[Bagian I] Kebun, Pupuk, dan Jalan Aspal Bupati Roni

·
[Bagian I] Kebun, Pupuk, dan Jalan Aspal Bupati Roni
Rencana pabrik pupuk Roni Ahmad di perbukitan di Gampong Kulee, Batee, gagal, karena lahan tersebut diklaim masuk ke dalam lahan PT. Samana Citra Agung. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Bupati Pidie Roni Ahmad semula hendak membangun pabrik pupuk di Gampong Kulee, Kecamatan Batee. Karena diganjal PT Samana Citra Agung, pria yang akrab disapa Abusyik ini memindahkan lokasi pabrik pupuk tersebut ke Gampong Kambuek Paya Pi, Kecamatan Padang Tiji.

sinarpidie.co —Luas kebun milik Bupati Pidie Roni Ahmad di samping Waduk Lhok Kumude, perbatasan antara Gampong Alue Lada, Kecamatan Batee, dan Gampong Kupula Tanjong, Kecamatan Padang Tiji, sekitar delapan hektare. Kini, di dalamnya terdapat kandang sapi dan pohon-pohon sentang.

Pada tahun 2019, Pemkab Pidie, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie, menggelontarkan anggaran Rp 600 juta, mula-mula untuk membangun jalan aspal di Waduk Lhok Seumani, tapi belakangan jalan yang dikerjakan oleh CV Firona Jaya dibangun di Waduk Lhok Keumude, ke arah kebun Bupati Pidie, Roni Ahmad, itu. Tak ada satu pun rumah warga di sepanjang jalan tersebut.

Ilyas Amin, 57 tahun, Tuha Peut Gampong Neuheun, Kecamatan Batee, yang juga mantan Panglima Laot Pidie, mengatakan kebanyakan masyarakat Gampong Neuheun kesulitan memasarkan ikan hasil tangkapan mereka karena ruas-ruas jalan di sana rusak parah. “Selain itu, jalan di gampong kami banyak dilintasi anak sekolah, pedagang dan lain-lain. Tapi jalan yang dibangun Pemkab Pidie di daerah yang tak ada orang yang tinggal. Hanya sebagai jalan untuk sapi,” kata Ilyas Amin.

Sebelum dimiliki Bupati Pidie Roni Ahmad pada 2010 silam, lahan tersebut digarap oleh Abdullah dan Ahmad—kini almarhum.

“Mau diurus sertifikat tanah itu ke BPN, tapi kami sanggah karena lahan tersebut masuk ke dalam kawasan Waduk Lhok Keumude di mana airnya dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian masyarakat banyak. Jika dikeluarkan sertifikat, kami takut pemegang sertifikat akan mengubah bentang alam sehingga menganggu aliran air yang bersumber dari waduk,” kata salah seorang warga Gampong Alue Lada, Kecamatan Batee, yang identitasnya enggan dituliskan pekan lalu.

Pada 2017 silam, tujuh truk yang mengangkut batu-bata parkir di Lhok Kumude, Kecamatan Batee, Pidie. Batu-bata tersebut kemudian dibawa ke perbukitan di Gampong Kulee, Batee, yang jauhnya sekitar tujuh kilometer ke arah utara. “Rencananya akan dibangun perusahaan pupuk Abusyik,” kata M Nasir, warga Gampong Kulee, Kecamatan Batee, pekan lalu.

Namun rencana Abusyik tersebut terganjal oleh PT Samana Citra Agung yang menegaskan bahwa lahan tersebut merupakan lahan milik perusahaan yang akan mendirikan pabrik semen bersama PT Semen Indonesia (PT Semen Indonesia Aceh) itu di sana. “Abusyik membayar ganti rugi pada Kasem Ubit dan almarhuh Puteh Yahya,” kata M Nasir lagi.

Kebun yang diganti rugi Abusyik pada Kasem Ubit dan Puteh Yahya luasnya sekitar dua hektare.

Belakangan, Bupati Pidie Roni Ahmad mencari lokasi lain untuk mendirikan pabrik pupuknya. Pada 29 Juli 2019, Bupati Roni membeli 1,2 hektare lahan di Gampong Kambuek Paya Pi, Kecamatan Padang Tiji, dari Fatimah, warga gampong setempat seharga Rp 25 juta per naleh (satu hektare terdiri dari empat naleh). “Atas nama Muhammad Rizal, anak Abusyik,” kata Keuchik Gampong Paya Kambuek Paya Pi, Kecamatan Padang Tiji, Sayuti. “Saat tanah itu dibeli pada Fatimah, tanah itu belum bersertifikat. Saat ini, sertifikat sedang diurus.”

Baca juga:

Rencana Abusyik untuk mendirikan pabrik pupuk terwujud pada 5 Agustus 2019. Selaku Bupati Pidie, ia menerbitkan izin lingkungan melalui keputusan nomor 660/505/KEP.19/2019 untuk industri terpadu (produksi pupuk, pembasmi hama, pakan, obat tradisional, dan CaO/CaCO3) pada PT Blang Thoei Luah di Gampong Kambuek Payapi Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, Pidie.

Pemkab Pidie, melalui Dinas PUPR Pidie, juga membangun jalan beraspal Kumbang - Kunyet Kecamatan Mila/Padang Tiji sepanjang tiga kilometer dengan lebar sekira lima meter. Jalan itu dibangun dari Gampong Kumbang, Kecamatan Mila hingga ke perbatasan Gampong Seunadue Kunyet, Kecamatan Padang Tiji. Sama halnya dengan jalan aspal di Batee, tak ada satu pun rumah warga di sepanjang jalan yang dibangun oleh CV Tanoh Kuta dengan anggaran Rp 3,3 miliar itu. "Jalan itu tidak menjadi prioritas untuk dibangun sebenarnya. Yang mendesak adalah jalan ke kawasan pemukiman penduduk di Kunyet," kata M Nur Alibasyah, 75 tahun, warga Gampong Dayah Tanoh, Kecamatan Padang Tiji.  []

Reporter: Candra Saymima dan Diky Zulkarnen

Bersambung Bagian II

Loading...