Pencurian, narkoba, dan prostitusi

[Bagian I] Oknum Polisi Penadah Barang Curian Sang Informan Narkoba

·
[Bagian I] Oknum Polisi Penadah Barang Curian Sang Informan Narkoba
Ririn Fransiska dicokok polisi atas dugaan tindak pidana perdagangan dan prostitusi anak di bawah umur di salah satu ruko di Kompleks Terminal Terpadu Kota Sigli. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Seorang terduga informan kasus narkoba Satresnarkoba Polres Pidie dibekuk polisi karena kasus pencurian kambing. Dari kasus tersebut terungkap bahwa seorang personel polisi pada satuan tersebut menampung barang hasil curian sang informan. Istri sang informan dicokok karena kasus prostitusi anak.

sinarpidie.co - Mexzal Habibi, 35 tahun, sedang berada di pekarangan rumah istrinya Ririn Fransisca, 38 tahun, di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, pada Rabu, 2 September 2020 pagi saat ia mendengar suara kambing yang berkeliaran SMP Negeri 1 Sigli mengembik. Satu hari sebelumnya, temannya—Riski Munandar, MN, dan Riski Kana—bermalam di rumah sang istri di Gampong Blang Paseh, yang letaknya di belakang SMP tersebut.

Pada sore hari itu, Irvandi tiba di rumah istri Mexzal. Pada Irvandi, Mexzal berkata, “Ada kambing di sekolah itu. Kerja terus. Setelah itu langsung disembelih di tempat.”

Setelah memerintahkan pencurian kambing pada irvandi, menggunakan sepeda motor Riski Munandar, Mexzal meninggalkan rumah istrinya di Gampong Blang Paseh menuju Gampong Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Gampong Blang Paseh.

Irvandi membangunkan Riski Munandar dan MN. Mereka siap beroperasi sore itu. Sesampainya mereka di belakang pustaka SMP Negeri 1 Sigli, mereka dapat melihat kambing yang menjadi target curian mereka. Ketiganya kembali ke rumah Ririn untuk membangunkan Riski Kana. Irvandi membuka gembok pagar SMPN 1 Sigli lalu masuk ke dalam perkarangan sekolah tersebut. Riski Munandar dan Riski Kana berjaga-jaga di halaman sekolah untuk memantau keadaan, sedangkan Irvandi dan MN menangkap kambing tersebut lalu menyembelih kambing malang itu di pekarangan sekolah.

Irvandi lantas pulang ke rumah Ririn yang hanya terpaut beberapa langkah kaki dari SMPN 1 Sigli. “Ada karung?” tanya Irvandi pada Ririn.

”Untuk apa?” Ririn Fransisca balik bertanya.

“Untuk memasukkan kambing yang sudah kami sembelih.”

“Tidak ada karung. Ambil saja mantel. Itu yang ada.”

Salah seorang warga Gampong Blang Paseh, Mardalena, yang curiga pada tindak-tanduk pemuda tersebut mendatangi SMPN 1 Sigli. Perempuan pemilik kambing yang mereka telah sembelih ini bertanya, "Sedang apa kalian di sini?”

Irvandi menjawab, “Kami sedang berak.”

Setelah tertangkap basah, keempat pemuda ini bersembunyi di rumah Ririn. Pada Pukul 18.00 WIB, warga Gampong Blang Paseh menyambangi rumah tersebut. Para pencuri ini bersembunyi di dalam lemari di kamar di rumah tersebut, dan ada yang pura-pura sakit. Mereka digebuk hingga babak belur lalu digelandang ke kantor polisi.

Sepulangnya Mexzal Habibi ke rumah sang istri di Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, Ririn berkata bahwa empat temannya telah diamankan di kantor polisi. Pada pukul 22.30 WIB, giliran Mexzal yang dicokok polisi.

***

Keuchik Gampong Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, Mahdi Muhammad, menerima panggilan telepon dari Bripka Afdarul Akbar, personel polisi pada Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Pidie, Kamis, 12 November 2020 malam. “Mereka berempat datang menemui saya di gampong malam Jumat. Saya membawa perangkat desa, Sekdes dan Bendahara Gampong Puuk, sebagai saksi pertemuan itu,” kata Mahdi Muhammad, Selasa, 17 November 2020.

Bripka Afdarul Akbar, kata Mahdi, menceritakan kronologis penampungan barang curian Mexzal Habibi. “Kata Mexzal Habibi, ada AC satu punya keluarga yang baru pindah rumah. Saya beli Rp 500 ribu,” kata Mahdi, menirukan ucapan Bripka Afdarul Akbar padanya.

Namun Mahdi bertanya-tanya dalam hati, mengapa AC tanpa mesin indoor yang dijual Mexzal pada personel polisi ini tak ia curigai sebagai AC curian. “Pak keuchik tolong saya. Cabut laporan itu, Pak Keuchik, dan buat perdamaian. Berapa kerugiannya, nanti saya suruh tukang untuk dipasang kembali,” kata Mahdi lagi, menirukan ucapan Bripka Afdarul Akbar padanya.

Transaksi tersebut, ujar Mahdi, berdasarkan keterangan sang polisi padanya, ditransfer melalui rekening bank. “Sementara yang antar AC, istri Mexzal, Ririn,” kata Mahdi.

Mahdi Muhammad menegaskan bahwa ditarik atau tidaknya laporan tersebut tergantung hasil musyarawarah gampong karena barang yang dicuri Mexzal Habibi dan ditampung Bripka Afdarul Akbar merupakan aset gampong.  “Lagi pula pencurian dan penadahan barang curian delik biasa, bukan delik aduan,” katanya.

Baca juga:

Mahdi Muhammad telah melayangkan laporan polisi atas kasus pencurian AC berkapasitas 2 PK merek Sharp yang dibeli dengan dana APBG seharga Rp 4 juta, terpal tenda 4 x 6 meter seharga Rp 3 juta, dan kipas angin dinding seharga Rp 700 ribu. “Saya dipanggil ke Polres Pidie setelah Mexzal Habibi ditangkap karena kasus pencurian kambing. Polisi bilang AC, kipas angin, dan terpal tenda gampong, Mexzal yang curi,” katanya, menjelaskan. “Terpal tenda dicuri pada bulan Mei, AC pada bulan Juni, dan kipas angin pada bulan Juli 2020.”

Beberapa waktu setelah Mexzal dicokok polisi, giliran istrinya, Ririn Fransisca, yang dibekuk polisi atas kasus prostitusi anak di salah satu ruko di Kompleks Terminal Kota Sigli, Rabu, 14 Oktober 2020. Kasus ini terungkap setelah warga Gampong Rheung-Rheung, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, mengrebek sebuah rumah kosong di gampong setempat, Kamis, 1 Oktober 2020 lalu. []

Berita ini pernah ditayangkan dengan judul "Oknum Satresnarkoba Polres Pidie Diduga Tampung AC Curian", Minggu, 15 November 2020.

Koreksi Bripka Afdarul Akbar bukan pelaku penadahan AC di Kantor Keuchik Gampong Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, melainkan pelaku penadahan AC curian yang dilakukan Mexzal Habibi di Gampong Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Pidie. Koreksi dilakukan Selasa, 16 Februari 2021 pukul 14.59 WIB.

Bersambung Bagian II

Loading...