[Bagian I] Lenguhan Sapi Saree

·
[Bagian I] Lenguhan Sapi Saree
Kandang sapi induk di UPTD IBI Saree. (sinarpidie.co/Firdaus).

TERLETAK sekitar 71 km dari Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Inseminasi Buatan dan Inkubator (UPTD-IBI) Saree beroperasi di atas lahan seluas 19,5 hektare di Duson Suka Makmur, Gampong Suka Damai, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, dan memiliki 10 kandang sapi dengan pola koloni: kandang penggemukan, kandang bunting, kandang kelompok, kandang campuran, kandang pedet, dan kandang laktasi.

Dari letak gapura di pinggir Jalan Banda Aceh-Medan, lokasi peternakan yang bernauang di bawah Dinas Peternakan Aceh, itu, menjorok ke dalam sejauh 1 kilometer. Jalan menuju ke lokasi peternakan tersebut adalah jalan yang telah teraspal.

Dari 19,5 hektare lahan UPTD IBI ini, sembilan hektare di antaranya ditanami rumput untuk pakan sapi di sana: dua hektare padang pengembalaan dan tujuh hektare lahan rumput potong. Sisanya adalah mess, aula, asrama siswa, rumah dinas, serta kantor administrasi UPTD.

“Tidak mungkin sekitar 480 sapi di sini digembalakan di dalam kompleks UPTD ini karena syarat ternak gembala ialah 1 hektare padang pengembalaan untuk tujuh hingga delapan ekor sapi, dan ternak potong, satu hektare untuk 10 hingga 12 sapi,” kata Kepala UPTD IBI Saree, drh T Zulfadhli MSi, yang ditemui di UPTD tersebut, Rabu, 10 Juni 2020. “Selain itu, jika di lepas maka kompleks dan rumput-rumput di sini akan rusak.”

Sekitar 480 sapi di sana, setidaknya, kata dia, terdiri dari sapi simmental, limousin, brahman, PO atau peranakan ongole, sapi Aceh, dan sapi Bali. “Populasi sapi yang paling tinggi di sini adalah sapi PO,” sebut drh T Zulfadhli MSi.

Pola pemberian pakan sapi selama ini, kata dia, melalui rumput potong. Tenaga kerja di UPTD tersebut terdiri dari 28 tenaga, yakni empat tenaga kontrak, 11 ASN, dan 13 tenaga harian lepas (THL). "Selain rumput potong, juga diberi konsentrat. Tapi karena ada penyesuaian harga dalam pengadaan konsentrat maka pengadaan tersebut belum bisa terealisasi dalam beberapa bulan yang lalu," kata drh Zulfadhli MSi.

***

UCOK—bukan nama sebenarnya— sedang mengasah sabit pemotong rumput, Rabu, 10 Juni 2020 sore. Dia sudah empat tahun bekerja di UPTD IBI Saree sebagai tenaga harian lepas (THL). Setiap hari, Ucok bertugas membersihkan kandang-kandang sapi dan memberi makan sapi-sapi di sana.

"Kalau ada konsentrat, pagi kita kasih konsentrat, dan sore kita kasih makan rumput,” katanya. "Kalau tidak ada konsentrat, kita kasih makan rumput pagi dan sore."

Rumput-rumput gajah dipotong dengan mesin pemotong rumput yang kemudian dikumpulkan dalam trailer serta ditarik dengan traktor, sedangkan rumput gajah yang berukuran agak lebih besar dipotong dengan sabit. "Pukul 8 pagi hingga 12 siang kita ambil 4 trailer, dan pukul 2 siang hingga pukul 4 sore kita ambil 3 trailer," katanya. "Dulu ada 27 orang THL, tetapi semenjak Februari hanya 13 orang yang bekerja sebagai THL. Januari bahkan kami tidak kerja.”

Baca juga:

Tidak hanya jumlah THL yang berkurang, tetapi upah untuk THL di sana juga dipangkas. Pengurangan upah THL tersebut, katanya, dilakukan karena anggaran untuk UPTD-IBI disebut-sebut ikut berkurang tahun ini. "Upah sekarang dihitung per hari Rp 70 ribu dan dibayar setiap bulan. Dulu upah Rp 2,8 juta sebulan. Sekarang Rp 2,2 juta sebulan,” katanya.

Saat sapi-sapi di sana kekurangan pakan, Ucok melepaskan mereka ke padang pengembalaan, sama seperti yang dilakukan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah beberapa hari yang lalu: melepas sapi ke padang rumput.

"Sorenya kami masukan kembali. Saat sapi dilepas Pak Plt kemarin, sorenya kita masukan kembali ke kandang karena tidak mungkin sapi dilepas sampai malam hari. Bisa hilang,” ungkapnya.

Suara lenguhan sapi, yang terdengar nyaring, menggantung di udara. Ucok berkata, "Itu karena mereka lapar."

***

SEORANG petugas di sana, yang identitasnya enggan dituliskan, mengatakan jumlah sapi pada UPTD tersebut melonjak dalam jumlah tinggi pada 2016 hingga 2017 silam. Lonjakan tersebut diikuti dengan pembangunan kandang-kandang baru. “Banyak sapi yang baru lahir, yang rata-rata berumur dua bulan, mati karena tidak ada yang urus. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah sapi tetapi kenyataan yang terjadi bukannya bertambah, namun justru mati satu per satu,” kata dia.

Sapi Bali, kata dia, bahkan sebelum tiba ke lokasi tersebut banyak yang mati dalam perjalanan karena kekurangan pakan. “Mungkin karena jauh dari Jawa. Ketika awal-awal tiba di lokasi, per hari mati tiga hingga lima ekor,” sebutnya.

Kondisi ini diperparah dengan pemutusan hubungan kerja THL, dari 27 THL menjadi 13 THL. “Alasannya karena anggaran,” katanya.

Kepala UPTD IBI Saree, drh Zulfadhli MSi, mengatakan bahwa semenjak ia menjabat Kepala UPTD tersebut pada 9 September 2019, jumlah “sapi yang mati sekitar 30 ekor”.[]

Reporter: Candra Saymima, Firdaus.

Bersambung Bagian II

Loading...