Sejarah

Tentara Jepang dalam Peristiwa Cumbok

·
Tentara Jepang dalam Peristiwa Cumbok
Sumber foto: inilahduniakita.net.

sinarpidie.co—Suatu hari pada Januari 1946, Sersan Rusli menyetel elevasi meriam di Glee Gapui. Ia mengarahkan moncong meriam tersebut ke rumah pimpinan Pasukan Cumbok, Teuku Daud Cumbok, di Pulo Keurumbok, Lameulo (kini Kota Bakti, Kecamatan Sakti). Pada tembakan pertama, peluru meleset agak jauh dari sasaran. Tembakan kedua juga masih belum mengenai sasaran. Pada tembakan ketiga, peluru meriam akhirnya melumat rumah yang sekaligus menjadi markas pasukan Cumbok itu.

Lameulo, tulis sejarawan Anthony Reid dalam bukunya The Blood of the People—Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra, sebagaimana dikutip dari buku Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak— memiliki pasar malam, punya tempat judi dan punya tempat mabuk-mabukan sebagai menu utama untuk mengolok-olok PUSA—telah ditaklukkan oleh mereka yang terhimpun dalam Persatuan Ulama Aceh (PUSA) yang dipimpin Teungku Daud Beureueh, Pemuda PUSA (Hosen Almujahid), dan Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Penyerangan itu juga disokong oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setelah kebrutalan pasukan Cumbok sudah di luar ambang batas. Sebelumnya TKR di Aceh, yang memiliki pimpinan yang berasal dari kaum ningrat, konon menutup mata atas tindakan pasukan Cumbok yang membakar Gampong Metareum—tempat aktivis PRI kebanyakan berada, menduduki Kota Sigli dan Kantor PRI, dan melakukan tindakan-tindakan brutal lainnya.

Namun, pada Desember 1945, “pemerintah pusat menyatakan Teuku Daud Cumbok sebagai pengkhianat republik dan harus dihukum”. Dan TKR pun ikut bergabung di dalamnya.

Tokoh-tokoh organisasi PUSA, Pemuda PUSA, dan PRI-lah yang mengorgasir rakyat, mengambil persenjataan di gudang-gudang persenjataan Jepang di seluruh Aceh, dan memobilisasi rakyat untuk melawan pasukan Cumbok.

Anthony Reid menuliskan, Pemuda PUSA bahkan membentuk Pusat Markas Barisan Rakyat yang terdiri dari pasukan-pasukan yang memiliki persenjataan lengkap. Dan penyerangan pertama ke Lameulo tersebut diprakarsai oleh Pusat Markas Barisan di Garot setelah sebelumnya selebaran-selebaran propaganda menentang Daud Cumbok masuk ke pintu-pintu rumah masyarakat.

Dan, hari itu, 12 Januari 1946, Sersan Rusli adalah salah seorang yang juga ikut berperan dalam mengakhiri perang saudara di Aceh yang sudah berlangsung selama 22 hari itu.  Rusli, yang nama Jepangnya belum ditemukan dalam literatur sejarah, adalah satu di antara beberapa tentara Jepang yang memilih untuk menetap di Aceh. Nyaris seluruh rekan-rekannya telah bertolak ke Medan untuk selanjutnya kembali ke Negara asal mereka.

Hasan Saleh, dalam bukunya Mengapa Aceh Bergolak, menuliskan tiga nama tentara Jepang yang memilih untuk tidak kembali ke Negara asal mereka pasca-Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-II. Salah satunya adalah “Kepala Tokubetsu Kaisatsutai atau Polisi Istimewa untuk seluruh Aceh, Kapten Korewa”. Kemudian ada Sersan Yasukawa.

“Lainnya adalah Sersan Rusli, yang nama Jepangnya tidak saya ingat lagi,” tulis Hasan Saleh.

Jepang menapaki tanah Aceh pada 12 Maret 1942 dengan “dijemput” tokoh-tokoh PUSA, untuk mengusir Belanda. Begitu menjejakkan kaki, hal pertama yang mereka lakukan adalah menyapu habis Belanda.

Sementara bagi Pidie sendiri, masa itu, adalah masa di mana ia dihuni oleh manusia yang menunggu adanya momentum untuk saling membunuh.

Apa yang digambarkan Hasan Saleh dalam bukunya Mengapa Aceh Bergolak sedikit banyaknya dapat memberi gambaran akan kondisi saat itu. Kabar tentang pendaratan Jepang di Ujong Batee disambut rakyat di Pidie dengan pembunuhan Asisten Residen Belanda. Itu terjadi satu hari setelah pendaratan tersebut.

Hasan Saleh menuliskan peristiwa tersebut dengan begitu dingin.

“Ia lari ke Blok Sawah, ke rumah T. Pakeh Sulaiman. Rakyat terus mengejarnya, membacoknya berulang-ulang sampai tewas di atas jembatan Keramat. Pengejar cukup banyak, tidak diketahui dengan pasti bacokan siapa yang menamatkan riwayat asisten ini. Mayatnya terbujur dekat rel kereta api di samping jembatan sampai keesokan paginya,” tulis Hasan Saleh.

Para uleebalang di Pidie, yang sebelumnya menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia-Belanda, mengurung diri di dalam rumah karena takut pada amukan rakyat. Konon, atas kemurahan hati Pimpinan PUSA Teungku Daud Beureueh, para uleebalang tersebut terhindar dari amukan massa.

Teungku Daud Beureueh bersama Hatta. Sumber foto: Buku The Blood of the People—Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.

Tak lama kemudian, posisi-posisi strategis dalam pemerintahan Jepang di Aceh justru diduduki pula oleh para uleebalang yang sebelumnya “dirumahkan”. Hal itu dilatarbelakangi kecakapan mereka pada bidang administrasi pemerintahan.

Namun, kala Jepang menyerah setelah Hiroshima dan Nagasaki dilempari bom atom pada Agustus 1945, Daud Cumbok, yang tinggal di sebuah tempat yang kini hanya dikenal sebagai satu kecamatan (Kecamatan Sakti), menentang pengakuan Aceh atas pemerintah RI.

Ia ingin memperoleh kembali hak-hak istimewanya jika Belanda kembali menduduki Aceh pasca-Jepang kalah perang. Di samping itu, ia juga ingin membalas dendam dan memberikan hukuman bagi masyarakat yang nyaris saja menyerangnya kala Jepang mendarat di Aceh. 

“Ia memerintahkan penurunan bendera Merah-Putih, penggrebekan rumah para pimpinan PUSA,” demikian dikutip dari buku Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak.

Pada 22 Oktober 1945, tulis Anthony Reid, sekelompok uleebalang yang berkuasa di wilayah mereka masing-masing di Pidie—tidak semua uleebalang—mengadakan kenduri di rumah mewah T. Oemar Keumangan di Beureunun.

T. Oemar menyatakan pendapatnya, bahwa uleebalang tak keberatan dengan kemerdekaan Indonesia, tapi mereka membutuhkan legitimasi terhadap kekuasaan mereka oleh rezim pemerintah yang baru.  Sesaat setelah pertemuan itu, sebuah telegram dikirimkan pada Soekarno.

Sungguh sulit membayangkan raut wajah Soekarno kala membaca telegram tersebut, sebab kala itu ia sendiri nyaris tak pernah alpa menyerukan perlawanan terhadap imprialisme dan feodalisme dalam tiap-tiap pidatonya.

Baca juga:

Di lain pihak, Daud Cumbok merekrut bekas personil KNIL dan satu-dua tentara Jepang untuk memberikan pelatihan militer pada para pengikutnya. Ia membentuk pasukan bersenjata yang terdiri dari tiga unit yang dinamainya:  Tombak, Sauh, dan Bintang.

Daud Cumbok kelak ditangkap saat melarikan diri pasca-penyerangan tersebut. Ia akhirnya dibunuh. Dan akhir dari peristiwa tersebut—masih mengutip The Blood of the People—Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra—hanya menyisakan dua dari 25 uleebalang yang berkuasa di Pidie. Hanya mereka berdua yang saat itu  selamat dari pembunuhan.  Uleebalang Pineueng, ayah Gubernur Sumatera saat itu, Mr Hasan, dan uleebalang Trienggadeng, yang dilindungi oleh Hasballah Trienggadeng.

"Demi memenangi perang, Belanda menugasi Snouck Hurgronje, ahli ilmu Islam, guna mempelajari karakter masyarakat Aceh. Dalam The Atjehnese (1906), Snouck menganjurkan Belanda memanfaatkan uleebalang. Setiap uleebalang punya wewenang penuh mengendalikan nanggroe. Ada 103 nanggroe di Aceh," demikian dikutip dari buku Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak.

Kembali pada tentara Jepang yang memilih untuk tinggal di Aceh.

Kapten Korewa, bekas Kepala Tokubetsu Kaisatsutai atau Polisi Istimewa untuk seluruh Aceh, kelak menikah dengan seorang perempuan Manado. “Aly Hasmy mengawinkannya dengan seorang putri Manado, namanya pun diganti menjadi Keuchik Ali. Keuchik inilah yang membongkar alat-alat perang berbahaya di lapangan Lhok Nga. Ia pula yang menunjukkan di mana senjata Jepang disembunyikan, sehingga rakyat dapat menemukannya kembali,” tulis Hasan Saleh.

Sementara Sersan Yasukawa, tulis Hasan Saleh, tewas ketika sedang menyetel granat buatannya sendiri.

Dan, Sersan Rusli, baik nama Jepangnya maupun bagaimana ia menjalani hidup kemudian di Aceh, tampaknya luput dari catatan sejarah. []

Komentar

Loading...