Banner Stunting

Buku

Aborigin, Para Bandit Kelas Teri, dan Sains

·
Aborigin, Para Bandit Kelas Teri, dan Sains
Buku Agus Wandi: Terra Austalis Biografi Singkat: Tetangga Penting dan Terdekat Indonesia (Penerbit Circa, 2020).

Australia, Negara yang bagi saya identik dengan Kangguru, wol, dan pasukan perdamaian saat Referendum di Timor Leste pada 1999 silam, ternyata didirikan oleh para penjahat kelas teri. Para penjahat yang, menurut Agus Wandi dalam bukunya Terra Austalis Biografi Singkat: Tetangga Penting dan Terdekat Indonesia (Penerbit Circa, 2020), “melakukan kejahatan yang didorong oleh rasa lapar atau bertahan hidup, khas rakyat miskin, bukan lantaran faktor ideologis”. Yang disebutkan paling akhir itu memang sedikit menyimpang dengan apa yang terjadi di Indonesia: para tahanan politik yang umumnya berangkat dari keluarga elite priayi, datuk, dan uleebalang, yang dibuang Belanda ke Boven Digul, misalnya, kelak ikut membangun imajinasi dan mendirikan Negara yang kini kita sebut Indonesia, lalu setelah merdeka, Negara ini menggelar Operasi Pembebasan Irian Barat—dikenal dengan sebutan Operasi Trikora (1962)—untuk menduduki Papua.

Kedatangan para narapidana Inggris ke Australia lebih tepat disebut kegagalan beruntun, alih-alih sesuatu keberhasilan yang terencana dan agung karena Kerajaan Inggris sebenarnya semula hendak membuang para penjahat kelas teri ke Sierra Leone, Afrika Barat, tepatnya di kawasan Freetown, yang belakangan menjadi ibukota Sierra Leone. Namun proyek pembuangan tahanan ke Afrika ini gagal, dan banyak orang-orang buangan mati karena diserang suku-suku primitif serta wabah penyakit.

Agus Wandi, yang juga pernah tinggal di Freetown, menyebutkan hingga saat ini Sierra Leone memang penuh dengan sumber penyakit. Wabah Ebola, misalnya, hingga saat ini masih diperangi di Negara itu.

Kapten Cook, petualang yang kini tidak bisa tidak ditemukan dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah di sana, memberi  informasi yang keliru tentang Australia, yang kelak dijadikan rujukan para pengambil kebijakan Kerajaan Inggris untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat pembuangan yang baru. Karena ia tiba bukan pada waktu musim dingin,  ia melaporkan tempat itu “tampak indah dan hijau”, tempat yang sebenarnya ia temukan secara kebetulan saat berputar-putar di kawasan Pasifik ketika ia dalam perjalanan pulang.

“Walaupun kesal karena Australia tidak seperti yang digambarkan Kapten Cook, First Fleet yang dipimpin Kapten Arthur Philip menyebut rombongan mereka dengan kapal-kapalnya seperti bahtera nabi Nuh. Tidak menemukan tanah subur dan lahan hijau, mereka ternyata tidak berlabuh di Botany Bay, tapi meleset ke sebuah teluk, yang sekarang dikenal sebagai Pelabuhan Sydney,” tulis Agus Wandi, lulusan Universitas Syiah Kuala, itu.

Banyak informasi menarik dalam buku yang ditulis lulusan Universitas London Metropolitan dan fellow Universitas Harvard, ini: hubungan para pelaut Makasar dengan suku Aborigin dalam berdagang, Bukit Uluru atau Ayes Rock, kemampuan navigasi suku Aborigin yang tak terpisahkan dengan budaya mengembara mereka dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga, sebagaimana dituliskan Agus Wandi, “mereka tidak membangun candi-candi atau piramida megah” sebagai standar yang bisa kita gunakan untuk mengukur satu peradaban, tapi lebih dari itu semua, mereka “meninggalkan alam dan bumi, seperti sediakala, seperti aslinya,” dan itu, tulis Agus Wandi, “adalah peradaban tertinggi yang sesungguhnya”; perampasan lahan suku Aborigin hingga pembantaian Myall Creek, penemuan emas, Perang Dunia, Sydney Opera House, Sydney Bridge, hingga rasisme.

Di samping itu semua, lewat buku ini, pria yang saat ini bekerja untuk PBB, itu, seperti hendak menunjukkan betapa luas wawasannya tentang sejarah seni, budaya, dan sastra dunia, yang ia selipkan pada hampir semua halaman buku ini.

Namun ulasan yang paling menarik dalam buku setebal 215 halaman ini, menurut saya, ialah bagaimana Australia menggunakan sains sebagai pijakan dalam pengambilan kebijakan. Agus Wandi menyimpulkan banyak ilmuwan hebat di Australia “bukan karena otak mereka lebih besar dibandingkan ras manusia yang lain atau punya kelebihan genetik tertentu sehingga mencapai puncak kepakaran masing-masing, tapi karena satu faktor saja, mereka beruntung datang dari Negara yang sangat menghargai sains dan pemerintah mereka mengalokasikan dana besar untuk perkembangan riset”.

Google Maps, kotak hitam (pesawat), dan WIFI adalah beberapa penemuan ilmuwan Australia. “Setiap tahun hak paten yang didaftarkan dari Australia dan oleh lembaga di sana membuat Australia masuk dalam negara sepuluh teratas yang mendapatkan hak paten di dunia,” tulis Agus Wandi.

Menurutnya, subsidi Negara terhadap ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan, dan perpustakaan adalah kunci dalam menopang ekonomi Australia karena tenaga kerja paling besar diserap Negara ini saat ini ialah di sektor industri jasa, “yang kemampuan sektor ini berbasiskan inovasi”.

Untuk beberapa hal yang menyangkut dengan sains dan ilmuwan, Negara ini bahkan belum meninggalkan praktik tercela dengan membuka pintu Negara itu pada para migran dengan keterampilan yang istimewa tapi sebaliknya menutup pintu bagi pendatang tanpa keterampilan dan pengungsi politik, sesuatu yang disebut dengan istilah skandal brain drain. []

 

Loading...