Dua anggota Brimob BKO Tiro ditembak di Tugu Gampong Pulo Keunari, Tiro, Pidie, sekitar pukul 10.00 WIB Selasa, 24 Juli 2001. Puluhan Brimob masuk ke pemukiman penduduk di Gampong Pulo Keunari, Gampong Peunadok, dan Gampong Pulo Glumpang, Kecamatan Tiro/Truseb, untuk membalas kematian dua rekannya. Brimob membakar rumah, kedai, kilang padi, serta menembak ternak dan menembak warga.

Hidup tetap harus berjalan. Kami di sini tetap harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Tidak ada pemulihan trauma yang diberikan oleh pemerintah.

Warni Idris, 48 tahun. Buruh tani

MENGENDARAI sepeda motor Honda GL Pro, dua anggota Brimob BKO yang bertugas di Pos Mancang, Tiro—Sertu Irhamna dan Serda Agusmeidi— meninggalkan pos mereka menuju ke Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie, pada Selasa, 24 Juli 2001 sekitar pukul 10.00 WIB. Jarak tempuh dari Gampong Mancang, Tiro, ke Gampong Pulo Keunari sekitar tiga kilometer. Mereka meninggalkan pos yang berada dalam satu kompleks dengan Mapolsek Tiro/Truseb untuk mengantar uang pembelian ayam jago pada warga di Gampong Pulo Keunari. Saat-saat itu, sedikitnya 30 Brimob BKO dari Resimen II Pelopor berada di Kompleks Mapolsek Tiro/Truseb.

Setibanya mereka di Tugu Gampong Pulo Keunari, kedua anggota Brimob ini diberendong peluru. Keduanya tewas di tempat. Pelaku penembakan dua anggota Brimob BKO ini diduga anggota Gerakan Aceh Merdeka atau GAM.

Dalam Juli 2001, pasukan Brimob BKO Tiro, setidaknya, telah menembak mati tiga warga sipil. Aswadi Saifullah, —saat itu 22 tahun— warga Meunasah Eumpeuh, Tiro, Pidie, ditangkap pada 4 Juli 2001, lalu pada 5 Juli, Aswadi ditembak di Blang Lamlo, Kecamatan Sakti, Pidie. Pada 10 Juli 2001, pasukan Brimob BKO Tiro menembak M Ali Amin, 28 tahun, warga Gampong Trieng Cudo Baroeh. Selanjutnya, pada 10 Juli 2001, pasukan Brimob BKO Tiro menembak M Yusuf Abu Bakar, 22 tahun, warga Gampong Meunasah Baroeh, Kecamatan Mutiara, Pidie.

Selang satu jam setelah penembakan dua anggota Brimob BKO Tiro, puluhan pasukan Brimob bersenjata lengkap merengsek masuk ke pemukiman warga di Gampong Pulo Keunari dengan menumpangi truk reo.

Kamarullah, kini 47 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, sedang berjualan di kedai kelontongnya saat pasukan Brimob masuk ke gampongnya. Mendengar letusan senjata, Kamarullah bergegas menutup kedainya itu, lalu ia berlari ke Masjid Pulo Kenari. Di masjid, ia bertemu sepupunya, M Yusuf, —saat itu berumur 27 tahun— dan Banta Cut M Piah, kini 57 tahun.

Saat waktu salat Zuhur tiba, Kamarullah, Banta Cut dan M Yusuf, meninggalkan masjid. “Bang,” kata Kamarullah, menirukan ucapan M Yusuf padanyanya saat itu, “lebih baik kita bersembunyi di rumah Abang saja.”

Sesampainya mereka di rumah Kamarullah, M Yusuf memilih bersembunyi di kamar mandi, sedangkan Kamarullah dan Banta bersembunyi di bawah kolong tempat tidur di dalam kamar.

Kamarullah, kini 47 tahun, warga Gampong Pulo Keunari berfoto di depan bekas kilang padi yang dibakar pasukan Brimob. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen)

Suara tapak sepatu lars terdengar. Denting selongsong peluru yang beradu, yang dijatuhkan ke atas tempat tidur, juga terdengar jelas oleh Kamarullah.

“Kemudian, Brimob menyiram minyak ke atas kasur dan ke sejumlah sudut lainnya di kamar. Kami mencium bau minyak yang menyengat dan merasakan tetesan minyak sampai ke bawah,” kata Kamarullah. “Sempat terpikir untuk segera mengucapkan kata-kata jangan bakar rumah saya. Jika ucapan itu keluar dari mulut saya, nyawa saya tidak akan tertolong.”

Kamarullah mendengar suara korek api kayu yang dinyalakan. Setelah membakar kamarnya, Brimob tersebut bergegas keluar dari kamar. Sang Brimob menangkap M Yusuf.

“Lari kau,” kata sang Brimob pada M Yusuf.

Sesaat kemudian, suara tembakan terdengar sebanyak tiga kali.

Karena kamar sudah terbakar dan sang Brimob telah meninggalkan rumah, Kamarullah dan Banta bersembunyi di dalam sumur dengan lima cincin. Beberapa menit bersembunyi di dalam sumur, mereka akhirnya keluar dari rumah tersebut.

Ia terisak sesaat tatkala melihat tubuh M Yusuf yang telah terkapar di tanah. Tapi itu tak berlangsung lama. Kamarullah dan Banta Cut lantas melarikan diri Gampong Daya Cot, yang bersebelahan dengan Gampong Pulo Keunari.

Tugu Gampong Pulo Keunari, tempat dua anggota Brimob ini diberendong peluru. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Di Gampong Daya Cot, saya berjumpa dengan seseorang. Saya memberitahukan pada orang tersebut bahwa M Yusuf telah meninggal. Mayatnya tergeletak di belakang rumah saya. Selanjutnya, saya dan Banta lari ke pegunungan Cot Cukok,” kata Kamarullah lagi.

Letak Cot Cukok sekitar tujuh kilometer dari Gampong Pulo Keunari. Kamarullah dan Banta mengasingkan diri di Cot Cukok selama satu minggu. Di sana, ia makan daun ubi untuk bertahan hidup. Ia kemudian pulang ke Gampong Pulo Keunari untuk mengemas barang-barangnya yang masih tersisa lalu berangkat ke Medan, Sumatera Utara. Sementara, Banta Cut mengasingkan diri ke Kota Sigli, yang jauhnya sekitar 25 kilometer dari Gampong Pulo Keunari.

***

UMMI KALSUM, 57 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie, masih dapat mengingat dengan jelas peristiwa mengerikan yang terjadi pada hari itu.

“Selain M Yusuf, dua warga lainnya juga meninggal karena terbakar di dalam bangunan. Keduanya ialah Teungku Makam dan Teungku Rasyid Batee,” sebut Ummi Kalsum, Selasa, 5 Januari 2021, di Gampong Pulo Keunari.

Teungku Rasyid merupakan penjual garam yang berasal dari Batee, Pidie. Pada tahun-tahun itu, dengan mengayuh sepada ontel, ia menjajakan garam hingga ke pelosok Tiro. Rasyid tewas setelah dilemparkan ke dalam kobaran api.

UMMI KALSUM, 57 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Hari itu, sebagian besar perempuan tidak berada di rumah mereka, karena mereka pergi bertakziah ke Gampong Cot Murong, Kecamatan Sakti, Pidie, sekitar empat kilometer dari Gampong Pulo Keunari.

Ummi Salamah, 51 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, adalah salah satu perempuan yang berada di Gampong Cot Murong, Kecamatan Sakti, saat rumahnya dibakar pasukan Brimob.

“Sekitar pukul 17.00 WIB, setelah letusan senjata reda, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di gampong, kami melihat rumah kami sudah hangus terbakar,” kata Umi Salamah, Kamis, 7 Januari 2021.

Ummi Salamah, 51 tahun, warga Gampong Pulo Keunari. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Umi Salamah melihat pasukan Brimob kembali ke gampong pada sore itu untuk membakar kilang padi dan kedai yang sebelumnya belum dibakar.

Pasukan Brimob membakar 25 unit rumah, 27 unit kedai, dan satu unit kilang padi di Gampong Pulo Keunari. Rumah-rumah yang memiliki berkarung-karung padi karena masa panen padi baru saja usai saat itu.

Sebagian besar pria di Gampong Pulo Keunari telah terlebih dahulu melarikan diri ke pegunungan Cot Rheng, Cot Cukok dan ke Gle Sala.

Tangisan perempuan dan anak-anak menggantung di udara. Perempuan dan anak-anak diminta keluar dari rumah dan diminta untuk berbaris.

Keesokan harinya, sejumlah perempuan yang berada di Gampong Keunari menggali tanah sedalam satu meter setengah untuk menguburkan dua warga yang meninggal. Sementara, jenazah Teungku Rasyid Batee dipulangkan oleh keluarganya ke Batee.

Mereka yang rumahnya terbakar menumpang tinggal untuk sementara di rumah kerabat mereka di gampong setempat yang tidak dibakar.

***

PADA RABU, 25 Juli 2001, sehari setelah pasukan Brimob membumi hanguskan Gampong Pulo Keunari, mereka membumi hanguskan Dusun Labo Adang, Gampong Peunadok, Kecamatan Tiro, Pidie.

Di Dusun Labo Adang, pasukan Brimob tidak menemukan seorang lelaki pun di sana, kecuali perempuan dan anak-anak.

Warni Idris, 48 tahun, menceritakan pasukan Brimob tiba di Dusun Labo Adang sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka datang dengan menggunakan truk reo.

Warni baru 16 hari melahirkan anak keduanya saat pasukan Brimob datang ke rumahnya. Warni belakangan meninggalkan rumah dengan membawa bayinya ke rumah Abubakar.

Pasukan Brimob menenteng jerigen yang berisi minyak. Setelah menyiram minyak ke rumah warga, mereka menyulut korek api kayu lalu melemparkannya ke dalam rumah warga yang telah disirami minyak.

Pukul 12.00 WIB, 27 unit rumah di Dusun Labo Adang, Gampong Peunadok, Tiro, ludes terbakar. “Saya mencari kain di bekas rumah yang terbakar. Ibu saya yang masuk ke dalam rumah untuk mengambil kain. Kami mendapatkan beberapa lembar kain untuk kami pakai saat itu,” kata Warni.

Warni Idris, 48 tahun. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Para perempuan tersebut mengungsi ke Meunasah (Surau) Labo Adang selama tiga bulan. “Pada masa-masa pengungsian tersebut, kami membuat sekat-sekat di bawah Meunasah Labo Adang dari seng bekas kebakaran. Untuk dapur. Di atas meunasah, kami gunakan sebagai tempat tidur,” kenang Warni.

Teror pasukan Brimob belum berhenti. Kata Warni, subuh selama masa-masa pengungsian, mereka datang untuk menanyakan keberadaan GAM. “Brimob datang sehari berselang selama kami mengungsi di sana. Saat-saat itu, kami menjalani hidup dengan saling berbagi makanan, pakaian dan apapun yang bisa dibagi,” kata Warni lagi.

Infografis sinarpidie.co.

Sebagian perempuan belum bisa menghilangkan trauma masa lalu. “Hidup tetap harus berjalan. Kami di sini tetap harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Tidak ada pemulihan trauma yang diberikan oleh pemerintah,” kata Warni. “Saya sudah mengikhlaskan harta benda yang terbakar. Saya hanya pasrah. Tapi saya tidak pernah bisa melupakan kejadian itu!”

Sehari hari, Warni bekerja sebagai buruh tani.

Selain Gampong Pulo Keunari dan di Duson Labo Adang Gampong Peunadok, 25 unit rumah, satu kilang padi, dan satu kedai di Gampong Pulo Glumpang, Tiro, juga dibakar pasukan Brimob.

Pada 2002, rumah-rumah yang dibakar Brimob di Tiro/Truseb dibangun kembali oleh pemerintah. Bentuk rumah yang dibangun oleh pemerintah. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

***

Gerakan Aceh Merdeka atau GAM diproklamirkan pada 4 Desember 1976 dengan tujuan berdirinya Negara Aceh Sumatra sebagai kelanjutan Kesultanan Aceh Darussalam.

Gerakan yang dipimpin Dr Hasan di Tiro ini masih terbatas dan belum memperoleh simpati masyarakat Aceh hingga pada 1982.

GAM bangkit pada tahun 1989. Mengutip Jafar Siddiq Hamzah dalam makalahnya Kasus Aceh: Mengapa Advokasi Internasional?, kebangkitan GAM tersebut ditanggapi Pemerintah Indonesia di bawah rezim Soeharto dengan penerapan Daerah Operasi Militer atau DOM dengan pengiriman pasukan khusus (combat troops) pada pertengahan 1990. Keputusan rezim Soeharto menggelar operasi yang kemudian terbukti berdampak luar biasa terhadap pelanggaran hak asasi manusia (gross human rights violations) dan memakan ribuan korban jiwa.

“Saya yakin sedikit banyaknya didorong oleh situasi yang memang sangat membantu: kekuasaan eksekutif yang sangat besar - DPR/MPR (Parlemennya Indonesia) dan lembaga peradilan sepenuhnya tunduk di bawah pengaruh presiden; hukum masih sangat jauh dari memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, sedang aparat penegak hukumnya sendiri sangat korup dan sepenuhnya berada di bawah kendali penguasa; serta belum adanya undang-undang yang mengatur operasi militer - tentara Indonesia hingga kini masih dibenarkan melakukan tindakan sekeji apapun, dengan mengatasnamakan negara,” tulis Jafar.

Pada 1998, sebut Jafar, GAM memperoleh momentum untuk lebih berkembang, menyusul tumbangnya Soeharto dan bangkitnya gerakan sipil yang dipelopori mahasiswa termasuk di Aceh. Rakyat Aceh, yang mayoritasnya sudah sangat kecewa, mengubah dukungan mereka yang selama ini pasif dan tertutup kepada GAM menjadi lebih aktif dan terbuka, meski sering secara tidak langsung. “Tindakan rakyat Aceh, di kota-kota maupun pedesaan, mengukir kata referendum di badan-badan jalan dan bangunan; serta peristiwa rally sekitar 1,5 juta rakyat Aceh di Banda Aceh, 8 Nopember lalu (1999), menuntut diselenggarakannya referendum untuk merdeka, merupakan penegasan atas fenomena tersebut,” tulis Jafar, menguraikan.

Cikal bakal perundingan damai antara GAM dan Pemerintah Indonesia dirintis sejak Juli 1999 di Bangkok: pertemuan antara  perwakilan GAM dan tokoh masyarakat Aceh untuk membahas penyelesaian konflik Aceh lewat perdamaian. Pada 12 Mei 2000, GAM dan Pemerintah Indonesia menandatangani Jeda Kemanusiaan atau Joint Understanding on Humanitarian Pause di Davos, Swiss. Pada 9 Desember 2002, GAM dan Pemerintah RI menandatangani penghentian permusuhan di Jenewa, Swiss. Namun, penghentian permusuhan tersebut tak berlangsung lama. Pada 19 Mei 2003, mantan Presiden Megawati mengumumkan operasi militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 tentara dan 12.000 polisi. Pada 15 Agustus 2005, Pemerintah RI dan GAM menandatangani Kesepakatan Helsinki atau MoU Helsinki.

Pada 2002, rumah-rumah yang dibakar Brimob di Tiro/Truseb dibangun kembali oleh pemerintah. Pemilik kedai diberi uang ganti rugi Rp 45 juta per unit. Sementara, penyewa kedai tidak diberi uang ganti rugi apapun. []