Klik Tambang

Rusak pemandangan dan tata ruang

Asal Kebut Proyek Pantai Pelangi  

·
Asal Kebut Proyek Pantai Pelangi  
Kondisi pergola di Pantai Pelangi, di Kota Sigli, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Nafsu kuat tenaga kurang, tampaknya tamsil yang tepat untuk menggambarkan cara Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Pidie memuntahkan anggaran untuk pengembangan kawasan wisata pantai pelangi. Betapa tidak, anggaran sebesar Rp 3,7 miliar selama dua tahun terakhir dihamburkan hanya sekadar gagah-gagahan tapi sama sekali tak dimanfaatkan dan bermanfaat bagi publik, terbengkalai dan justru merusak tata-ruang.

Beberapa items pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan dalam dua tahun belakangan, seperti pergola tampak tidak bisa dimanfaatkan dan bahkan terbengkalai.

Salah seorang warga yang berjualan di pantai pelangi mengatakan, bangunan seperti pergola tersebut tak bisa dimanfaatkan. “Mau dimanfaatkan untuk apa kami tidak tahu. Selain itu, beberapa lampu penerangan juga tidak hidup lagi, menurut informasi baterainya sudah dicuri orang,” kata warga yang enggan identitasnya dituliskan, itu, Rabu, 20 November 2019.

Kabid Pariwisata pada Disparbudpora Pidie, Syammi Abdullah SP mengatakan, pada tahun 2019, anggaran yang digelontorkan untuk pengembangan pantai pelangi mencapai 2,4 miliar. Sedangkan pada tahun lalu, kata dia, anggaran yang digelontorkan untuk pengembangan kawasan wisata tersebut mencapai Rp 1,3 miliar.

“Anggaran pengembangan pantai pelangi tahun ini untuk dibangun kios kuliner 12 unit, kios cenderamata 12 unit, dan lampu penerangan tenaga surya sekitar 15 unit. Kemudian, gazebo, pergola itu sudah tidak ingat lagi saya berapa unit,” kata Syammi pada sinarpidie.co Rabu, 20 November 2019.

Syami menyalahkan warga dan pedagang yang tak memanfaatkan fasilitas tersebut. “Seharusnya para penjual yang manfaatkan, tapi itu belum dilakukan sehingga tampak tak terawat dan terbengkalai. Soal pemanfaatan pergola tersebut itu belum dipikirkan. Beberapa items pembangunan saat ini yang sedang dipacu agar selesai sesuai kontrak hingga 15 Desember 2019,” katanya.

Adapun sejumlah pekerjaan konstruksi tahun anggaran 2019 yang belum selesai dikerjakan hingga memasuki akhir November 2019 adalah kios kuliner, kios cenderamata, gazebo, dan pergola.

Penelusuran sinarpidie.co, sejumlah pekerjaan konstruksi di mana Disparbudpora Pidie bertindak sebagai satuan kerja (Satker) tahun anggaran 2019 di antaranya lanjutan pembangunan gapura identitas pantai pelangi  Rp 93.000.000, pemasangan lampu taman di kawasan objek wisata pantai pelangi Rp 719. 878.800, pembuatan pergola di objek wisata pantai pelangi Rp 403.839.062, pembangunan gazebo di kawasan objek wisata pantai pelangi Rp 540.000.000, pembangunan pusat jajanan kuliner di kawasan objek wisata pantai pelangi Rp 415.557.116, dan pembangunan kios cenderamata di kawasan objek wisata pantai pelangi Rp 390.515.076.

Pemerhati sosial di Pidie, Teuku Musliadi SH, mengatakan, proyek-proyek tersebut tak didasari perencanaan yang matang. "Seharusnya pemerintah juga membangun musala di kawasan Pantai Pelangi, tapi hari ini pemerintah membangun pergola. Tahun lalu juga membangun pergola, sedangkan pergola yang dibangun tahun lalu terbengkalai dan tidak bermanfaat. Jadi menurut saya perencanaan pemerintah dalam pembangunan kawasan wisata itu harus matang, jangan asal-asal,” kata Musliadi Rabu, 20 November 2019.

Umumnya, proyek-proyek Disparbudpora Pidie itu dibangun di sempadan pantai atau daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Dalam Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pidie Tahun 2014-2034  disebutkan, di Kecamatan Kota Sigli, luas sempadan pantai 25,47 hektare, yang meliputi Gampong Pasi Peukan Baro, Pasi Rawa, Kuala Pidie, Blang Paseh, Benteng. Untuk diketahui, sempadan pantai merupakan kawasan perlindungan. []

Komentar

Loading...