Akankah Pasar Ikan Rp 2 M di Kota Mini Menambah Daftar Besi Tua di Sana?

·
Akankah Pasar Ikan Rp 2 M di Kota Mini Menambah Daftar Besi Tua di Sana?
Pasar ikan yang terletak di Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, yang dibangun pada 2019 belum ditempati para pedagang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Alih-alih dapat menghilangkan citra Kota Mini sebagai kota sarang walet yang kumuh, pasar ini justru memperpanjang daftar proyek terbengkalai di sana.

sinarpidie.co—Pada 1982, tepatnya pada periode pertama Drs Nurdin Abdur Rachman—kini almarhum— menjabat sebagai Bupati Pidie yang ke-17, ia merumuskan sebuah konsep perluasan pasar di Kecamatan Mutiara. Lahan seluas 250,000 meter persegi yang sebelumnya merupakan areal persawahan di sana lantas ditimbun lalu ruko-ruko didirikan. Pasar ini dibangun bertepatan saat Nurdin, Bupati Pidie dua periode (1980-1985 dan 1985-1990), merintis Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STIKIP) yang berdiri pada 21 Agustus 1982—kelak statusnya meningkat menjadi Universitas Jabal Ghafur pada 6 April 1985.

Bertahun-tahun kemudian, pada akhir periode kedua lulusan Fakultas Ekonomi Unsyiah pada 1973 ini menjabat sebagai bupati Pidie, yaitu sekitar tahun 1989, atau dua tahun setelah Seminar Sastra Asean atau pertemuan sastrawan Indonesia, Malaysia, dan Singapura digelar di Unigha atau di Glee Gapui pada 1986, akhirnya pembangunan pasar itu selesai.

Sebuah pasar dengan konsep modern pada masanya itu diberi nama Kota Mini, yang terletak 300 meter sebelah timur Pasar Bereunuen, Kecamatan Mutiara.

Saat jabatannya sebagai Bupati Pidie berakhir pada 1990, pria kelahiran Caleue, 12 April 1940 ini pernah duduk di kursi DPR RI. Pada 1999, Nurdin meninggal dunia di tengah-tengah ingar-bingar Pemilu.

Mimpi Nurdin beneran tak terwujud, sebab hingga 30 tahun kemudian tak ada tanda-tanda Kota Mini akan maju. Alih-alih menjadi sebuah pasar yang modern dengan ruko tiga hingga empat lantai, Kota Mini justru identik sebagai tempat penangkaran burung walet yang kelihatan kotor dan kumuh.

Hanya beberapa ruko yang kini digunakan sebagai tempat tinggal. Para pedagang lebih memilih membangun kios kecil di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan daripada menyewa ruko di sana.

Pembangunan sebuah pasar ikan pasar yang memiliki empat toilet, satu sumur air tanah, enam kios berukuran 2 x 2 meter, satu pos pengamanan, dua puluh meja ikan, saluran drainase, pada 2019 lalu dengan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Pidie sebagai satuan kerja (Satker),  tak dapat mengubah citra Kota Mini dari kota sarang walet yang kumuh. Namun pasar ikan ini justru menambah daftar proyek terbengkalai di sana.    

Pasar yang dibangun dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) ini dikerjakan CV Putroe Balee Lestari dengan nilai kontrak Rp 2 miliar. Pasar ini dibangun sekitar 100 meter, agak ke dalam, dari jalan Banda Aceh-Medan. Jalanan ke sana penuh kerikil, yang biasa dilintasi truk pengangkut barang yang sering mangkal di sebuah terminal mati.

Baca juga:

Keuchik Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Razali Amd mengatakan banyak pedagang yang sebenarnya berminat berjualan di pasar ikan tersebut. "Banyak yang telah mendaftar. Bahkan kita bersiasat agar memberikan pelayanan berbeda kepara pembeli ikan nanti, yaitu memberi pelayanan gratis berupa pemotongan dan pembersihan ikan sekaligus," katanya. “Dan  kita juga tidak akan mengutip parkir dulu.”

Belum beroperasinya pasar tersebut, kata Razali, karena Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Pidie belum memberi arahan apapun untuk menghidupkan pasar tersebut. "Jika tidak ada pihak yang mengarahkan para pedagang ke sana tentu juga tidak akan ada yang berjualan di sana,” kata Razali.

Selain itu, sebutnya, "Jalanan ke sana sangat buruk. Batu kerikil dan tak beraspal. Walaupun pasar itu digunakan, takkan ada kecenderungan orang akan ke sana jika kondisi jalan masih seperti itu.”

Kepala Bidang Pasar pada Disperindagkop dan UKM Pidie Husaini mengatakan belum difungsikannya pasar tersebut karena terjadinya pergantian jabatan Camat Mutiara Timur baru-baru ini. “Camat sudah pindah. Tinggal kita buat pendekatan ulang karena harus ada keterlibatan keuchik dan mukim,” katanya, Kamis, 18 Juni 2020. []

Loading...