PKA VII

Apa Makna Filosofis Anjungan Pidie di PKA VII?

·
Apa Makna Filosofis Anjungan Pidie di PKA VII?
Anjungan Pidie yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 2, 3 milliar. Foto direkam pada Minggu, 5 Agustus 2018. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co—Anjungan Pidie, dengan struktur bangunan menyerupai rumah panggung, tampaknya belum siap untuk disambangi para pengunjung Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII di Kompleks Taman Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Cat bangunan yang berwarna krem berpadu cokelat tua itu masih terlihat belepotan sana-sini. Di samping itu, bangunan yang dibangun dengan menggunakan dana sebesar Rp 2, 3 milliar itu juga tak merepresentasikan nilai-nilai filosofis apapun.

“Soal kesiapan secara umum PKA di anjungan Pidie, sudah siap semua. Untuk hari ini stand kita sudah terbuka untuk umum. Dan sudah ramai saya lihat kunjungan hari ini di anjungan Pidie. Untuk sementara tidak kendala apapun di anjungan Pidie. Soal filosofi gedung anjungan Pidie, masalah itu saya tidak mengerti, ditanyakan sama orang perencanaan awal. Coba ditanyakan sama Pak Madi Majelis Adat,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olah Raga (Disparbudpora) Pidie Arifin Rachmad via telepon selular, Minggu, 5 Agustus 2018.

Di ruang bawah, deretan meja yang menampilkan produk-produk khas Pidie, berjajar.

“Ada beberapa produk khas, seperti kopiah riman, kopiah meukeuthop, tikar pandan, baju dan sarung adat, alat-alat rumah tangga. Juga ada kopi, emping melinjo,” kata Mardhahini, Penangungjawab Pasar Seni dan Warisan Budaya di Anjungan Pidie, Minggu, 5 Agustus 2018.

Meja-meja yang menjual produk khas Pidie di anjungan Pidie. Foto direkam pada Minggu, 5 Agustus 2018. (sinarpidie.co/Firdaus).

Di dalam anjungan di lantai dua, suasana ruangan bak rumah yang baru dihuni penghuni. Dinding-dinding kosong tanpa ornamen. Jikapun ada, itu hanya sebuah pelaminan beserta pernak-perniknya, sepeda ontel, standing banner SKPK di Pidie, foto-foto yang menampilkan eksotisme alam, dan tampi beras.

Lantai dua anjungan Pidie. Foto direkam pada Minggu, 5 Agustus 2018. (Firdaus/sinarpidie.co).

Jika ada yang bisa dikatakan istimewa, itu adalah sudut yang bersifat arkeologis, yang menampilkan benda-benda seperti senjata tradisional Aceh, Alquran bertuliskan tangan dan bercorak Pinto Aceh, ceurana ranub, dan sejumlah naskah kuno. Benda-benda yang ditampilkan dalam sebuah lemari kaca itu merupakan koleksi pribadi Teungku Muklis Caleue.

Teungku Muklis Caleue. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Kami mulai mengumpulkan barang-barang tersebut sejak tahun 2000. Benda-benda tersebut saya kumpulkan dari sejumlah kecamatan di Pidie,” kata Teungku Muklis pada sinarpidie.co, yang ditemui di lokasi, Minggu 5 Agustus 2018.

Tak ada kurator seni di sana.

Dalam siaran pers yang diterima sinarpidie.co, Kamis, 2 Agustus, 2018, Plt Kepala Disbudpar Aceh, Amiruddin mengatakan, hajatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII dipastikan akan dimulai 5-15 Agustus 2018 di Banda Aceh.

Kegiatan yang mengusung tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat” ini akan diikuti oleh seluruh jajaran pemerintah Kabupaten/Kota se-Aceh serta sejumlah tamu undangan lainnya dari baik dari dalam maupun luar negeri.

Serangkaian agenda menarik dan unik juga akan meramaikan PKA VII, mulai pembukaan yang dihadiri oleh Presiden RI, pameran, festival seni dan budaya, lomba atraksi budaya, seminar kebudayaan dan kemaritiman, anugerah budaya dan hingga penutupan PKA VII oleh Wakil Presiden RI.

Adakah anjungan Pidie dan seluruh produk beserta benda-benda yang ditampilkan di sana mewakili “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”? Atau hanya sekedar anjungan untuk pasar malam!

Reporter: Firdaus dan Diky Zulkarnen

Loading...