Sejarah

[Bagian I] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda

·
[Bagian I] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda
Makam Teungku Abdullah di Tiro. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co—Pagar beton biru dengan teralis besi hitam itu terlihat jelas di pinggir Jalan Sigli-Garot, Gampong Pante Garot, Kecamatan Indra Jaya. Nama Teungku Abdullah di Tiro terpancang di atas pintu gerbang. Di dalamnya, pohon melinjo, kedondong, kelapa, dan pohon mangga tumbuh berdekatan. Sebuah balai kayu dipenuhi buah labu, bumbu-bumbu memasak, gelas, dan teko.

Zainal Abidin, 62 tahun, hendak ke sawah ketika sinarpidie.co menyambangi tempat tersebut. “Saya tinggal dulu sawah karena ini lebih penting,” kata dia, Minggu, 13 Agustus 2017.

Ia lalu menyunggingkan senyum seraya berkata, “Pas sekali, kebetulan ada kenduri. Ada orang berhajat ke sini. Dari Panton Labu.”

Zainal Abidin. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).
Zainal Abidin. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).


Tempat tersebut adalah makam Teungku Abdullah di Tiro, ayah kandung Teungku Muhammad Saman atau yang lebih dikenal sebagai Teungku Chik di Tiro.

Zainal Abidin berujar, sebelumnya makam tersebut dijaga oleh ayahnya, Teungku Amin Tiro. Selepas sang ayah meninggal dunia, makam tersebut dijaga oleh abang kandungnya, Muhammad Ali. Tatkala Muhammad Ali meninggal dunia sekitar dua tahun lalu, Zainal Abidin-lah yang kemudian mengurusi makam tersebut.

“Secara garis besar, kami hanya tahu bahwa kami keturunan Teungku Chik di Tiro. Tapi kalau disuruh jelaskan satu per satu, kami tidak tahu juga kalau tidak ada catatan tertulis ini,” ungkap Zainal Abidin, seraya menunjukkan sebuah kertas besar yang bertuliskan silsilah keluarga besar Teungku Chik di Tiro.

Kertas yang diketik dengan mesin tik itu masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan.

Pada bagian atas kertas tersebut tertulis: Silsilah Keturunan Alm. Tgk. Sjhik di Tiro. Pada bagian paling bawah kertas tersebut tertera sejumlah tanda tangan. Camat Indrapuri, Muhammad Jahja Amin; Bupati Aceh Besar, Ibrahim, dan Abdul Wahab Umar Tiro selaku pihak keluarga, yang mana pada keterangan di atas tanda tangan pada kertas tersebut tertulis, “di perbuat oleh Tjitjit (anak dari tjutju) alm. Tgk. Sjhik di Tiro”.

Silsilah Keturunan Alm. Tgk. Sjhik di Tiro. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).
Silsilah Keturunan Alm. Tgk. Sjhik di Tiro. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).


“Yang kami tahu hanya tentang kuburan Teungku Abdullah (Ayah Teungku Chik di Tiro-red). Dan kuburan ayah saya, Teungku Amin Tiro serta ibu saya,” kata Zainal Abidin.

Dikatakannya sambil menunjukkan nama ayahnya dan namanya sendiri di dalam kertas besar itu, ayahnya adalah keturunan ketiga dan “saya adalah keturunan yang keempat dari Teungku Chik di Tiro”.

Baca juga:

Sang ayah, Teungku Amin Tiro atau yang kemudian mengubah namanya agar tidak terendus pihak Pemerintah Hindia-Belanda menjadi Abdullah, adalah anak dari Teungku Mahyiddin. Teungku Mahyiddin sendiri merupakan salah satu putra Teungku Chik di Tiro.

“Ayah saya pernah memperlihatkan luka tembak di pahanya. Saat itu dia dalam pelukan ibunya, Cut Mirah Gambang,” kisah Zainal Abidin. []


Bersambung bagian II.

Loading...