Aliran Fulus Limbah B3 di RSUD TCD

·
Aliran Fulus Limbah B3 di RSUD TCD
Kondisi TPS limbah domestik di RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli. Foto direkam pada Jumat, 19 Februari 2021 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Biaya yang dikeluarkan RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli untuk pengangkutan limbah  medis B3 pada tahun anggaran 2020 adalah Rp 1.655.923.500. Kasbon atau hutang jangka pendek RSUD TCD pada tahun anggaran 2019 untuk pengangkutan limbah B3 adalah Rp 356.300.000. Limbah B3 infeksius disimpan di TPS terbuka tanpa pendingin selama berminggu-minggu.


sinarpidie.co — Biaya yang dikeluarkan RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli untuk pengangkutan limbah  medis B3 pada tahun anggaran 2020 adalah Rp 1.655.923.500. Hal ini disebutkan Juru Bicara RSUD TCD Sigli, yang juga menjabat Wakil Direktur SDM, dr Ikhsan Sp OT, dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, Senin, 22 Februari 2021.

“Jumlah pengangkutan limbah dalam sebulan rata-rata 3.100 kilogram,” sebut dr Ikhsan. “Pengangkutan dilakukan dua kali sebulan dan disesuaikan dengan jadwal dari pihak ketiga tersebut ke Aceh.”

Untuk pengangkutan limbah B3, rumah sakit ini bekerjasama dengan PT Cahaya Tanjung Tiram Perkasa. Kasbon atau hutang jangka pendek RSUD TCD pada tahun anggaran 2019 untuk pengangkutan limbah B3 adalah Rp 356.300.000.

“Pada tahun 2021, belum ada pengangkutan limbah B3 oleh pihak ketiga dikarenakan RSUD TCD melakukan pembakaran menggunakan insinerator,” kata dr Ikhsan lagi.

Pengoperasian insinerator di RSUD TCD sebenarnya belum mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun, karena didasari pandemi Covid-19, KLHK memberikan izin sementara penggunaan insinerator tersebut pada 25 Agustus 2020.

 KLHK memberikan izin sementara penggunaan insinerator tersebut pada 25 Agustus 2020. Dok. sinarpidie.co.

Limbah infeksius di TPS terbuka tanpa pendingin selama berminggu-minggu

Namun, sumber sinarpidie.co, yang identitasnya enggan dituliskan, menyebutkan hal yang berbeda dengan yang diterangkan dr Ikhsan. Katanya, sebagian limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam RSUD TCD disimpan berminggu-minggu di TPS Limbah B3 yang terbuka dan tidak memiliki pendingin sebelum diangkut PT Cahaya Tanjung Tiram Perkasa satu bulan sekali.

“Biaya pengangkutan limbah B3 ialah Rp 50 ribu per kilogram. Diangkut satu bulan sekali. Dalam sekali angkut sekitar 3 hingga 4 ton limbah,” kata sumber terpercaya sinarpidie.co itu. “Pembakaran kan dua hari sekali. Limbah kantong kuning (B3 infeksius) yang masuk ke dalam mesin tidak mencapai 200 kilogram. Dalam sekali bakar, pasti ada sisa dua-tiga kantong kuning. Sisa-sisa kantong kuning inilah yang disimpan sampai dengan tibanya pihak ketiga untuk mengangkut limbah-limbah kantong kuning tersebut.”

Apa yang disebutkan sumber sinarpidie.co ini terkonfirmasi di dalam dokumen Hasil Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL) RSUD TCD periode Juli-Desember 2020.

Di dalam dokumen yang ditandatangani Direktur RSUD TCD, dr Muhammad Yassir Sp An, ini, tertera bahwa penyimpanan sementara “limbah padat tersebut tidak kurang dari 90 hari”.

“Limbah padat B3 sebagian diserahkan kepada pihak ketiga untuk dikelola dan diserahkan kepada pihak ketiga (PT Wastec International) untuk diolah. Pengelolaan limbah padat medis tersebut terdata berdasarkan manifest nomor AYI 0000196, AYI 0000217, dan AYI 0000230,” demikian dikutip dari dokumen Hasil Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL) RSUD TCD periode Juli-Desember 2020.

Dokumen Hasil Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL) RSUD TCD periode Juli-Desember 2020. Dok. sinarpidie.co.

Praktik seperti ini tidak sesuai dengan apa yang telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan: penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam paling lama 2 hari pada temperatur di atas nol derajat celcius atau 90 hari pada temperatur lebih kecil dari nol derajat celcius di ruang berpendingin.

Sementara yang terjadi di RSUD TCD, penyimpanan sementara limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam dilakukan di TPS terbuka tanpa alat pendingin.

Baca juga:

Residu bekas pembakaran disimpan di dua septic tank atau dengan menerapkan sistem kapsulisasi. “Kapasitas penyimpanan residu di dua septic tank itu sekitar 4 ton,” sebut sumber sinarpidie.co. “Selama pembakaran insinerator, residu tersebut belum pernah diangkut pihak ketiga.”

"Untuk abu sisa pembakaran dengan menggunakan insinerator ditampung di dalam tempat penampungan sementara sebelum diangkut oleh pihak ketiga untuk dimusnahkan," kata Juru Bicara RSUD TCD, dr Ikhsan Sp OT, lewat keterangan tertulis.

Namun, hingga berita ini diturunkan, sinarpidie.co belum memperoleh konfirmasi terkait izin penimbunan limbah B3 berupa abu terbang insinerator dan abu dasar insinerator di RSUD TCD tersebut.

Biaya service insinerator diduga digelapkan

Terdapat empat tenaga atau petugas yang mengoperasikan insinerator di RSUD TCD. Mereka sebenarnya  tenaga cleaning service atau CS. Sebelumnya, upah mereka per bulan Rp 1,1 juta. Namun, pada 2021, upah mereka turun menjadi Rp 600 ribu. “Itu pun sudah dua bulan upah kami tidak dibayar. Sementara, beban kerja CS bertambah, karena kami juga harus membersihkan Gedung PCC yang begitu luas,” katanya.

Setiap kerusakan insinerator di RSUD TCD diperbaiki oleh salah seorang tenaga di mesin insinerator. “Namun, saya tidak pernah mendapatkan uang untuk perbaikan mesin itu. Padahal, setahu saya setiap tahunnya, terdapat tiga kali biaya service insinerator yang dianggarkan dan itu cair. Saya tidak pernah teken dan ambil uang itu. Orang lain yang teken dan ambil uang service,” kata sumber sinarpidie.co.

Asal jual limbah medis

Beberapa limbah medis memang dapat didaur ulang, seperti botol infus dan botol HD. Namun, proses daur ulang limbah-limbah ini pun harus dilakukan setelah disifeksi kimia. Tahapannya: pengosongan, pembersihan, disifeksi, dan penghancuran.

Juru Bicara RSUD TCD, dr Ikhsan Sp OT, mengatakan pihaknya telah melakukan tahapan-tahapan disfeksi kimia botol infus dan jerigen HD dengan baik sebelum digiling dan  dijual ke pihak ketiga.

"Pada Januari 2021 sebanyak 836 kg botol infus dan HD yang telah digiling dijual dengan harga Rp 6.000 per kilogram pada CV Aditia Pratama. Hasil penjualannya dimasukkan ke rekening rumah sakit," sebutnya. []

Loading...