Bagaimana Bukit-Bukit yang Berstatus Tanah Negara bisa Dijual untuk Pabrik Semen?

·
Bagaimana Bukit-Bukit yang Berstatus Tanah Negara bisa Dijual untuk Pabrik Semen?
Pegunungan di Gampong Kulee, Kecamatan Batee, Pidie, yang dijual pada PT Mas Putih Belitung 137 hektare. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

PT Mas Putih Belitung mentransfer uang sekitar Rp 6,9 miliar ke rekening pribadi mantan Keuchik Gampong Kareung, Dasri Hamzah. Uang tersebut kemudian dibagikan pada 327 KK di gampong setempat senilai Rp 14,5 juta per KK. Sisa Rp 2,2 miliar mengalir untuk siapa saja?


sinarpidie.co — 327 KK di Gampong Kareung, Kecamatan Batee, Pidie, menerima uang Rp 14,5 juta dari hasil penjualan 217 hektare pegunungan pada PT Mas Putih Belitung pada 2017 silam.

Per hektare, pegunungan di Gampong Kareung dijual senilai Rp 32 juta. PT Mas Putih Belitung mentransfer uang sekitar Rp 6,9 miliar ke rekening pribadi mantan Keuchik Gampong Kareung, Dasri Hamzah.

"Penjualan bukit-bukit ini terjadi setelah 99 persen masyarakat gampong menyatakan setuju,” kata Dasri Hamzah, Kamis, 4 Februari 2021.

Proses musyawarah tersebut, kata Dasri, berlangsung sejak 2016 hingga 2017 di meunasah atau surau gampong setempat.

217 hektare dikali Rp 32 juta: Rp 6,9 miliar. Rp 6,9 miliar dibagi 327 KK seharusnya menjadi: Rp 21,2 juta. Ditanyai sinarpidie.co, mengapa setiap KK tidak memperoleh Rp 21,2 juta tapi Rp 14,5 juta, Dasri menjawab, Rp 2,2 miliar sisa penjualan pegunungan tersebut untuk “pemuda, keamanan dan tim yang mengurus penjualan tanah pegunungan tersebut”.

137 hektare di Gampong Kulee

450 KK di Gampong Kulee, Kecamatan Batee, Pidie, mendapatkan Rp 8,5 juta per KK dari hasil penjualan 120 hektare pegunungan di gampong setempat pada PT Mas Putih Belitung pada 2016 silam: Rp 3,6 miliar.

"Harga satu hektare lahan dijual Rp 30 juta,” kata mantan Keuchik Gampong Kulee, Muhammad, Kamis, 4 Februari 2021. “Seharusnya Rp 8 juta per KK. Rp 500 ribu lagi kebijakan perusahaan setelah warga bernegosiasi. Rp 500 ribu tambahan tersebut tidak tertera di akta jual beli.”

17 hektare pengunungan di gampong yang sama, yang juga dijual pada PT Mas Putih Belitung, dengan harga Rp 25 juta per hektare. “Jadi luas lahan yang dibeli oleh perusahaan ini 137 hektare di Gampong Kulee,” katanya.

Muhammad menceritakan, awalnya PT Mas Putih Belitung melakukan musyawarah dengan masyarakat Kulee di meunasah atau surau gampong setempat.

"Pihak perusahaan sebelumnya telah datang ke BPN untuk memetakan perbukitan yang belum masuk ke dalam lahan milik PT Semen Indonesia Aceh atau PT SIA,” katanya.

Dikarenakan desakan masyarakat yang hendak menjual pegunungan tersebut, kata Muhammad, dirinya tidak bisa menahan keinginan tersebut. "Untuk pembayaran, perusahaan yang membayar langsung pada masyarakat di meunasah,” tuturnya. “Di akta jual beli, saya sebagai yang mengetahui saja. Bukan sebagai penjual,” tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan, sinarpidie.co belum memperoleh konfirmasi dari Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pidie, Saiful Azhari, terkait praktik jual-beli tanah Negara tersebut. Sejumlah pertanyaan yang telah dikirimkan di antaranya, progress penerbitan sertifikat HGU dan HBG PT Mas Putih Belitung, status kawasan yang dijual, dan adakah konsesi lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Aceh Nusa Indra Puri di dalamnya. “Saya sedang penyuluhan di Geumpang,” jawab Saiful singkat, Kamis, 4 Februari 2021.

Dalam proses pengurusan izin

Diberitakan sebelumnya, PT Mas Putih Belitung saat ini sedang melengkapi dokumen-dokumen perizinan eksplorasi tambang dan industri semen di Gampong Kulee dan Gampong Kareung, Kecamatan Batee, Pidie. “Tertahan karena belum selesai sertifikat,” kata Sekretaris Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pidie, Edy Saputra SIP MM, Rabu, 3 Februari 2021.

PT Mas Putih Belitung setidaknya telah mengantongi akta jual beli 354 hektare lahan pegunungan atau perbukitan di dua gampong di Kecamatan Batee.

Perusahaan ini saat ini juga sedang mengajukan berkas permohonan Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) untuk pertambangan dan industri semen di dua gampong tersebut.  “Untuk pengukuran kita sedang mengajukan permohonan ke kantor BPN,” kata Yasin, perwakilan PT Mas Putih Belitung, Rabu, 3 Februari 2021. []

Loading...