Kuliner

19 tahun Berjualan Leumang dan Boh Manok Weng di Lameue

·
19 tahun Berjualan Leumang dan Boh Manok Weng di Lameue
Leumang di Gampong Lameue Meunasah Raya, Kecamatan Sakti. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Iskandar, 62 Tahun, warga Gampong Lameue Meunasah Raya, Kecamatan Sakti, pemilik kedai boh manok weng dan leumang, sedang membakar leumang di belakang kedainya, Selasa, 25 Desember 2018 pagi. Asap mengepul di antara puluhan leumang yang tersusun di tempat pembakaran. 

Leumang-leumang itu dimasukkan dalam buluh bambu yang telah dipotong dengan panjang sekitar 40-80 sentimeter. Isinya beras ketan dan santan yang dibalut daun pisang muda. Mereka dibakar pada bara api dengan sudut kemiringan kira-kira 80 derajat.

Di kedai itu, terdapat pondok-pondok seukuran 1,5 x 1,5 meter dengan atap daun nipah.

Iskandar mengatakan, ia sudah 19 tahun berjualan boh manok weng atau kopi telur kocok dan leumang.

“Saya berpikir, apa yang paling menarik dijual. Sebelumnya saya juga membuat kue, tapi tak banyak laku, sehingga beralih ke leumang,” kata dia pada sinarpidie.co, Selasa, 25 Desember 2018.

Untuk menu kopi telur kocok, dalam sehari ia menghabiskan sebanyak 300 sampai 400 butir telur. Untuk panganan leumang, 180 sampai 200 batang leumang laku dalam sehari. Harga minuman dan panganan yang khas itu pun dapat dikatakan sangat terjangkau. Per potong, harga leumang Rp 1000. Sedangkan untuk kopi dengan telur kocok Rp 5000 per gelas.

Per potong, harga leumang Rp 1000. Sedangkan untuk kopi dengan telur kocok Rp 5000 per gelas. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Saat musim durian tiba pengunjung juga akan lebih ramai ke sini, karena duriann dengan leumang paduan yang lengkap lezatnya,” katanya lagi.

Sehari-hari, Iskandar dibantu oleh istri dan ketujuh anaknya. []

Loading...