Figur

[Bagian I] Jafar Siddiq Hamzah

·
[Bagian I] Jafar Siddiq Hamzah
Jafar Siddiq Hamzah. Sumber foto: etan.org.

sinarpidie.co- JAFAR SIDDIQ HAMZAH, 35 tahun, mengabarkan pada Seaki Natsuko bahwa ia akan menjemput temannya itu di Bandara Polonia Medan, Sumatera Utara. Natsuko berangkat dari Jakarta pada Sabtu, 5 Agustus 2000, pukul 08.20 WIB dan tiba di Bandara Polonia Medan pada pukul 10.20 WIB.

“Tapi Jafar tidak muncul. Saya pikir Jafar punya urusan lain,” kata Natsuko.

Kira-kira pada pukul 01.00 dini hari, Natsuko menerima telepon dari adik Jafar Siddiq Hamzah, Syarifuddin.

“Apa Bang Jafar dengan Natsuko?”

“Tidak,” jawab Natsuko.

Saat itu, Natsuko dan keluarga Jafar menyadari bahwa Jafar telah hilang. Kendati demikian, mereka belum sampai pada kesimpulan bahwa Jafar diculik. “Barangkali kecelakaan. Jadi, keesokan harinya, pada 6 Agustus,  keluarga mencari Jafar keliling rumah sakit," tutur Natsuko.

Karena pencarian Minggu, 6 Agustus 2000, tak membuahkan hasil, keluarga Jafar Siddiq lantas menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan.

Pada Senin, 7 Agustus 2000, Natsuko, pengacara LBH Medan, Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), dan keluarga Jafar Siddiq Hamzah menyambangi Polda Sumatera Utara (Sumut), lalu pada Rabu, 9 Agustus 2000, keluarga Jafar Siddiq Hamzah, didampingi pengacara dari LBH Medan, advokat IKADIN, Forum Aceh Dirantau (FAD), Yayasan Putra Dewantara (YAPDA), LBH APIK, dan Network for Indonesian Democracy, Japan (NINDJA), menyambangi Kodam Bukit Barisan.

“Jafar membawa paspor. Umurnya pun sudah 35 tahun. Jadi mungkin dia sedang melancong,” kata Natsuko, menirukan ucapan salah seorang polisi di Polda Sumut pada mereka saat itu.

Kata Natsuko lagi, Jafar kemungkinan besar diculik di Jalan Ahmad Yani, Medan. “Setelah itu, hilang jejak,” tuturnya.

Ketika saya bertanya, siapa pembunuh, motif, dan dalang di balik pembunuhan Jafar, Natsuko menjawab, “Tidak ada alasan lain, ini bukan kriminal biasa.”

Saya bertemu dan mewawancarai Natsuko pada Agustus 2015 saat ia menjadi salah seorang pembicara dalam kegiatan Aceh International Peace Symposium, yang digelar oleh Aceh Peace Forum di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Usai bercakap-cakap dengannya, Natsuko menyerahkan sebuah kartu nama pada saya. Di kartu itu tertulis nama sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tempat di mana ia bergelut, yakni Network for Indonesian Democracy, Japan (Nindja).

Pertemuan dan perkenalan antara Jafar dan Natsuko bermula saat perempuan itu diundang pada sebuah kegiatan: Support Committee for Human Rights in Aceh atau SCHRA, yang diadakan di Unsyiah, pada Januari 2000. “Pada Juni 2000, saya undang Jafar ke Tokyo. Dia memberi ceramah,” tutur perempuan yang kini menjadi salah seorang professor di Nagoya Gakuin University, Jepang, itu.

Kelak, pada Minggu, 3 September 2000 pagi, mayat Jafar ditemukan di pinggir jalan Merek, Sidikalang, di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat, mayat Jafar ditemukan bersama empat mayat lainnya. “Ditemukannya tanda-tanda luka bekas benda tajam dan tumpul pada sekujur tubuh korban. Hal ini menunjukan korban telah melalui proses penyiksaan terlebih dahulu sebelum akhirnya meninggal, apalagi menurut keterangan dokter pelaku yang diduga melakukan pembunuhan tersebut lebih dari satu orang. Peletakan mayat di pinggir jalan tersebut menunjukkan bahwa hal ini sengaja dilakukan sebagai suatu bentuk teror sekaligus peringatan terhadap aktivis lain yang memperjuangkan penyelesaian persoalan Aceh,” demikian dikutip dari siaran pers KontraS No: 44/SP-KontraS/VIII/2000 tentang Penemuan  Lima Mayat di Sumatera Utara.

Jafar Siddiq Hamzah merupakan pengacara cum aktivis hak asasi manusia (HAM). Ia adalah pendiri, sekaligus Ketua International Forum for Aceh (IFA).

PADA AWAL SEPTEMBER 1999, Lilian Fan melihat selembar poster yang memuat informasi akan digelarnya seminar bertajuk Indonesia After East Timor di Universitas New School, New York, Amerika Serikat.

Seminar itu kelak membawanya masuk ke dalam konflik berdarah di Aceh.

“Kakak sangat tertarik dengan nama-nama pembicara pada seminar tersebut. Yang pertama ada Sidney Jones dari Human Right Watch; Prof Abdul Malik, orang Indonesia yang menjadi dosen New School. Yang ketiga adalah Jafar Siddiq Hamzah, chairman of IFA. Sebagai orang Malaysia, kakak tahu oh itu Aceh. Kakak tahu ada masalah di sana, tapi kakak tidak tahu apa masalah spesifik di sana. Secara detail kakak tidak tahu,” kata Lilian Fan.

Sebelum pintu kereta api menuju ke Grand Central, tak jauh dari tempat Lilian Fan kala itu tinggal di Amerika, tertutup, ia melihat seorang lelaki muncul lalu duduk di sebelahnya.

Lelaki itu memakai jaket dan menyandang tas ransel. Ia membawa bundelan kertas dan buku-buku. “Bundelan print kertas tentang Pemilu di Indonesia, waktu itu tentang Megawati, sangat mencolok. Saya sadar oh ini orang Indonesia. Saya mulai bicara.”

“Apakah bapak dari Indonesia?”  tanya Lilian dalam bahasa Melayu.

Lelaki itu menjawab lalu obrolan mereka pun menjadi panjang lebar. Saat kereta api akan sampai ke Grand Central, lelaki itu memberikan kartu nama.

“Dan, Jafar Siddiq Hamzah. Kakak kaget. Memang saya mau ke acara, mau ikut seminar,” kata Lilian. “Bang Jafar tinggal di Queens. Seharusnya, Bang Jafar naik kereta api sekali lagi dari Grand Central ke Queens. Tapi kami memutuskan untuk keluar dari Grand Central dan mencari cafee di dekat Grand Central."

Jafar bercerita tentang mengapa ia harus meninggalkan kampungnya di Aceh Utara dan melanjutkan S2 di New School Amerika Serikat pada Lilian. Jafar merupakan sarjana hukum pada Universitas Amir Hamzah, Medan, Sumatera Utara. Ia lulus pada 1991. Ia pernah bekerja pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan. Pada 1998, ia melanjutkan S-2 di Fakultas Ilmu Politik Universitas New School, Amerika.

“Jadi waktu itu saya merasa situasi di Aceh sangat parah dan sangat tertutup, bahkan mungkin jaringan HAM di Asia Tenggara juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Aceh saat itu. Pada malam itu, saya mengatakan pada Bang Jafar bahwa saya akan coba membantu. Tapi saya tidak tahu bagaimana bisa bantu,” tutur Lilian.

“Lili bisa buka website IFA,” kata Jafar padanya.

Kemudian, usai seminar tersebut berlangsung, Lilian dikenalkan oleh Jafar dengan sejumlah diaspora Aceh. Mereka berdiskusi tentang adanya gerakan mahasiswa di Aceh yang gencar-gencarnya mengangkat isu pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh.

“Dan mereka sedang menggerakkan protes yang prodemokrasi, pro-peace, dan Referendum. Dari sisi mahasiswa dan kebangkitan pemuda ada titik temu. Pada satu sisi IFA bisa jalan dengan pendokumentasian HAM. Di sisi lain, ada gerakan pemuda. Itu yang harus didukung. Malam itu kami setuju untuk membentuk Student Coalition for Aceh. Sejak saat itu, saya dan Bang Jafar dekat,” katanya.

Saya mewawancarai Lilian pada Desember 2014 silam di sebuah kedai kopi di Banda Aceh. Saat ini, Lilian menjabat sebagai Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe, sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan.

DR SURAIYA IT MA menyambut saya di ruang kerjanya di Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh di Kompleks Kantor Gubernur Aceh pada pertengahan 2015 silam.

“Di awal-awal tahun 1998, Jafar Siddiq sudah di New York. Saya berada di Philadelphia, Pennsylvania. Pertemuan rutin antar orang Aceh dan antar mahasiswa Aceh sering digelar saat itu. Kita duduk sama-sama untuk mendirikan IFA. Jafar Siddiq Hamzah sebagai ketua, saya sebagai wakil ketua, sekretaris jenderal Iskandar Bakri. Saat Iskandar kerja di World Bank, ia digantikan oleh Rahmad Daud,” kata Suraiya. “Ada komitmen saat itu, kasus Aceh harus terus kita bawa ke dunia internasional, karena kalau tidak, tidak akan pernah selesai.” []

Bersambung Bagian II.

Catatan: Paragraf awal artikel ini telah mengalami sejumlah penyuntingan karena terdapat beberapa informasi yang, setelah diverifikasi ulang, belakangan diketahui keliru.

Loading...