4 Objek Wisata di Pidie, dari Tempat yang Memiliki Nilai Sejarah hingga Dermaga Gagal Bangun

·
4 Objek Wisata di Pidie, dari Tempat yang Memiliki Nilai Sejarah hingga Dermaga Gagal Bangun
Balai di dalam makam Tgk. Abdullah di Tiro. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co—Menghabiskan waktu liburan bersama keluarga merupakan momen yang ditunggu-tunggu, tak terkecuali liburan Hari Raya Idul Fitri 1439 H/2018 M yang kali ini agak panjang:11 hingga 20 Juni.

Belum genap setahun, sinarpidie.co telah menggali beberapa tempat yang menarik untuk dikemas dalam bentuk tulisan, yang kami angkat dari pelbagai sudut pandang: eksotisme, ekonomi, sosial, budaya, dan sejarah.

Eksotisme di sini bukanlah melulu tentang keindahan yang sempit, melainkan hal-hal yang dianggap sepele seperti lokasi air terjun dan perkawinan dini yang dilatarbelakangi ekonomi dan akses pendidikan (baca: Geuni dan Kemurungannya yang Sempurna), dermaga gagal bangun di masa rehab-rekon pasca-tsunami yang mendadak jadi spot wisata, dan ironi seorang Ibrahim Hasan di balik Pantai Mantak Tari.

Juga menggali dan memaknai bagaimana dunia bergerak: penemuan mesin uap oleh James Watt di Inggris yang sekaligus memulai revolusi industri pada abad 17.

Produksi, yang semula menitik beratkan tangan-tangan manusia, digantikan oleh mesin-mesin. Kebutuhan akan bahan baku semakin meningkat bersamaan dengan perang dan pendudukan suatu wilayah.

Hal itu, bagi kami, salah satunya, terefleksikan dari menara air di Gampong Blok Bengkel. Bagaimana perang dan pendudukan suatu wilayah diikuti dengan pengenalan terhadap barang-barang canggih di masanya: pembangunan jalan, jaringan kereta api dan relnya, menara air, dsb. Semua pembangunan itu, tentunya, untuk mendistribusikan dan melipat gandakan hasil produksi. Poros maritim berganti darat. Begitulah kami memaknai eksotisme dalam makna yang luas meski artikel-artikel yang kami suguhkan jauh dari kata sempurna.

Berikut 4 objek wisata di Pidie yang bisa Anda kujungi di sisa-sisa liburan Hari Raya ini.

1.    Makam Teungku Abdullah Di Tiro di Gampong Pante Garot

Tempat tersebut adalah makam Teungku Abdullah di Tiro, ayah kandung Teungku Muhammad Saman atau yang lebih dikenal sebagai Teungku Chik di Tiro.

Makam Teungku Abdullah di Tiro. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“Secara garis besar, kami hanya tahu bahwa kami keturunan Teungku Chik di Tiro. Tapi kalau disuruh jelaskan satu per satu, kami tidak tahu juga kalau tidak ada catatan tertulis ini,” ungkap Zainal Abidin, salah seorang cicit Teungku Chik di Tiro, pada sinarpidie.co, Minggu, 13 Agustus 2017, seraya menunjukkan sebuah kertas besar yang bertuliskan silsilah keluarga besar Teungku Chik di Tiro.

Baca:

Zainal Abidin berujar, sebelumnya makam tersebut dijaga oleh ayahnya, Teungku Amin Tiro. Selepas sang ayah meninggal dunia, makam tersebut dijaga oleh abang kandungnya, Muhammad Ali. Tatkala Muhammad Ali meninggal dunia sekitar dua tahun lalu, Zainal Abidin-lah yang kemudian mengurusi makam tersebut.

“Adapun Muhammad Saman, jang terkenal kemudian dengan Tengku Tjhik di Tiro putera Tengku Sjech Abdullah, anak Tengku Sjech Ubaidillah kampung Garot negeri Samaindra, Sigli, Ibunja Sitti Aisjah kakak Tengku Tjhik Muhammad Amin Dajah Tjut, puteri Tengku Sjech Abdussalam Muda Tiro anak Leube Polem Tjot Rheum. Lahir pada tahun 1251 H (kira-kira tahun 1836 Mesehi), di Dajah Krueng kenegerian Tjumbok Lamlo, jang terkenal sekarang dengan Kota-Bakti. Tengku Sjech Abdullah ajahanda Muhammad Saman berasal dari kampong Garot Sigli,” tulis Ismail Jakub dalam bukunya yang berjudul Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya (1960).

2.    Menara Air Belanda di Blok Bengkel

Di belakang pusat perbelanjaan Pidie Swalayan, Kota Sigli, Pidie, ada sebuah bangunan yang tingginya kira-kira 20 meter. Menara air Belanda, begitu masyarakat sekitar menyebut bangunan itu. Konon, menara air tersebut dibangun saat pendudukan Pemerintah Hindia-Belanda. Pada sebuah prasasti pada dinding depan bangunan itu terpatri kata-kata: "Ditempat ini penaikan sang saka Merah-Putih oleh Rakjat. Tgl 26-8-1945."

Menara air yang dibangun di masa kependudukan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

Selain diabadikan sebagai nama jalan, yakni Jalan Menara Air, Gampong Blok Bengkel, Kecamatan Kota Sigli, sinarpidie.co belum mampu memperoleh informasi dan sumber pustaka terkait keberadaan dan sejarah menara air tersebut.

Tangga menuju ke lantai paling atas. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).
Puncak menara air. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

3.    Pantai Mantak Tari

Wisata Pantai Mantak Tari, mula-mula, dibuka dan dikembangkan semasa Prof Dr Ibrahim Hasan MBA menjabat sebagai Gubernur Aceh. Prof Dr Ibrahim Hasan, yang lahir di Gampong Cot Weng, Kecamatan Simpang Tiga, itu, merupakan Gubernur Aceh yang kedua belas. Nama Mantak Tari sendiri berasal dari nama Gampong Mantak Raya, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

Salah satu bunker Jepang di Pantai Mantak Tari. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“Diubah sedikit oleh Pak Ibrahim Hasan menjadi Wisata Mantak Tari,” kata Sudirman, 58 tahun, pada Minggu 3 September 2017. Sudirman pernah menjabat sebagai Keuchik Gampong Kupula, Kecamatan Simpang Tiga, sejak 1992 hingga 2001.

Baca:

4.    Ujong Pi

Ujong Pi dikenal sebagai salah satu objek wisata di Pidie karena dua hal: dermaga dan mie ikan tongkol. Waktu tempuh dari Kota Sigli, Ibu Kota Kabupaten Pidie, ke tempat tersebut sekitar 40 menit berkendara. Dari Kede Laweung, kita terlebih dahulu melewati Gampong Ie Masen dan Gampong Sagoe hingga menemukan sebuah jalan di samping SMP Negeri 2 Muara Tiga.

Baca: 

Abdul Razak, warga Gampong Ujong Pi, Kecamatan Muara Tiga, Pidie, tak bisa mengingat dengan pasti kapan dermaga itu dibangun. “Selepas tsunami dan sesudah damai,” kenangnya.

Dermaga Ujong Pi. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co mencoba mewawancarai sekelompok warga gampong Ujong Pi yang tengah duduk di sebuah balai di kedai minum di dekat pantai Ujong Pi. Kata mereka, di lokasi tersebut, mula-mula, batu-batu gajah dijajarkan, di sepanjang jembatan. Tak lama kemudian, batu-batu tersebut dipindahkan lalu ditaruhlah pokok-pokok kelapa. Bertahun-tahun kemudian, barulah jembatan itu dibuat sempurna, lengkap dengan alas papan dan penyangga besi.

“Fungsinya untuk ceurucok (tempat boat-boat nelayan diikatkan atau dermaga-red). Hanya saja tak berfungsi karena tempatnya berada di pinggiran laut yang dangkal,” kata salah seorang warga. []

Loading...