa, akan saya komunikasikan dengan pihak terkait yang menunggunya datang,” kata Said Mulyadi lagi.

Baca juga:

Suara musik mulai berdentam dalam ruangan kami mengobrol. Said Mulyadi, dengan gaya bertutur yang santai, acap kali tersenyum, mengenang masa-masa ia merintis karirnya dari bawah.

Kali ini, ia mulai menceritakan bagaimana keterlibatannya yang intens dalam mempersiapkan pemekaran Pidie Jaya dari Pidie.

“Sebagai Kabag Umum, saya mempersiapkan dokumen dan keperluan-keperluan logistik lainnya,” kata dia, mulai bercerita tentang hal itu. [] Bersambung ke Bagian II.

Loading...