Arjuna memimpin penyerangan Mapolsek Batee pada 2 September 1990 setelah ayah dan adiknya diculik dan disekap di Pos Sattis di asrama TNI di Kota Bakti atau Lameulo. Satu hari berselang setelah penyerangan Mapolsek, rumahnya di Gampong Seulatan, Batee, dibakar. Dua rumah lainnya di gampong tersebut juga ikut dibakar.

Belakangan, ditambah empat ruangan baru untuk tahanan. Luas setiap ruangan tiga kali tiga meter persegi. Dalam satu ruangan, dihuni 20 tahanan.

Syarbaini Adik Arjuna.

MINGGU, 2 September 1990 sore, Arjuna, pria kelahiran Gampong Seulatan, Batee, pada 5 Juni 1965, memimpin penyerangan ke Mapolsek Batee. Penyerangan ini mengguncang Aceh kala itu. Dalam penyerangan ini, Sertu A Ruhiyat dan Sertu Kusnandi mengalami luka tembak. Lalu, Serka Arinus dan istrinya, yang saat itu sedang hamil, meninggal dunia karena ditikam. Sepucuk AK-47 di Mapolsek tersebut dirampas.

Belakangan, mantan Kapolsek Batee, Letda Ibnu Hasan, dipecat karena dianggap terlibat kelompok yang saat itu dijuluki Gerakan Pengacau Keamanan atau GPK oleh Pemerintah Indonesia dan dianggap turut membantu Arjuna menyerang Mapolsek Batee.

Ibnu Hasan selamat karena diminta Marzuki, salah seorang anggota GAM dalam kelompok Arjuna, untuk meninggalkan Mapolsek Batee sesaat sebelum penyerangan dimulai.

Mula-mula, Usman, yang sering keluar-masuk Mapolsek Batee karena kedekatannya dengan personel polisi di kantor tersebut kala itu, membawa minuman keras. Sore itu, sebagian personel di Mapolsek Batee berada di Lapangan Sepak Bola Batee, yang terletak sekitar 500 meter dari Mapolsek, untuk mengamankan jalannya turnamen sepak bola.

Setelah menegak minuman keras, personel polisi di sana mabuk dan tertidur. Usman kemudian mengambil AK-47 di Mapolsek tersebut. Karena dalam keadaan terkunci, Usman semula mengira AK tersebut rusak karena tak bisa dikokang.

Usman kemudian melemparkan AK-47 tersebut ke luar pagar Mapolsek, tempat Arjuna bersembunyi. Begitu senjata berpindah tangan, nyalak senjata memecah keheningan di sekitar.

Syarbaini, 49 tahun, adik Arjuna, menuturkan penyerangan Mapolsek Batee tersebut terjadi setelah sebelumnya pada Sabtu, 14 Juli 1990 malam, pasukan gabungan Kodim 0102/Pidie dan Satgas Lameulo yang malam itu berpakaian preman datang ke rumah mereka di Gampong Seulatan, Kecamatan Batee, Pidie, untuk menangkap dia dan ayahnya, Ahmad Daud, pegawai negeri sipil (PNS) golongan II B yang berdinas di Kantor Kecamatan Geumpang, Pidie. Pasukan ini datang dengan truk colt bak terbuka milik masyarakat.

Ahmad Daud dan Syarbaini dibawa ke Pos Satuan Taktis dan Strategis (Pos Sattis) di asrama TNI di Kota Bakti atau Lameulo. Di pos tersebut, Syarbaini disekap di ruangan berukuran empat kali enam meter persegi bersama sekitar 50 tahanan lainnya. “Belakangan, ditambah empat ruangan baru untuk tahanan. Luas setiap ruangan baru, tiga kali tiga meter persegi. Dalam satu ruangan, dihuni 20 tahanan,” kata Syarbaini, Sabtu, 28 November 2020.

Di pos tersebut, Syarbaini menerima pukulan dan penyiksaan tanpa surat dan alasan penahanan. Syarbaini tidak ditempatkan di dalam satu ruangan dengan sang ayah, Ahmad Daud. Hari mereka diculik dan disekap merupakan hari terakhir ayah dan anak ini bertemu. Ahmad Daud diduga dieksekusi tak lama setelah ia disekap. Hingga saat ini, jasadnya tidak diketahui.

Usai penyerangan Mapolsek Batee, rumah Arjuna di Gampong Seulatan, Kecamatan Batee, Pidie, dibakar pada Senin, 3 September 1990 siang. Selain rumah Arjuna, dua rumah lainnya di Gampong Seulatan juga dibakar.

Infografis sinarpidie.co.

Siang ketika rumah Arjuna dibakar, ibunya, Sairah--kini almarhum-- dan dua adik perempuannya, Hayatun Nufus dan Mutia Zaitun, tidak berada di rumah. “Ibu berangkat ke Geumpang untuk mengambil gaji ayah kami dua hari sebelum kejadian di Mapolsek Batee,” ucap Hayatun Nufus pada Selasa, 5 Januari 2021.

Sebelum berangkat, Sairah menitipkan Hayatun Nufus yang saat itu masih berumur 16 tahun dan Mutia Zaitun yang saat itu masih berumur 13 tahun di tempat kerabat mereka di Dayah atau Peusantren Pasi Tambon, Gampong Kareung, Batee, yang berjarak enam kilometer dari rumah mereka di Gampong Seulatan.

“Satu hari setelah kejadian di Polsek Batee, saya dan Mutia hendak diantar ke rumah kami ke Gampong Seulatan, namun sesampai di Gampong Cruem, kami mendapat kabar, Gampong Seulatan sudah dipenuhi Kopassus, sehingga kami pergi ke Gampong Kulee. Saya dan Mutia kemudian berjalan kaki melalui pinggir pantai Gampong Kulee hingga ke Pasi Beurandeh. Kami dibantu menyeberangi Kuala Krueng Batee oleh seseorang dengan menggunakan sampan miliknya hingga sampai Gampong Geunteng Barat,” kenangnya.

Dari Gampong Geunteng Barat, mereka berjalan melewati pematang tambak ikan menuju Gampong Pulo Tukok, Batee, kemudian menuju ke Pasar Grong-Grong.

“Sesampainya di Grong-Grong, kami menumpang labi-labi menuju rumah saudara kami di Gampong Blang Asan, Kota Sigli,” tuturnya. “Di Blang Asan, kami bertemu Ibu di rumah saudara kami. Hari itu ibu kami juga berniat pulang ke Gampong Seulatan, namun karena beliau mendapat kabar bahwa Gampong Seulatan sudah dipenuhi Kopassus, Ibu pergi ke Blang Asan. Kami hanya satu malam di Blang Asan. Keesokan harinya, kami langsung menuju ke Bireun. Setelah kejadian di hari itu, sekitar lima tahun kemudian, kami baru berani pulang ke Gampong Seulatan. Tapi itu tidak lama, karena tidak ada yang berani menerima kami sebagai keluarga atau tamu di rumah.”

Jarak tempuh dari Batee ke Geumpang adalah 114 kilometer atau 2 jam 51 menit berkendara.

Pada Selasa, 1 Januari 1991, Syarbaini bebas dari tempat penyekapan di Pos Sattis Lameulo.

***

ARJUNA, putra pasangan Ahmad Daud atau yang akrab disapa Ahmad Cut dan Sairah, merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ia menamatkan SD Negeri Keude Batee pada 1975. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 2 Tijue Sigli dan lulus pada 1979. Setelah tamat SMP, Arjuna duduk di bangku SMA Mugayatsyah Banda Aceh dan lulus pada 1982. Ia kemudian mendaftar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah (Unsyiah). “Karena terserang malaria di Sabang, ia pulang ke kampung untuk berobat. Dan karena harus berobat, dia tidak masuk kuliah di Unsyiah lalu pindah ke Fakultas Pertanian Universitas Jabal Ghafur,” kata Syarbaini.

Arjuna tak menamatkan kuliah di Universitas Jabal Ghafur Sigli karena, pada 1988, ia menempuh pendidikan militer di Libya. Sepulangnya dari Libya, ia menjadi salah satu pentolan Aceh Merdeka atau AM yang paling diburu oleh militer.

Teungku Abdul Wahab Krueng Seumidueun, 80 tahun, tokoh AM, mengenang hari-hari sebelum Arjuna berangkat ke Libya. Abdul Wahab berteman dekat dengan ayah Arjuna, Ahmad Daud.

Teungku Abdul Wahab Krueng Seumidueun, 80 tahun, tokoh AM. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Ahmad Daud atau yang akrab disapa Ahmad Cut, adalah mantan tentara DI/TII pimpinan Daud Beureueh. Saat pemberontakkan DI/TII berakhir pada Juli 1963, tentara-tentara DI/TII ini diterima sebagai anggota TNI. Ahmad Daud adalah satu di antara tentara DI/TII yang belakangan diterima sebagai anggota TNI. Kelak, Ahmad Daud memilih menjadi sebagai PNS di kantor camat. “Ahmad Cut sering membawa Arjuna ke tempat saya. Ayahnya yang meminta Arjuna untuk dilatih ke Libya,” kata Teungku Wahab dengan mata yang berkaca-kaca pada awal Januari 2021 lalu. "Saya yang merekomendasikan Arjuna ke Libya." []

Bersambung Bagian II