Kuliner

Awak Awai, Legenda Mie Kocok di Kota Sigli

·
Awak Awai, Legenda Mie Kocok di Kota Sigli
Zamzami, 59 tahun (kanan), pemilik Mie Kocok Awak Awai di Jalan Iskandar Muda Nomor 54 Kota Sigli. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Berbekal pengalaman meracik mie kocok selama beberapa dekade, Zamzami telah mengukuhkan Mie Kocok Awak Awai sebagai mie kocok dengan kuah terlezat di Kota Sigli sejak 1990-an. Hingga kini, belum ada yang mampu menggeser reputasi tersebut.


sinarpidie.co— Seorang pria yang mengenakan kemeja abu-abu motif kotak-kotak meraih segenggam mie kuning atau mie kilo yang teronggok di salah satu sudut rak kaca selebar satu meter di sebuah ruko yang bersebelahan dengan Gapura Gampong Kramat Dalam di Jalan Iskandar Muda Nomor 54 Kota Sigli.

Di tengah deru kendaraan yang lalu-lalang di jalan pada Minggu, 31 Januari 2021 siang, pria itu mengerat mie kuning yang ia genggam menggunakan jari-jarinya yang lincah. Mie tersebut kemudian ia masukan ke dalam sebuah centong berbentuk tabung yang terbuat dari alumanium. Terdapat lubang di sisi kiri dan kanan serta di alas centong tersebut.

Setelah memasukkan mie kuning ke dalam centong, pria itu kemudian menaruh segenggam taoge ke dalam centong yang sama. Centong yang berisikan mie dan taoge lalu ditindih dengan centong lainnya. Ia mengulangi hal yang sama hingga delapan centong telah saling tertindih.

Sejurus kemudian, pria itu memasukkan delapan centong ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari alumunium berbentuk tabung dengan diameter 20 sentimer dan setinggi 30 sentimeter, yang berisikan air panas, selama 2-3 menit.

Pria itu Maskur, 41 tahun, warga Gampong Meunasah Peukan, Kecamatan Pidie, Pidie. Maskur telah melakoni pekerjaan tersebut sejak 22 tahun silam, tepatnya pada 1999. Saat itu, ia masih berumur 19 tahun.

Setelah mie dan taoge direbus selama dua menit, delapan centong tersebut kemudian diangkat dan diletakkan di salah satu sudut rak. "Berapa bungkus, Bang?” tanya Maskur pada pembeli, yang berdiri di dekat rak mie.

Begitu mendapat jawaban dari pembeli, Maskur meletakkan empat piring di atas rak alumanium tersebut. Di atas empat piring tersebut, Maskur meletakkan kertas berwarna cokelat dan daun pisang.

Mie dan taoge yang tadinya berada di dalam centong, dia tumpahkan ke setiap empat piring tersebut. Maskur mengambil bawang goreng lalu menaburnya di atas mie tersebut. Perkedel bundar, udang goreng yang telah dipotong kecil-kecil, daun seledri yang telah diiris, dan kerupuk melinjo, juga bercampur bersama bawang goreng.

 Mie kocok Awak Awai dikenal dengan kuahnya yang lezat. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Ia  momotong satu telur rebus yang telah dikupas menggunakan sebuah benang. Telur itu dibelah menjadi empat bagian. Setiap potongan telur juga diletakkan di atas mie tersebut. Maskur kemudian membungkus setiap mie dengan cekatan.

Maskur tak bekerja sendiri siang itu. Bakhtiar, 27 tahun, yang berdiri di sebelahnya, bertugas membungkus kuah kental ke dalam plastik bening, setelah sebelumnya Maskur menakar kuah untuk setiap porsi dan terlebih dahulu membubuhi kecap asin ke dalamnya.

Selain kuah, sambal yang berwarna hijau, yang dikemas dalam plastik seukuran kelereng, juga dibungkus terpisah dengan mie.

Jika Anda berasal dari Kota Sigli, Mie Kocok Awak Awai tentu tak asing di telinga Anda. Usaha mie kocok ini dimiliki oleh Zamzami, 59 tahun, warga Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

Selama beberapa dekade, sejak 1978, saat masih berusia 16 tahun, Zamzami juga melakoni apa yang saat ini dilakoni Maskur. Ayah delapan anak ini semula bekerja pada Haji Yakob—kini almarhum— sebagai pembungkus mie kocok.

“Saat itu, namanya Mie Kocok Sehati. Letaknya di ruko keempat sebelah kanan dari ruko ini,” kata Zamzami.

Kata pria berkulit gelap dengan tinggi semampai ini, pada tahun 1985, ia mengambil alih usaha Haji Yakob. "Pada tahun itu almarhum memilih untuk membuka usaha mie kocok di Bereunuen. Usaha di sini saya ambil alih dengan membelinya," kenangnya.  

Per porsi, mie kocok Awak Awai dibandrol Rp 12 ribu. (sinarpidie.co/Candra Saymima)

Setelah tujuh tahun menjalankan usaha mie kocok di ruko yang sebelumnya ditempati Haji Yakob, Zamzami memindahkan usaha mie kocoknya ke ruko yang saat ini ia tempati sejak 1992. Masih di deretan yang sama. Sejak saat itu, plang nama Mie Kocok Awak Awai terpancang di sana. "Ada enam pekerja yang membantu saya berjualan,” tuturnya.

Baca juga:

Setiap harinya, dia menghabiskan 30 kilogram mie kuning, 100 butir telur, 20 kilogram kentang, 8 kilogram udang, 1 kilogram daun seledri, dan dua kilogram emping melinjo. "Untuk bawang merah 20 kilogram dalam seminggu,” sebutnya.

Andalan mie kocok ini terletak pada kuahnya. “Itu adalah rahasia perusahaan. Yang pasti, komposisi kuah terdiri dari udang, bawang putih, bawang merah, lengkuas, kemiri, buah ketapang, dan beberapa bumbu lainnya yang tidak bisa saya sebutkan,” kata dia dengan menyunggingkan senyum.

Maskur (kanan) telah melakoni pekerjaan sebagai pembungkus mie kocok Awak Awai sejak 22 tahun silam, tepatnya pada 1999. Saat itu, ia masih berumur 19 tahun. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Omzetnya dalam sehari mencapai Rp 3,5  hingga Rp 5 juta. Per porsi, mie kocok Awak Awai dijual Rp 12 ribu.

Muhajir, warga Gampong Trieng Paloh, Kecamatan Padang Tiji, telah menjadi pelanggan Mie Kocok Awak Awai selama puluhan tahun. "Saya mencicipi mie kocok di sini semenjak saya masih duduk di bangku SMA di tahun 90-an. Sekarang saya sudah punya dua anak. Saya selalu mengajak keluarga makan di sini saat hari libur dan akhir pekan,” kata PNS di RSUD Tengku Chik di Tiro ini, yang ditemui di Kedai Mie Kocok Awak Awai. “Yang membuat mie kocok ini berbeda dengan mie kocok di tempat lainnya adalah kuahnya.” []

Loading...