Laporan Mendalam

[Bagian I] Mencari Hasan Ubit

·
[Bagian I] Mencari Hasan Ubit
Muhammad Hasan Ubit. Dok sinarpidie.co.

Irwandi menawarkan besi bekas seberat 100 kilogram, yang ia sebut berada di Paleue, Simpang Tiga, pada Hasan Ubit. Mereka meninggalkan Gampong Bentayan pada Sabtu, 2 Agustus 2008 sore dengan mobil milik Hasan Ubit. Sejak sore itu, Hasan Ubit, mobilnya, dan uang tunai yang ia bawa bersamanya, tak pernah kembali lagi ke Gampong Bentayan. Irwandi kini telah mendekam di balik jeruji besi karena pembunuhan berencana terhadap seorang perempuan pada 2015 silam.

sinarpidie.co — Muhammad Hasan Ubit, pria kelahiran Mesjid Bungie pada 1940, sedang memasukkan kaleng susu bekas ke dalam karung di halaman rumahnya di Gampong Bentayan, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, pada Sabtu, 2 Agustus 2008 sore.

Sehari-hari, Hasan Ubit bekerja sebagai penampung barang bekas. Di beberapa sudut halaman seluas 20 kali 25 meter persegi, besi tua, botol plastik bekas minuman, dan botol-botol kaca, menggunung.

Hasan selalu keluar rumah dengan menggendarai mobil Chevrolet pikap merah keluaran 1984 dengan nomor polisi BL 8126 K. Saat ia kembali ke rumah, bak terbuka mobil tersebut tak pernah kosong.

Saat itu, di rumah berkonstruksi kayu seukuran 5 kali 4,5 meter persegi, Hasan Ubit tinggal bersama istrinya, Jauhari dan enam anak mereka.

Sore itu, Irwandi, tetangga Hasan Ubit, yang juga buruh pada tempat daur ulang sampah plastik di Gampong Meunasah Jadan, Kecamatan Mutiara, menyambanginya ke rumah.

“Bang Hasan,” kata Irwandi, “apakah Abang ada kerjaan sekarang? Di Paleue (Simpang Tiga-red) ada besi 100 kilogram. Apakah Abang mau ambil?”

“Saya tidak punya uang,” kata Hasan Ubit.

“Tapi tadi siang saya lihat ada banyak besi yang Abang bawa pulang. Ada uang, Abang, kan?” tanya Irwandi lagi.

“Iya, ada. Tapi tidak banyak,” jawab Hasan Ubit.

Jauhari, 47 tahun, masih dapat mengingat detik-detik sebelum Hasan Ubit meninggalkan rumah bersama Irwandi dengan mengendarai mobil pikap Chevloret. Hasan Ubit keluar dengan kaus singlet putih, celana bahan, dan jam tangan. “Suami saya berkata pada saya bahwa dirinya akan pulang lagi nanti. Dia masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang lalu pergi bersama Irwandi dengan mobil,” kata Jauhari, Minggu, 3 Januari 2021.

Mobil tersebut melewati meunasah atau surau Gampong Bentayan, lalu melaju ke arah Gampong Gajah, Kecamatan Mutiara.

Pada Sabtu, 2 Agustus 2008 pukul 23.00 WIB, Irwandi kembali ke rumah tanpa Hasan Ubit. Jauhari mencecar sejumlah pertanyaan pada Irwandi. Kata Irwandi pada Jauhari, mobil suaminya itu rusak. “Dibawa ke mana mobil tersebut kemudian oleh Bang Hasan, saya tidak tahu lagi karena saya tidak lihat,” kata Jauhari, menirukan ucapan Irwandi padanya saat itu.

Hingga keesokan harinya, Hasan Ubit tak kunjung pulang ke rumah. Jauhari mulai menghubungi kerabat dekatnya untuk memberitahukan hal itu. Sekitar empat hari kemudian, karena Hasan Ubit belum juga pulang ke rumah, kerabatnya mendatangi rumah Irwandi, dan mendesak pria itu untuk menceritakan hal yang sebenarnya pada mereka. Sempat terjadi saling adu mulut di sana. Sekitar dua hari setelahnya, Irwandi tak lagi menampakkan batang hidungnya di Gampong Bentayan.

Ia mula-mula pergi ke Medan, Sumatera Utara. Istrinya, Nurbaiti, menyusulnya kemudian. Mereka lalu pergi ke Malaysia.

Jauhari pergi ke Mapolsek Kembang Tanjong untuk melaporkan suaminya yang hilang. Personel polisi di Mapolsek Kembang Tanjong, kata Jauhari, menanyakan padanya mengapa hal itu baru dilaporkan setelah beberapa hari Hasan Ubit hilang.

Abdul Manaf, yang saat itu menjabat sebagai Keuchik Gampong Bentayan, juga berada di Mapolsek Kembang Tanjong bersama Jauhari. Pada polisi, Abdul Manaf mengatakan bahwa Hasan Ubit tidak hilang, tapi Hasan telah kawin lain.

Jauhari membantah hal itu berkali-kali di kantor polisi saat itu, tapi kasus tersebut tak kunjung diproses.

Jauhari, 47 tahun. (sinarpidie.co/ Firdaus).

Mantan Keuchik Gampong Bentayan, yang kini menjabat sebagai salah satu anggota Tuha Peuet gampong tersebut, Abdul Manaf, 58 tahun, membantah bahwa dirinya pernah mengeluarkan pernyataan tersebut di hadapan polisi di Mapolsek Kembang Tanjong. “Saya tidak pernah mengatakan hal itu,” katanya, Minggu, 3 Januari 2021.

Kata Abdul Manaf lagi, saat itu dirinya juga tidak menggelar rapat di tingkat gampong untuk membahas tentang warganya yang hilang tersebut karena dirinya tidak menerima laporan dari keluarga korban.

Baca juga:

Sekitar satu tahun di Malaysia, Irwandi dan istrinya, Nurbaiti, kembali ke Bentayan. Belakangan Irwandi bekerja di tempat daur ulang plastik di Gampong Tibang, Kecamatan Pidie.

Pada Sabtu, 25 Juli 2015, Irwandi dan temannya, Saumi Ramadhan, warga Gampong Blang Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, membunuh Ani Danuaini. Keduanya divonis hukuman penjara seumur hidup.

Namun, kasus hilangnya Muhammad Hasan Ubit hingga kini belum terungkap. “Saya hanya ingin diberitahu di mana jasad suami saya dibuang atau dikubur agar saya bisa menguburkannya kembali dengan layak,” kata Jauhari. []

Bersambung Bagian II

Loading...