Banner Stunting

Asal Kebut Pembangunan Jembatan Gigieng

·
Asal Kebut Pembangunan Jembatan Gigieng
Warga yang melintasi Jembatan Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Rabu, 5 April 2020 sore. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Jembatan ini semula direncanakan dengan panjang bentang jembatan 28 meter dan berkonstruksi beton pra cetak. Saat dikerjakan pada tahap I untuk pembangunan abutmen, terdapat perubahan desain tanpa disertai review desain jembatan, yakni menggeser lokasi abutmen sehingga bentang jembatan menjadi 36 meter. Pada pengerjaan tahap II, struktur jembatan menggunakan rangka baja sepanjang 36 meter. Pada tahap III, meski girder yang digunakan pada jembatan tersebut saat pengerjaan tahap II tidak mampu menahan beban yang bekerja, termasuk tidak mampu menahan beban mati sehingga terjadi lendutan yang besar karena beban mati dan terjadi overstress pada girder, pekerjaan fisik tetap dikebut.

sinarpidie.co— Sebuah mobil bak terbuka melintas di Jembatan Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Rabu, 5 April 2020 sore. Mobil tersebut kerap melintasi jembatan tersebut setiap harinya untuk membawa segala keperluan nelayan di sana, seperti bahan bakar, es, dan mengangkut ikan hasil tangkapan nelayan.

Syarifuddin, 46 tahun, warga Gampong Peukan Tuha, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, adalah pemilik, sekaligus sopir mobil tersebut. “Sekitar 30 kali bolak-balik dalam sehari," katanya.

Tiga penumpang dalam becak motor yang hendak melintas di jembatan itu terpaksa turun karena tanjakan pada jembatan penuh dengan kerikil sehingga agak sulit mengendalikan kendaraan dengan beban yang berat.

Syarifuddin mengaku prihatin dengan kondisi jembatan tersebut. Karena tidak sempurna dikerjakan, menurutnya, beberapa kendaraan yang melintasi jembatan itu acapkali mengalami kecelakaan.

“Kecelakaan itu terjadi karena turunan jembatan itu belum diaspal. Banyak kerikil berserakan di sana,” kata Syarifuddin.

Pembangunan jembatan Gigieng dihentikan pada tahun anggaran 2019 lalu karena jembatan sepanjang 36 meter itu mengalami defleksi atau lendutan di girder atau gelagar jembatan setelah dilakukan pengecoran.

Semula, perencanaan jembatan ini dilakukan pada 2016 silam: panjang bentang jembatan 28 meter dengan konstruksi beton pra cetak.

Pekerjaan fisik tahap I dimulai pada 2017 oleh CV Tachi Mita dengan nilai kontrak Rp 1,4 miliar dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie sebagai satuan kerja (Satker). Dalam pengerjaan fisik tahap I ini, —pembangunan abutmen— terdapat perubahan desain tanpa disertai review desain jembatan, yakni menggeser lokasi abutmen sehingga bentang jembatan menjadi 36 meter.

Pada pembangunan tahap II yang dikerjakan CV Pilar Jaya dengan nilai kontrak Rp 1,8 miliar dan Dinas PUPR Aceh sebagai satuan kerja (Satker), mengubah struktur jembatan menggunakan rangka baja sepanjang 36 meter.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Aceh, dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Pemkab Pidie tahun anggaran 2019, menemukan perubahan perencanaan struktur jembatan, dari konstruksi beton pra cetak ke rangka baja, tidak melalui hasil perencanaan konsultan atau ahli.

Belakangan diketahui, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan dan Perkuatan Struktur Jembatan Gigieng yang dilakukan oleh tim Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, girder yang digunakan pada jembatan tersebut saat pengerjaan tahap II tidak mampu menahan beban yang bekerja, termasuk tidak mampu menahan beban mati. Akibatnya, terjadi lendutan yang besar karena beban mati dan terjadi overstress pada girder.

“Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa rangka baja yang terpasang sesuai hasil pekerjaan Dinas PUPR Pemerintah Aceh tahun 2018 tidak mampu menahan beban atau struktur pelat lantai beton yang dibangun di atasnya atau berpotensi mengalami gagal konstruksi,” demikian dikutip dari dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK Aceh atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Pemkab Pidie tahun anggaran 2019.

Ironisnya, sebelum pelaksanaan fisik Jembatan Gigieng tahap III, konsultan perencana, dalam hasil survey, telah mengemukakan bahwa peletakan grider kurang pas, namun pekerjaan fisik tahap III tetap dilanjutkan oleh CV  Aceh Brothers Sejati dengan nilai kontrak Rp 1,4 miliar.

Meski perencanaan pembangunan lantai Jembatan Gigieng pada tahap III di tahun anggaran 2019 belum memperhitungkan kekuatan girder jembatan yang terpasang, uang muka sejumlah Rp 381.864.733 atau 30 persen dari nilai kontrak Rp 1,4 miliar tetap dicairkan.

Baca juga:

Pembangunan tahap III ini baru dihentikan setelah pengerjaan pengecoran dan setelah Laporan Hasil Pemeriksaan dan Perkuatan Struktur Jembatan Gigieng, oleh Laboratorium Forensik Struktur Bangunan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, keluar pada 23 November 2019.

BPK mencatat, realisasi fisik pekerjaan Jembatan Gigieng tahap III hingga 31 Oktober 2019 ialah 16,51 persen sehingga pembayaran uang muka seharusnya ialah sebesar Rp 214.441.725, 94. Dengan kata lain, terdapat kelebihan pembayaran uang muka sebesar Rp 171.536.628,48.

Atas temuan tersebut, BPK merekomendasikan pada Bupati Pidie Roni Ahmad agar menginstruksikan Kepala Dinas PUPR Pidie Ir Samsul Bahri MSi untuk mempertanggungjawabkan kelebihan pembayaran uang muka sebesar Rp 171.536.628,48 dengan menyetorkan ke Kas Daerah (Kasda) dan mempertanggungjawabkan kerugian atas pembangunan jembatan senilai Rp 214.441.725,94 yang tidak dapat digunakan.

Kepala Dinas PUPR Pidie Ir Samsul Bahri MSi mengatakan untuk melanjutkan pembangunan jembatan tersebut pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu dan berkonsultasi dengan BPK.

"Untuk kelebihan pembayaran uang muka sudah disetor ke Kasda. Menurut hasil pemeriksaan tim Forensik Unsyiah, untuk melanjutkan pembangunan jembatan itu hanya dibutuhkan penguatan saja di tengah gelagar jembatan. Selain itu, tim Forensik Unsyiah juga telah membuat gambar dan struktur jembatan untuk lanjutan. RAB-nya belum dihitung," katanya, Jumat, 7 Agustus 2020. []

Loading...