Ulat Grayak di tengah Program Pengembangan Bawang Merah Kementan di Pidie

Ulat Grayak di tengah Program Pengembangan Bawang Merah Kementan di Pidie
Salah satu sudut lahan yang akan digunakan sebagai tempat penangkaran benih bawang merah di Gampong Dayah Teungku, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Program pengembangan kawasan bawang merah yang menggunakan APBN ditender Januari dan disalurkan 10 Agustus 2018 di tengah serbuan ulat grayak.

Menggunakan pola tanam tadah hujan, petani di Gampong Madika, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, menanam padi sejak September setiap tahun. Pasca-panen pada Maret, sejumlah petani di gampong tersebut membudidayakan atau menanam bawang merah.

“Kalau pakai benih Vietnam, 60 hari sudah bisa panen. Sedangkan benih Jawa 70 hari,” kata Azhar, 46 tahun, warga Gampong Madika, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Sabtu, 15 September 2018.

Namun, dalam 1, 5 bulan belakangan, tanaman bawang di sana digerogoti ulat grayak, salah satu organisme penganggu tanaman bawang.

“Modal, membeli benih bawang merah Rp 38-42 ribu per kilogram. Lahan saya enam are. Jadi membutuhkan 50 kg. Untuk obat (inseksida-red) biasanya jika menanam bawang di sawah 6 are, yang sudah-sudah, habisnya paling Rp 500 ribu.  Namun, akibat serangan ulat tersebut, saya telah menghabiskan Rp 1,3 juta untuk membeli obat (inseksida-red). Uang saya yang sudah habis untuk modal tanam bawang kali ini sekitar Rp 6 juta,” kata Azhar lagi.

Azhar, yang ditemani seorang petani bawang lainnya, mengaku, tidak ada upaya pengendalian hama tersebut yang dilakukan Dinas Pertanian dan Perkebunan Pidie.

“Tidak ada,” kata dia. “Saya saksinya, tidak ada. Saya selalu di sini.”

Pada 28 Agustus 2018, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Aceh,  telah melaporkan hasil pengamatan mereka terkait serangan ulat grayak pada tanaman bawang merah di Gampong Madika dan Empeh, Kecamatan Simpang Tiga.

Berdasarkan catatan tim tersebut, luas serangan ulat grayak kala itu satu hektare. Intensitas 26 % dan populasi ulat, 3-5 ekor per rumpun dengan umur tanaman 30-43 hari tanam. Tim ini merekomendasikan penggunaan inseksida dengan bahan aktif klorfenapir dan sipermetrin. Pengendalian yang direkomendasikan oleh tim tersebut ialah lima hektare. 

Program penangkaran benih bawang Kementan

Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menjadi Satker kegiatan pengembangan kawasan (penangkaran benih) bawang merah di Pidie dengan luas lahan 15 hektare. Sumber dana yang berasal dari APBN pada Kementerian Pertanian, itu, sebesar Rp 585 juta.

Penelusuran sinarpidie.co, proyek ini ditender pada Januari 2018. Kontrak ditandangani pada Maret 2018. Pemenangnya: CV. Kamasa Jaya Mandiri.

Informasi yang dihimpun sinarpidie.co, kelompok tani penangkar benih tersebut tersebar di Kecamatan Simpang Tiga (Gampong Pante, Pulo Blang, dan Madika), Kecamatan Peukan Baro (Gampong Dayah Teungku), dan Simpang Beutong (Kecamatan Muara Tiga).

“Jumlahnya: Simpang Tiga, tiga kelompok, 3 x 1, 3 ton. Peukan Baro 1, 3 ton, dan Muara Tiga 1, 3 ton,” kata Aulia, Ketua kelompok tani Mandiri Bijeh, di Gampong Madika, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

Benih yang akan ditangkar. (sinarpidie.co/Firdaus).

Aulia mengaku, dirinya dan anggota kelompok yang berjumlah delapan orang, belum menanam benih yang disalurkan pada 10 Agustus 2018 itu.

“Belum tanam. Tunggu reda ulat grayak,” kata Aulia, Sabtu, 15 September 2018 di kediamannya di Gampong Madika, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. “Kepepet memang. Telat disalurkan. Kalau kita tanam terus bisa terserang ulat.”

Sementara itu, Sayed Muhammad, Ketua Kelompok Tani Iskandar Muda, di Gampong Dayah Teungku, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, mengatakan, saat ini pihaknya sedang membersihkan lahan dan menyiapkan segala kebutuhan penanaman.

“Setengah sudah ditanam. Telat disalurkan,” kata dia, Minggu, 16 September 2018.

Hal yang sama juga terjadi pada lahan milik Kelompok Tani Uteun Cot di Simpang Beutong, Kecamatan Muara Tiga, yang penanamannya baru-baru ini baru sekitar 50 persen.

Admi Abdullah, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, mengatakan, dirinya tidak mengikuti perkembangan tender tersebut, ketika ditanyai alasan terlambatnya penyaluran benih bawang merah tersebut.

“Kewenangan Banda Aceh. Kami cuma diminta CP/CL (calon penerima dan lokasi-red),”  kata dia, “Ulat grayak sudah diantisipasi. Cuma saat disemprot, kebal. Memang saat ini kebetulan bulan di mana ulat muncul.”

Ditanyai apakah proyek tersebut akan terealisasi--mengingat sekitar dua bulan ke depan tahun anggaran 2018 akan berakhir--ia enggan mengomentari hal itu. []

Reporter: Firdaus dan Wahyu Puasana

Komentar

Loading...