Arjuna mengirimkan surat ke Stockholm, Swedia, tempat para petinggi GAM bermukim. Ia mendesak agar Stockholm tidak hanya berpangku tangan atas kondisi Aceh yang telah berdarah-darah akibat konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah Indonesia. GAM membutuhkan senjata dan logistik perang. Balasan dari Stockholm cukup mengejutkan: pemecatan Arjuna.

Dia (Arjuna) pernah menjadi supir truk lalu bekerja sebagai penjual buah di Malaysia.

Syarbaini Adik Arjuna.

Masih melekat kuat dalam ingatan Teungku Abdul Wahab, 80 tahun, warga Gampong Krueng Seumiduen, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, tahun-tahun awal setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau Acheh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) dideklarasikan di Gunung Halimon, Pidie, pada 4 Desember 1976, senjata andalan yang dimiliki gerakan ini hanyalah sepucuk Lee-Enfield atau LE. “Hanya untuk propaganda,” kata Teungku Abdul Wahab, Kamis, 31 Desember 2020.

Saat-saat itu, Teungku Wahab bertugas mengumpulkan beras di gampong-gampong secara diam-diam untuk diserahkan pada pasukan GAM di gunung.

Senjata Lee-Enfield atau LE tersebut merupakan senjata milik Keuchik Amin, mantan pasukan DI/TII. Keuchik Amin tidak menyerahkan senjata tersebut pada Pemerintah Indonesia saat gerakan yang dipimpin Teungku Daud Beureuh ini turun gunung pada Juli 1963. LE ini semula ditanam di Blang Keudah, Tiro, Pidie.

Gani Ahmad atau yang akrab disapa Apa Gani Tiro, 75 tahun, adalah pemanggul LE tersebut di tahun-tahun setelah deklarasi GAM. “Senjata harus meletus,” kata Apa Gani, menirukan ucapan Deklarator GAM, Dr Hasan Tiro, padanya puluhan tahun silam.

“Gerakan ini semula dicemooh karena tidak memiliki senjata. Kami diejek dengan ejekan: berperang dengan senjata mainan dan peluru boh reum (amla-red),” kata Gani Ahmad lagi. “Tapi saat itu, semua mengakui peluru yang meletus dari senjata yang dipegang Gani Ahmad dan Pawang Rasyid tidak ada yang sia-sia!”

Gani Ahmad adalah mantan anggota DI/TII, yang belakangan bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka. “Saat bergabung dalam DI, karena masih anak-anak, tugas saya adalah membersihkan senjata. Saya tidak diizinkan ikut bergerilya,” kenangnya.

Antropolog Universitas Monash, Australia, Antje Missbach, dalam bukunya Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh, menuliskan Hasan Tiro mendeklarasikan GAM bersama 70 orang pengikutnya yang tak lain terdiri dari keluarga besarnya sendiri.

Tim Kell, dalam bukunya The Roots of Acehnese Rebellion, menyimpulkan bahwa tahun-tahun awal deklarasi GAM hingga 1982 tidak berjalan cukup sukses. Kendati demikian, gerakan tersebut tidak sepenuhnya bisa dihancurkan Pemerintah Indonesia.

GAM bangkit pada 1989. Antje Missbach menguraikan kebangkitan GAM pada periode 1989 terjadi setelah eks-Libya pulang ke Aceh.

Perekrutan angkatan pertama GAM untuk dilatih di Libya dilakukan pada 1986. “Selisih waktu dengan tahun deklarasi adalah 10 tahun. Pada angkatan tersebut, terdapat 42 anggota, maka disebut Angkatan 42,” kata Abdul Wahab.

Dua tahun setelahnya, pada 1988, giliran angkatan kedua yang dikirimkan ke Libya untuk memperoleh pendidikan politik dan militer. “Dari Pidie, jumlah pemuda yang saya rekomendasikan 12 pemuda. Satu di antara mereka adalah Arjuna,” sebut Abdul Wahab.

Arjuna dan 11 pemuda dari Pidie saat itu berangkat dari Kota Mini Beureunuen menuju ke Lhokseumawe menggunakan angkutan umum. “Titik berkumpul kami saat itu di ruko Teungku Wahab di Kota Mini,” kata Ridwan atau yang akrab disapa Rajawan, mantan kombatan GAM, Sabtu, 2 Januari 2021.

Di Lhokseumawe, pemuda dari Pidie ini menunggu pemuda dari beberapa daerah lainnya di Aceh sebelum mereka bertolak ke Medan, Sumatera Utara, dengan menumpangi bus. Dari Bandara Polonia Medan, mereka terbang ke Batam. “Dua hari di Batam, kami menyebrang ke Singapura dengan Kapal Feri,” sebut ayah tujuh anak ini. “Lima hari di Singapura. Kami disumpah di Singapura. Dari Singapura, kami turun di Malaysia, lalu dari Malaysia, pesawat transit di Thailand, Abu Dhabi, Yugoslavia, Belanda, Italia, Afrika (Libya).”

Sekitar satu tahun di Libya, mereka kembali ke Aceh lewat Malaysia. “Di Libya, sebelum mengikuti latihan, dites kesehatan di rumah sakit terlebih dahulu. Dari hasil tes kesehatan, tidak semua yang datang dari Aceh lulus. Mereka yang tidak lulus bekerja di dapur umum,” kata Rajawan. “Ada yang cedara saat latihan, dan ada yang dinyatakan tidak lulus.”

Beberapa waktu di Aceh dan menjadi pentolan GAM yang paling diburu saat itu, Arjuna meninggalkan Aceh menuju ke Malaysia pada 1992, satu tahun setelah adiknya, Syarbaini, bebas dari di Pos Sattis Lameulo pada Selasa, 1 Januari 1991. Sementara, ayahnya, Ahmad Daud, yang digelandang ke pos sattis tersebut bersama Syarbaini pada Sabtu, 14 Juli 1990 malam, hingga kini tidak diketahui jasadnya.

Selama beberapa tahun di Malaysia, Arjuna menggalang anggota GAM lainnya untuk mengirimkan surat ke Stockholm, Swedia, tempat para petinggi GAM bermukim kala itu. Ia mendesak agar Stockholm tidak hanya berpangku tangan atas kondisi Aceh yang telah berdarah-darah akibat konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah Indonesia. GAM membutuhkan senjata dan logistik perang.

Surat balasan yang ditandatangani Dr Hasan Tiro dari Stockholm cukup mengejutkan: Arjuna dikeluarkan dari organisasi. Sementara, sekitar 28 anggota GAM lainnya, yang juga ikut menandatangani surat tersebut, diberi sanksi pembinaan.

“Dia (Arjuna-red) pernah menjadi supir truk lalu bekerja sebagai penjual buah di Malaysia,” kata adik Arjuna, Syarbaini, Sabtu, 28 November 2020.

Syarbaini, 49 tahun, adik Arjuna. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Belakangan diketahui, Hasan Tiro tidak menjatuhkan sanksi tersebut pada Arjuna, tapi sanksi itu dijatuhkan petinggi GAM di Stockholm. Hasan Tiro kala itu sudah sakit-sakitan.

Merasa terancam di Malaysia setelah dikeluarkan dari GAM, Arjuna menyambangi KBRI di Malaysia untuk menyerahkan diri, dan pada 1996 ia kembali ke Indonesia. Arjuna dan kedua adiknya— Armia dan Syarbaini—berjualan sayur di Pasar Baru Bekasi.

***

SEBELUM meninggalkan Aceh lalu pergi ke Malaysia pada 1992, Arjuna dan Ahmad Lape, warga Gampong Seulatan Batee, menguburkan senjata AK-47, yang dirampas di Mapolsek Batee pada Minggu 2 September 1990.

Uang kertas Rp 100 disobek menjadi tiga bagian. Satu bagian sobekan dipegang oleh Arjuna, dua sobekan lainnya dipegang oleh Syarbaini dan Ahmad Lape.

Setelah bebas dari pos sattis, Syarbaini masih dikenai wajib lapor hingga 1993. Pada suatu pagi di tahun 1993, Syarbaini didatangi sekelompok anggota Kopassus. Komandan Kopassus yang kemudian membawa Syarbaini masuk ke dalam mobil Daihatsu Taft adalah Lettu Margiono. Di tengah todongan senjata, Syarbaini disodorkan surat dari Arjuna yang memintanya untuk memberitahukan letak AK 47 dikuburkan.

Syarbaini kemudian membawa Kopassus ke rumah Ahmad Lape. Tak lama kemudian, Ahmad Lape, Syarbaini dan Kopassus menuju ke sekitar Waduk Lhok Keumude, Batee, tempat  AK-47 itu dikuburkan.

Setelah AK-47 tersebut ditemukan, Ahmad Lape digelandang ke Pos Sattis di rumah Adi Karya di Gampong Asan, Kecamatan Kota Sigli. Di pos tersebut, ia mendapat pukulan dan penyiksaan. Ahmad kemudian juga dibawa ke Pos Sattis di Lameulo. Belakangan, Ahmad dibebaskan.

Pada 1999, Syarbaini dan adiknya Hayatun Nufus lulus sebagai PNS Formasi DOM. Keduanya saat ini bertugas di Kantor Kecamatan Batee.

***

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dalam dokumen ringkasan eksekutif hasil penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat Peristiwa di Aceh (Rumoh Geudong dan Pos sattis Lainnya), mengungkapkan bahwa saat Daerah Operasi Militer (DOM) dengan sandi Operasi Jaring Merah (1989-1998) diberlakukan di Aceh, Pos Satuan Taktis dan Strategis (Pos Sattis) dibentuk setidaknya di setiap kecamatan di 4 sektor, yaitu Sektor A/Pidie, Sektor B/Aceh Utara, Sektor C/Aceh Timur, dan Sektor D/Aceh Tengah. Pelaksanaan operasi yang berada di bawah komando Korem 011/Lilawangsa ini, berdasarkan penyelidikan Komnas HAM, dilakukan dengan pasukan Kopassus sebagai pelaksana lapangan.

Infografis sinarpidie.co.

Pos Sattis berfungsi sebagai tempat penyekapan orang-orang yang diperiksa, tempat interogasi, tempat penyiksaan, dan eksekusi.

"Aparat melakukan penangkapan atau penculikan terhadap warga yang dituduh sebagai anggota/keluarga anggota/simpatisan GPK-AM, setelah itu warga tersebut langsung ditembak atau dibawa ke salah satu Pos Sattis, di Pos warga tersebut akan disiksa, dibunuh, atau dihilangkan, di mana korbannya lebih banyak terhadap laki-laki, walau juga tidak sedikit korban perempuan; perlakuan terhadap korban perempuan, awalnya ditangkap atau diculik oleh aparat atau orang yang diperintahkan mengambil korban, dijadikan sandera agar orang yang dikehendaki aparat (GPK-AM) menyerahkan diri atau mendapatkan informasi tentang suami/anak/saudara/ayahnya yang dituduh terlibat GPK-AM, korban dibawa ke Pos Sattis atau ke suatu tempat, korban disiksa, dilecehkan (ditelanjangi), diperkosa, dibunuh; dan anak yang dipaksa dibawa ketika ibunya ditangkap dan ditahan,” demikian termaktub dalam ringkasan eksekutif Komnas HAM tersebut, terkait pola penangkapan dan penahanan terhadap para korban di Pos Sattis.

***

ARJUNA diduga dieksekusi oleh pasukan GAM. Pada Rabu, 14 Mei 2003, saat menyambangi rumah kerabatnya di Gampong Beurawang, Kecamatan Jeumpa, Bireun, untuk menghadiri kenduri peringatan maulid, ia dan adiknya, Armia, diculik. Hingga kini, jasad keduanya juga tidak diketahui. Armia meninggalkan tiga anak, dan Arjuna juga meninggalkan tiga anak. []

Selesai