Lahan tempat penggembalaan ternak kian hari kian menyusut.

Dulu, bukit-bukit di sini merupakan rimba tidak bertuan. Tapi, sejak jalan tol dibangun, bukit-bukit ini sudah mempunyai pemilik dan bernilai miliaran rupiah.

Muzakkir Peternak di Padang Tiji.

Pada 2007 silam, Muzakkir, 34 tahun, warga Gampong Jurong Gampong Cot Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, mengembalakan 20-an ekor sapi dengan pola mawah—bagi hasil—di punggung gugusan bukit barisan di Padang Tiji, Pidie.

14 tahun kemudian, ia masih menggembalakan sedikitnya 50-an ekor sapi yang terdiri dari empat induk sapi jantan dan 25 induk sapi betina. Sisanya adalah anak-anak sapi.

Dari rumahnya yang terletak di Gampong Jurong Gampong Cot Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, untuk menuju ke punggung bukit Karuempa, tempat sapi-sapi yang digembalakan berada, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui Sigli ini menempuh perjalanan 45 menit berkendara.

Dengan mengendarai sepeda motor, Muzakir melintasi jalur bekas rel kereta api dan kebun-kebun warga Minggu, 27 Juni 2021. Di sepanjang jalan, mesin-mesin alat berat, untuk pembangunan jalan tol Sigli-Banda Aceh, menderu.

Muzakir melewati enam anak sungai dan melintasi empat jembatan untuk bisa sampai ke Karuempa, perbatasan Padang Tiji- Lamtamot, Aceh Besar.

Puncak-puncak bukit di kiri dan kanan jalan tak lagi tegak. Mereka sudah rontok menjadi tumpukan tanah karena aktivitas penambangan tanah urug untuk pembangunan jalan tol Sigli-Banda Aceh. “Dulu, bukit-bukit di sini merupakan rimba tidak bertuan. Tapi, sejak jalan tol dibangun, bukit-bukit ini sudah mempunyai pemilik dan bernilai miliaran rupiah,” kata Muzakkir, menunjuk ke salah satu puncak bukit yang sedang dikeruk dengan alat berat.

Pembukaan lahan untuk pembangunan jalan tol di Padang Tiji. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Semula, Muzakkir menggembalakan sapi dengan pola mawah— setiap satu anak sapi yang dilahirkan induk sapi yang dipelihara Muzakkir dibagi dua dengan si pemilik induk sapi—di Lindeknga, sekitar lima kilometer dari Kareumpa.

Pemindahan kandang sapinya dari Lindeknga ke Kareumba ia lakukan karena adanya pembukaan lahan-lahan perkebunan baru oleh warga kecamatan setempat. Perlahan-lahan hutan di Karuempa mulai beralih menjadi kebun.

“Kandang sapi tidak boleh berdekatan dengan lahan perkebunan warga karena kita akan mengalami kesulitan saat hendak mengandangkan mereka,” kata dia.

Padang gembala seluas setengah lapangan sepak bola, tempat puluhan sapi sedang merumput, terhampar di sepanjang jalan menuju ke Kareumpa.

Beberapa meter sebelum ia tiba di kandang sapinya, Muzakkir mematikan mesin dan turun dari sepeda motor.

Euh..., euh..., woe, woe, (pulang…, pulang),” ujar Muzakkir, memanggil sapi-sapinya pulang ke kandang.

Dua induk sapi menghampiri Muzakkir yang berdiri di bawah cabang-cabang pohon yang menjuntai. Sesaat kemudian, puluhan ekor sapi lainnya menghambur dari balik hutan. Begitu Muzakkir tiba di depan kandang, dua puluhan ekor sapi masuk ke dalam kandang. Muzakkir lalu mengambil garam di bagasi  sepeda motornya. Garam itu ia taburkan ke beberapa titik di dalam kandang. Sapi-sapi itu terlihat memakan garam-garam tersebut.

“Sapi-sapi saya ini sangat mudah mengenali suara saya. Mereka tidak akan menurut jika suara orang lain yang mereka dengar,” kata Muzakkir.

Kandang sapinya berukuran 12 x 10 meter. Kandang itu berdiri di atas hamparan tanah lumayan datar, dan di sekelilingnya dipagari dengan kawat berduri. Sekitar 50 meter dari kandang tersebut, terdapat anak sungai yang alirannya bergemericik.

Sapi-sapi yang dipelihara Muzakkir dengan sistem mawah atau bagi hasil. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Saat saya mau menjual sapi, mereka harus terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kandang. Baru kemudian diangkut dengan mobil pikap. Ongkos menangkap satu ekor sapi, termasuk biaya transportasi menurunkan sapi ke bawah, Rp 300 ribu. Menjelang meugang, banyak peternak menjual sapi-sapi mereka,” kata Muzakkir.

Kelebihan beternak di padang gembala, menurut Muzakkir, adalah ketersediaan pakan alami yang tak terbatas. Di samping itu, kasus kematian sapi di padang gembala juga relatif kecil.

Kandang sapi dari tiang-tiang batang pohon dan kawat berduri. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Sapi-sapi yang hidup di hutan biasanya mengalami sakit hanya pada saat musim hujan. Pada saat sapi sakit, saya akan mengobati sapi-sapi yang saya gembalakan dengan membawa mereka turun ke kampung. Di sana sapi yang sakit akan diobati oleh dokter hewan atau mantri hewan. Setelah sembuh, sapi itu akan saya naikkan kembali ke hutan,” tuturnya. “Setiap satu tahun, induk betina akan melahirkan seekor anak sapi.”

***

Di punggung perbukitan Cot Blang Seupeng, Kecamatan Mila, Pidie, Hanafiah, 60 tahun, warga Gampong Kumbang, Kecamatan Mila, Pidie, memelihara tujuh ekor sapi dengan pola yang sama: mawah. Cot Blang Seupeng merupakan bagian dari gugusan bukit barisan.

Hanafiah, 60 tahun, Gampong Kumbang, Kecamatan Mila, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Kata Hanafiah, lahan tempat ternak digembalakan semakin hari semakin sempit karena aktivitas pembukaan lahan-lahan perkebunan. Sepuluh tahun lalu, Hanafiah memelihara sekitar 30-an ekor sapi. Saat itu, ia menggembalakan sapi-sapi yang ia pelihara di perbukitan di Cot Tembok, Kecamatan Mila, Pidie. “Sekarang saya sudah tidak lagi menggembalakan sapi di sana karena sudah banyak kebun-kebun warga,” kata Hanafiah, Minggu, 4 Juli 2021.

Hanafiah mengungkapkan bahwa pemerintah seharusnya menyediakan lahan khusus untuk kawasan peternakan. Sebab, kendala peternak selama ini adalah nihilnya kawasan khusus untuk peternakan. “Jika pun dulu ada, kini sudah beralih fungsi menjadi kebun. Saya sangat mendukung program pemerintah untuk menyediakan lahan khusus peternakan di wilayah ini,” kata Hanafiah.

Infografis sinarpidie.co.

Selain Hanafiah, keluhan yang sama juga disampaikan oleh Mukhtar Abu, 63 tahun, warga Gampong Kumbang, Kecamatan Mila, Pidie.

Ia memelihara delapan ekor sapi.

Bertahun-tahun yang lalu, sapi yang ia pelihara mencapai 30-an ekor. Tapi karena padang gembala yang semakin sempit, Mukhtar Abu tidak sanggup lagi mengurus sapi dalam jumlah banyak. “Sapi peliharaan saya saat ini hanya mencari rumput di kebun milik saya sendiri yang memiliki luas lima hektare. Kalau sapi pergi ke kawasan lain, saya menghalaunya dan membawanya kembali ke kandang,” kata Mukhtar Abu. “Jika tidak dihalau, risikonya, sapi-sapi itu akan masuk ke kebun orang.”

Abdullah, 70 tahun, warga Gampong Kumbang, Kecamatan Mila, hendak mengandangkan sapi-sapi yang ia pelihara. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Kawasan peruntukkan peternakan, yang tertera di dalam Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Pidie Tahun 2014-2034, adalah seluas 221,87 hektare: Kecamatan Mane seluas 56,71 hektare, Kecamatan Padang Tiji seluas 16,75 hektare, Kecamatan Tangse seluas 48,32 hektare, Kecamatan Tiro/Truseb seluas 6,17 hektare, Kecamatan Mila seluas 34,51 hektare, Kecamatan Keumala seluas 46,23 hektare, dan Kecamaan Delima seluas 13,18 hektare.

Namun hingga kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie belum menentukan, apalagi mengembangkan, kawasan peternakan yang terpadu dan terintegerasi.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, drh Ernida, mengatakan bahwa pihaknya sedang meninjau lokasi—di Kecamatan Muara Tiga dan Padang Tiji—yang cocok untuk dijadikan kawasan peternakan. “Masalahnya, kita belum menentukan di daerah mana lokasi kawasan peternakan terpadu dan terintegerasi akan dibangun,” kata Ernida, Selasa, 29 Juni 2021.

Menurut Ernida, kawasan peternakan terpadu dan terintegerasi, minimal, mesti memiliki luas lahan 50 hektare. “Di dalam areal itu, kita juga harus menyediakan sarana dan prasarana seperti gudang pakan dan kandang yang memadai,” tuturnya. []