Abdurahman Ibrahim, Pelatih Seudati di Peukan Sot

·
Abdurahman Ibrahim, Pelatih Seudati di Peukan Sot
Abdurrahman Ibrahim, 61 tahun, warga Gampong Peukan Sot, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, seorang pelatih seudati, sekaligus petani garam. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co — Memanggul jaring ikan di bahu kanannya, pria itu berjalan tanpa alas kaki melewati pematang tambak menuju rumahnya di Gampong Peukan Sot, Kecamatan Simpang Tiga, Minggu, 4 April 2021 siang.

Sesampainya di rumah, dia duduk di atas sofa warna merah yang berada di teras. Sofa itu sudah tidak memiliki busa. Hanya ada bentangan karet hitam sebagai alas tempat duduk.

Lelaki itu adalah Abdurrahman Ibrahim, 61 tahun, warga Gampong Peukan Sot, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Dia adalah seorang pelatih seudati, sekaligus petani garam.

Abdurrahman Ibrahim mengenal seudati semenjak ia berumur 15 tahun. “Pada tahun 1975, saya bermain seudati di kelompok kesenian Johan Perkasa. Pelatihnya Bang Burhan, warga Gampong Dayah Teungoh, Tijue,” kata ayah empat anak itu.

Penari seudati asal Peukan Sot sedang berlatih di Kantor Camat Simpang Tiga untuk persiapan menjelang pementasan pada Sail Sabang 2017 lalu. Dok. sinarpidie.co.

Hari-hari Abdurrahman dihabiskan di tambak garam di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli. Di Peukan Sot, ia pernah melatih anak-anak di gampong tersebut berseudati. Tapi kini ia hanya menghabiskan waktu tujuh jam di tempat dia memasak garam, dari pagi hingga sore hari. "Kemarin hujan, jadi ada genangan air di tempat penjemuran pasir, makanya hari ini saya tidak bekerja,” tuturnya.

Minggu, 4 April 2021 siang, karena tidak bisa bekerja, ia berangkat ke sungai dengan membawa jaring ikan untuk menangkap ikan. "Hanya mencari ikan untuk dimakan karena hari ini saya tidak bisa bekerja,” tuturnya.

Saat ia bicara, hanya ada beberapa gigi yang sudah hitam yang tersisa pada gusinya. Selebihnya telah hilang dimakan usia. Abdurahman bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap.

Di Gampong Peukan Sot, Kecamatan Simpang Tiga, seudati hidup dari satu generasi ke generasi lainnya secara turun temurun. “Pada 1990-an pernah redup. Sekitar 2004, seudati di Gampong Peukan Sot kami kembangkan kembali,” kata dia. “Dalam dua tahun belakangan, mulai redup kembali.”

Ia menuturkan bahwa seudati dibuka dengan saleum aneuk, saleum syeh, likok, saman, lagu, syahi payang, dan kisah. “Pokoknya ada delapan bagian,” tuturnya. []

Loading...