Penyimpanan sementara limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli dilakukan di TPS terbuka tanpa alat pendingin atau cold storage atau freezer agar temperatur untuk penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, memenuhi standar pengelolaan limbah B3 kategori satu.

Tapi izin ini sendiri pun diurus dua tahun yang lalu. Pertanyaannya mengapa tidak ada pendingin dan berada di ruang terbuka, itu harus diperbaiki.

Safrizal SSTP Mec Dev Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pidie

Warga Gampong Lampeudeu Baroh, Kecamatan Pidie, yang bertahun-tahun terganggu bau busuk yang berasal dari halaman belakang RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli, melayangkan protes.

Riswandi, 30 tahun, Sekretaris Gampong Lampeudeu Baroh, mengatakan pada Senin, 18 Januari 2021 pihaknya telah menyurati Direktur RSUD TCD, dr Muhammad Yassir Sp An, terkait bau busuk yang berasal dari tumpukan limbah domestik di dalam dua kontainer sampah yang diletakkan di belakang musala rumah sakit tersebut.

Setiap kontainer sampah domestik atau tempat penampungan sementara (TPS) sampah domestik tersebut mampu menanampung sekitar 600 kilogram sampah. Setiap harinya, dua kontainer ini dibiarkan dalam keadaan terbuka.

“Jika hujan, baunya akan lebih menyengat,” kata Riswandi, Rabu, 17 Februari 2021.

Setiap harinya, limbah domestik yang berasal dari rumah sakit ini mencapai 500 kilogram. Petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pidie mengangkut limbah domestik tersebut dengan truk pengangkut sampah ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) di Cot Padang Nila, Padang Tiji, setiap dua hari sekali.

Keluhan warga terhadap bau sampah domestik rumah sakit yang terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk ini hanyalah bagian kecil dari buruknya pengelolaan limbah di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie ini.

Setiap harinya, RSUD TCD memproduksi 100 hingga 130 kilogram limbah infeksius, salah satu limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang jauh lebih membahayakan daripada limbah domestik.

Pengelolaan limbah B3 diatur di dalam UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3.

Secara khusus, pengelolaan limbah B3 di fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) diatur di dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor: P.56/Menlhk-Setjen/2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Limbah B3 yang dihasilkan dari pelayanan kesehatan dikelompokkan ke dalam limbah infeksius, patologi, benda tajam, farmasi, sitotoksis, radioaktif, kontainer bertekanan, peralatan medis yang memiliki kandungan logam berat tinggi, dan limbah kimiawi.

Limbah-limbah B3 yang dihasilkan pada pelayanan kesehatan ini, berdasarkan kategori bahayanya, merupakan limbah B3 kategori satu, yaitu limbah B3 yang berdampak akut dan langsung terhadap manusia.

Tahapan pengelolaan limbah di Fasyankes terdiri dari pengurangan, pemilahan dan pewadahan, penyimpanan sementara, pengangkutan, pengolahan, penguburan, dan penimbunan.

Kekacauan pengelolaan limbah B3 di RSUD TCD dimulai pada tahapan pengurangan, serta pemilahan dan pewadahan. Meski regulasi telah menekankan bahwa pewadahan ditandai: kantong merah untuk limbah radioaktif, kantong kuning untuk limbah infeksius dan limbah patologis, kantong ungu untuk limbah sitotoksik dan kantong cokelat untuk limbah bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, atau sisa kemasan serta limbah farmasi, limbah-limbah B3 yang menumpuk di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Limbah B3 RSUD TCD rata-rata dikemas di dalam kantong bewarna kuning.

Dengan kata lain, penggunaan wadah limbah B3 sesuai kelompok limbah B3 dan penggunaan warna pada setiap wadah limbah sesuai karakteristik limbah B3 tidak benar-benar dijalankan dengan baik di RSUD TCD.

Direktur RSUD TCD, dr Yassir SP An, menolak dikonfirmasi. Ia mendelegasikan hal itu pada Wakil Direktur SDM, dr Ikhsan Sp OT.

Infografis sinarpidie.co.

Kata dr Ikhsan, RSUD TCD melakukan pemilahan limbah B3 secara khusus sesuai dengan regulasi. “Ada warna kuning, dan ada warna yang lain. Kita terus berupaya untuk melakukan standarisasi sesuai amanat peraturan perundang-undangan,” kata dr Ikhsan, yang juga menjabat sebagai juru bicara RSUD TCD, Senin, 22 Februari 2021.

Sebagai penghasil limbah B3, RSUD TCD memang telah mengantongi izin operasional penyimpanan limbah B3 di TPS Limbah B3 lewat Keputusan Bupati Pidie nomor 660/18/Kep.19/2018 tentang Izin TPS Limbah B3 RSUD TCD.

Peraturan perundang-undangan membatasi kewenangan bupati dalam perizinan pengelolaan limbah hanya pada izin penyimpanan dan pengumpulan limbah B3. Sementara, izin pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, penimbunan, dan pembuangan limbah B3 menjadi kewenangan dan diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Namun, TPS Limbah B3 RSUD TCD, yang menyimpan limbah infeksius, sama sekali tidak memenuhi standar yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan. Konstruksi TPS limbah B3 di RSUD TCD seperti kandang sapi: dinding bangunan ini setengah beton dengan jeruji besi di atasnya. Padahal, penyimpanan sementara limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, harus dilakukan pada ruang tertutup dengan temperatur lebih besar dari nol derajat celcius. Dengan kata lain, selain menyimpan limbah infeksius di TPS limbah B3 yang terbuka, RSUD TCD Sigli juga tidak memiliki alat pendingin atau cold storage atau freezer agar temperatur untuk penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, memenuhi standar tersebut.

Limbah infeksius dalam kantong kuning di TPS Limbah B3 RSUD TCD Sigli. Foto direkam pada Jumat, 19 Februari 2021 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

dr Ikhsan mengatakan bahwa penyimpanan limbah infeksius dalam kantong kuning dapat dilakukan di TPS Limbah B3 yang terbuka tanpa pendingin asalkan pemusnahan limbah-limbah tersebut tidak dilakukan lebih dari 2 kali 24 jam. “Untuk penyimpanan yang tidak terlalu lama karena dimusnahkan dengan insinerator yang memiliki thermal hingga 2000 derajat celsius,” tuturnya.

Katanya lagi, TPS Limbah B3 tersebut telah memenuhi standar yang diatur di dalam regulasi. “Proses perizinan dan proses pemusnahan sampah tersebut telah sesuai standar yang ditentukan,” kata dr Ikhsan.

Namun, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pidie, Safrizal SSTP Mec Dev, mengatakan limbah B3 infeksius harus disimpan di dalam ruangan tertutup yang memiliki pendingin agar standar terpenuhi. “TPS Limbah B3 mereka memang telah memiliki izin. Artinya, ketika pengurusan izin TPS tersebut sudah standar. Tapi izin ini sendiri pun diurus dua tahun yang lalu. Pertanyaannya mengapa tidak ada pendingin dan berada di ruang terbuka, itu harus diperbaiki,” katanya, Jumat, 19 Februari 2021.

TPS Limbah B3 RSUD TCD, yang menyimpan limbah infeksius, sama sekali tidak memenuhi standar yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan. Seharusnya limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, harus disimpan pada ruang tertutup dengan temperatur lebih besar dari nol derajat celcius. Foto direkam pada Jumat, 19 Februari 2021 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Karena tidak mengantongi izin operasional pengangkutan dan pengolahan Limbah B3, RSUD TCD bekerja sama dengan pihak ketiga. Untuk pengangkutan limbah B3, rumah sakit ini bekerjasama dengan PT Cahaya Tanjung Tiram Perkasa.

Namun, pengangkutan limbah B3 di rumah sakit ini dilakukan sebulan sekali, sementara peraturan perundang-undangan mengatur bahwa penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam paling lama 2 hari pada temperatur di atas nol derajat celcius atau 90 hari pada temperatur lebih kecil dari nol derajat celcius di ruang berpendingin.

Meski belum mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemusnahan limbah B3 di rumah sakit ini dilakukan melalui insinerator. Hal ini didasari alasan pandemi Covid-19. Persetujuan ini diberikan lewat surat KLHK nomor S.698/VPLB3/PPLB3/PLB.3/08/2020 tertanggal 25 Agustus 2020.

Limbah B3 infeksius yang dimusnahkan dengan insinerator sekitar 200 kg dalam dua hari sekali dengan thermal 1000 derajat celsius.

Terdapat empat operator mesin insinerator berbahan bakar solar ini. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembakaran adalah 2-3 jam dengan menghabiskan 60 liter solar. Pembakaran limbah B3 infeksius tersebut dilakukan pada sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB dalam dua hari sekali.

Empat operator tersebut diupah Rp 600 ribu per bulan, namun dalam dua bulan terakhir, upah mereka belum dibayar.

sinarpidie.co mengamati proses pembakaran limbah B3 infeksius dengan insinerator di RSUD TCD. Asap hitam keluar dari sebuah cerobong selama beberapa detik, Jumat, 19 Februari 2021 siang. Sejurus kemudian, asap tersebut sesekali kembali mengepul dari cerobong.

Cerobong asap insinerator sepanjang 17 meter yang mengeluarkan emisi saat pembakaran limbah B3 infeksius. Foto direkam pada Jumat, 19 Februari 2021 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Mesin insinerator terletak di sebuah ruangan berukuran 4 kali 6 meter persegi, di belakang ruang jenazah, sekitar 50 meter dari Gedung Pidie Convention Center (PCC). Pada bangunan yang sama, di sebelah ruang insinerator, terdapat tempat penyimpanan sementara (TPS) Limbah B3 dengan luas yang sama.

TPS Limbah B3 itu penuh dengan kantong-kantong plastik bewarna kuning, kantong untuk limbah infeksius. Di samping ruangan insinerator, terdapat dua septic tank yang menyimpan abu atau residu hasil pembakaran insinerator. Residu itu mengendap di sana selama berbulan-bulan. []