Sudut Pandang

Arakan dan Rohingya dari Satu Masa ke Masa Lainnya

·
Arakan dan Rohingya dari Satu Masa ke Masa Lainnya
Pengungsi Rohingya yang hendak pergi ke Bangladesh. Sumber foto: news.abs-cbn.com

Melalui novel Burmese Days, George Orwell akan membawa kita pada satu ruang dan waktu di mana orang-orang Burma (kini Myanmar) dan orang-orang India disatukan di bawah pemerintahan kolonial Kerajaan Inggris. Baik “India” maupun “Burma” berada di belakang sebuah “lokomotif” Kerajaan Inggris. Mereka, India dan Burma, adalah gerbong-gerbong yang penuh dengan hasil alam.

“Kereta api” itu—Kerjaan Inggris dan pemerintahan kolonial manapun saat itu—tak lagi mengakui kedaulatan satu kekuasaan yang telah ditaklukkannya, menghapus batas geografis kekuasaan tersebut, mengambil budaya dan pengetahuan masyarakat setempat lalu memberikan definisi atas budaya dan pengetahuan tersebut, hingga akhirnya menegaskan pada khalayak jajahannya: inilah ilmu dan budaya “yang benar”, yang beradab, dan yang “semestinya”. Lebih jauh lagi, kolonialsime tak pernah ambil pusing pada perbedaan budaya tiap-tiap wilayah jajahannya (misalnya India dan Burma; atau Hindia-Belanda yang menyatukan kesultanan-kesultanan di tiap-tiap wilayah yang telah ditaklukkan menjadi satu, dalam satu administrasi pemerintahan).

Kolonialisme

Kolonialisme hanya peduli pada bagaimana hasil alam bisa dikeruk, lalu didistribusikan untuk dipasarkan dsb (tentunya dengan dibarengi dengan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan mengangkut hasil produksi untuk dipasarkan dan menggunakan tenaga kerja lokal yang murah bahkan tak dibayar), dan bagaimana sistem pemerintahan kolonialnya itu berada pada tatanan yang stabil. Bicara tentang bagaimana stabilitas politik bisa dijaga di masa pemerintahan kolonial berlangsung, pelibatan warga lokal dalam pemerintahan kolonial, baik dari kalangan feodal maupun mereka yang “berkerah putih”, merupakan hal yang lumrah. Pada lain waktu, saat terdesak, tak jarang warga setempat dijadikan tentara untuk berperang di garis depan baik itu saat hendak memperluas wilayah jajahan maupun saat mempertahankan wilayah jajahan.

Jika memang pola itu masih relevan dan masih dipraktikkan hari ini, meskipun kolonialisme telah menyaru dalam wajah yang paling santun sekalipun, ia tetap sama: menjarah dengan cara paling kejam lalu mencari dalih yang sedapat mungkin diterima khalayak, tindakan itu patut dibenarkan karena memang sudah semestinya seperti itu; atau demi sesuatu yang disebutnya sebagai omong kosong sekalipun, hal itu mesti dibenarkan.

Satu hal yang tak mampu dihancurkan oleh kolonialisme meski itu dilakukan dengan cara yang paling canggih (di tiap zaman dan masa) dan dengan cara yang paling brutal sekalipun: menghapus ingatan kolektif sebuah komunitas masyarakat secara menyeluruh.

Kembali pada cerita yang dituliskan penulis yang bernama lengkap Eric Arthur Blair, itu. Kebencian rasial tampaknya berpunca pada pembagian status sosial: mereka yang berkulit putih, mereka penduduk lokal (India dan Burma) yang berpendidikan atau yang dikenal berkat profesi tertentu (sentimen Burma-India), dan penduduk lokal kelas bawah yang mereka anggap tak “berpendidikan”. Pada lapisan lainnya, kebencian rasial terjadi pula pada: India-Burma kalas menengah atas dan India-Burma kelas menengah ke bawah. Kesemuanya itu bermuara pada akses terhadap pekerjaan (ekonomi), kualitas/taraf hidup dll.

U Po Kyin, pria Burma yang bertubuh gemuk dan licik, adalah seorang hakim di sebuah pengadilan di Burma Utara. Ia pemabuk, penjudi, suka main perempuan, korup, tapi ia seorang yang ingin terlihat taat beribadah, atau bisa dikatakan memang ia taat pada ajaran agama yang ia anut.

U Po Kyin ingin menjadi anggota Klub Eropa, yang mana klub tersebut dikhususkan untuk orang-orang kulit putih. Ia ingin mencelakakan Dr. Veraswami, pesaingnya, yang juga calon anggota klub terkuat. Ia seorang dokter kelahiran India. U Po Kyin ingin merusak reputasi sang dokter dengan cara apapun.

Sumber foto: myanmarshalom.com
Sumber foto: myanmarshalom.com

Di lain pihak, Dr. Veraswami berkeyakinan akan menjadi anggota klub tersebut karena ia merasa dirinya sudah sangat Eropa: berteman baik dengan Flory, seorang pria berkulit putih yang punya pengaruh pada klub tersebut. Di samping itu, Dr. Veraswami, yang selalu mengagung-agungkan kehebatan Inggris, merasa tak ada alasan bagi anggota klub lainnya untuk menolaknya, bila dilihat dari loyalitasnya itu.

Kisah dalam novel tersebut, mungkin, berangkat dari sebuah realitas di mana timbulnya kecemburuan sosial antara satu penduduk di satu wilayah taklukan dengan satu penduduk wilayah yang taklukan lainnya. “Pada masa kolonial, protes anti-India (yang di dalamnya terdapat pula Bengali) pecah di Burma karena perasaan tidak adil atas penempatan warga Bengali di area permukiman khusus di Arakan, Tenasserim, dan daerah rendah Burma. Protes itu juga terjadi di Rangoon dan kota-kota utama lain pada 1926 dan 1938. Namun, tidak pernah berdampak apa pun kepada warga di Arakan, termasuk warga Muslim,” tulis Fuji Pratiwi dalam artikel Rohingya Dulu dan Kini, seperti yang dilansir dari republika.co.id, Senin, 4 September 2017.

Rohingya

“Islam masuk ke Myanmar sekitar 1055. Pedagang-pedagang Arab memperkenalkan Islam kepada mereka saat mendarat di delta Sungai Ayeyarwady, Semenanjung Tanintharyi, dan daerah Arakan yang yang terletak di sisi barat Myanmar. Gunung Arakan memisahkan wilayah daerah Arakan dengan daerah-daerah lain Myanmar yang mayoritas menganut Budha. Selain etnis Arakan, etnis Shan juga dikenal sebagai penganut Islam,” tulis Petrik Matanasi dalam artikel Rohingya dan Sejarah Masuknya Islam di Myanmar, sebagaimana dilansir dari tirto.id, 24 November 2016.

Dilansir dari historia.id, Jumat 4 Agustus 2017, komunitas Arakan (Arakan telah diubah menjadi Rakhine dan orang-orang di sana dikenal dengan sebutan etnis Rohingya) ini kemudian harus meninggalkan tempat mereka karena kalah perang.

“Pada 1404, pasukan dari Ava, ibukota kerajaan Burma kala itu, menyerang kerajaan Arakan yang membuat Raja Narameikhla mengungsi ke negeri Bengali (kini Bangladesh). Dua puluh empat tahun kemudian, bersama bala bantuan dari Sultan Bengali, dia kembali untuk merebut Arakan,” tulis Fajar Riadi dalam artikel Penghuni Tanah Arakan.

Namun pada 1785, Raja Burma kembali menaklukkan Arakan. “Setidaknya 20.000 tawanan termasuk simpatisan Muslim, seniman, dan ilmuwan digelandang menuju pusat Burma melintasi bukit Arakan. Ratusan di antaranya tewas selama di perjalanan,” tulis sejarawan Inggris G. E. Harvey dalam Outline of Burmese History, seperti yang dilansir dari historia.id, Jumat 4 Agustus 2017.

Ribuan lainnya lari ke Bengal (kini Bangladesh), yang saat itu menjadi wilayah jajahan Kerajaan Inggris di India.

Ketika Kerajaan Inggris menaklukkan Kerajaan Burma, — dalam Perang pada tahun 1824-1826 Masehi— wilayah Arakan kosong tak berpenduduk. Lalu, pihak Inggris membawa penduduk di Bengal untuk tinggal di sana.

“Mereka terdiri dari warga Bengal asli dan mereka yang semula berasal dari Rohingya,” demikian dilansir dari republika.co.id, Senin, 4 September 2017.

Pertumpahan darah yang tak berkesudahan

Masih dilansir dari republika.co.id, “Ketika Perang Dunia II berkecamuk, Inggris menelantarkan Arakan di tengah ekspansi Jepang ke Asia Tenggara. Di tengah kepanikan Inggris menarik diri tanah jajahannya, pasukan Muslim dan Buddha malah terlibat konflik terbuka”.

Hingga kini, peluru tak pernah berhenti berdesing, darah tak pernah tidak menggenangi tanah, dan api tak pernah diam untuk tidak membakar apapun di Arakan atau di wilayah yang kita kenal dengan sebutan Rakhine, tempat di mana etnis Rohingya menetap tanpa diakui sebagai warga negara mana pun. Tanpa hak sipil. Tanpa hak sosial. Tanpa hak politik. Tanpa hak budaya. Tanpa hak ekonomi. []

Loading...