Angka Stunting di Pidie Turun

·
Angka Stunting di Pidie Turun
Kebun gizi di Gampong Nien, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Dok. sinarpidie.co.

sinarpidie.co - Dalam tiga tahun terakhir, angka stunting di Pidie mengalami penurunan. Dari 22.06 persen pada 2018, menyusut menjadi 18.87 persen di tahun 2019. Pada 2020, terjadi penurunan angka stunting sebesar 0.37 persen dari tahun 2019: 18.50 persen.

“Rendahnya angka penurunan di tahun ini disebabkan pada tahun 2020 terjadi pandemi COVID-19 di seluruh Indonesia. Pidie menetapkan Status Siaga Darurat Bencana non-Alam COVID-19 pada Maret 2020. Sejak saat itu, petugas tidak dapat melakukan pemantauan dan intevensi pada balita yang bermasalah,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pidie, Muhammad Ridha SSos MSi, Kamis, 31 Desember 2020.

COVID-19, kata Ridha, berpengaruh besar terhadap implementasi program pencegahan dan penanggulangan stunting yang sudah direncanakan. “Berbagai indikator pelayanan yang terpengaruh Pandemi COVID-19 adalah kegiatan pengukuran berat badan dan tinggi badan balita, kunjungan rumah bumil KEK, imunisasi bayi, dan pemantauan tumbuh kembang balita yang dipantau setiap bulan di Posyandu,” sebutnya. “Pengaruh ini disebabkan karena hal-hal yang terjadi sebagai dampak tidak langsung COVID-19, di antaranya kekhawatiran ibu hamil, ibu balita tidak berani untuk kontak dengan tenaga kesehatan dan melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan. Kemudian transportasi yang dibatasi, Posyandu tidak bisa dilaksanakan, dan terdapat faskes yang memberlakukan lockdown karena tenaga kesehatan terkena COVID-19.”

Infografik sinarpidie.co.

Dikatakannya lagi, prevalensi stunting tertinggi terdapat di Kecamatan Tangse sebesar 19.35 persen, lalu disusul Ujong Rimba 18.5 persen. “Semua kecamatan mempunyai tren yang sama, yaitu menurun dari tahun 2018 sampai tahun 2020, kecuali Kecamatan Tangse yang naik pada tahun 2020,” katanya.

Tak mendapat imunisasi lengkap

Berdasarkan hasil penelitian dan kajian yang telah dilakukan, sebutnya, semua balita stunting tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Selain itu, faktor determinan tertinggi kedua adalah anggota keluarga balita stunting merokok di rumah, dan semua balita yang stunting tidak memiliki jamban yang sehat dan air bersih yang sehat untuk digunakan sehari-hari di rumah.

“Juga masih ditemukan balita yang tidak memiliki JKN, dan balita stunting yang disertai dengan penyakit penyerta,” kata Ridha lagi.

Dok. sinarpidie.co.

Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan, yaitu pembekalan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) kepada petugas dan kader, pelatihan 1000 hari pertama kehidupan (HPK), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Komunikasi Antar Pribadi (KAP), Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) serta pelatihan kader posyandu. “Pendekatan komunikasi antar pribadi dapat dilakukan baik melalui konseling langsung baik online maupun bertatap muka langsung dengan sasaran melalui kunjungan rumah,” tutupnya.

Lokus stunting

Pidie ditetapkan menjadi kabupaten lokasi kasus (lokus) stunting sejak 2018 dalam lima kecamatan, yaitu Kecamatan Kembang Tanjong (Gampong Ara, Gampong Pasi Lancang, dan Gampong  Meuraksa), Kecamatan Simpang Tiga (Nien Teungoh Mangki, Gampong Lampoh Awe dan Mesjid Gigieng), Kecamatan Tiro (Meunasah Panah, Panton Bunot Peunadok, Gampong Pulo Siblah  dan Gampong  Pulo Mesjid), Kecamatan Tangse (Ulee Gunong, Gampong Blang Dhot, dan Gampong  Pulo Kawa), dan Kecamatan Mutiara Timur (Campli Usi, Mesjid Usi, Balee Ujong Rimba, Gampong Mesjid Jeurat Manyang  dan Gampong  Pulo Tinggi). []

Loading...