Sejarah

Tapak Tilas Teungku Chik di Tiro di Dayah Cut Muhammad Amin

·
Tapak Tilas Teungku Chik di Tiro di Dayah Cut Muhammad Amin
Bangunan Dayah Muhammad Amin Dayah Cut, di  Gampong Dayah Blang, Tiro, yang telah dibangun dua kali. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--Pada umur 15 tahun, legenda perang Aceh-Belanda, Teungku Chik di Tiro, belajar mengaji di pondok atau dayah milik pamannya, Muhammad Amin Dayah Cut atau Teungku Chik Dayah Cut, di Gampong Dayah Blang, Tiro.

Kemudian, ia pindah mengaji ke Ie Leubeue pada Teungku Muhammad Arsyad. Lalu, pindah lagi ke Dayah Meunasah Blang dan ke Dayah Tanjong Bungong. Kemudian, ia menempa ilmunya ke Lam Krak, Aceh Besar. Dua tahun di sana, ia kembali ke dayah milik pamannya, Muhammad Amin Dayah Cut, di Gampong Dayah Blang, Tiro, menjadi salah seorang pengajar di dayah tersebut.

Namanya sohor dan membikin banyak orang belajar di dayah Muhammad Amin Dayah Cut, di Gampong Dayah Blang, Tiro.

Bertahun-tahun kemudian, ia memutuskan untuk ke Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji.

“Jalan ke Mekah masa itu haruslah melalui pelabuhan Idi, kemudian ke Pulau Penang. Dari sana menumpang kapal Inggris, terus kepelabuhan Jedah di tanah Arab,” tulis Ismail Jakub dalam bukunya yang berjudul Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya (1960).

Di Mekkah, ia mendapatkan pengetahuan tentang pelbagai bentuk perjuangan bangsa-bangsa terjajah, politik, dan ekonomi dunia. Sekembalinya dari Mekkah, tulis Ismail Jakub, “Pendengarannya tentang perjuangan Said Djamaludin dari Afganistan dan ummat Islam di negeri-negeri lain, dipersembahkannya semuanya kepada pamannya Teungku Chik Dayah Cut”.

Pasca-jatuhnya keraton ke tangan Belanda, pemerintahan Kerajaan Aceh berpindah ke Indrapuri. Lantaran kembali dikuasai dan diduduki Belanda, pemerintahan akhirnya berpindah ke Keumala dengan Teungku Chik di Tiro sebagai menteri perang, Teuku Umar sebagai laksamana/ “panglima laut pantai barat”, dan Panglima Nya' Makam menjadi panglima urusan Aceh Timur.

“Dalam perjuangan Tengku di Tiro Syeh Saman, sejak dari permulaannya sampai penghabisan tahun 1886, nyata bahwa yang menyokong di belakang adalah Teungku Chik di Tiro Dayah Cut alias Tengku Chik Muhammad Amin,” tulis Ismail Jakub dalam bukunya  Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya (1960).

Baca juga:

Sang paman selalu memberi bantuan baik tenaga maupun harta. Tengku di Tiro Muhammad Saman atau Teungku Chik di Tiro tidak pernah pulang Pidie selama ia berada di medan perang (1881 — 1886). Ia hanya pernah pulang ke Pidie saat tiba-tiba ia mendapat kabar dari Tiro bahwa Teungku Chik Dayah Cut telah meninggal dunia pada tanggal 1887.

sinarpidie.co menyambangi Dayah Muhammad Amin Dayah Cut, di  Gampong Dayah Blang, Tiro, Sabtu, 6 April 2019.

makam Teungku Muhammad Amin Dayah Cut, yang juga dipanggil Teungku Chik di Tiro, pernah dipugar dengan pendanaan dari BRR. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Bangunan di sana merupakan bangunan yang telah dibangun untuk kedua kalinya. Pertama dibangun  sekitar tahun 1996 dan yang kedua sekitar tiga tahun yang lalu meskipun tidak rampung terbangun. Untuk makam Teungku Muhammad Amin Dayah Cut, yang juga dipanggil Teungku Chik di Tiro, pernah dipugar dengan pendanaan dari BRR.

Di sini, biasanya digelar kenduri untuk memperingati haul Tgk Chik di Tiro  dan masyarakat juga melaksanakan kenduri sawah sebelum turun ke sawah. Balai di sana masih digunakan untuk salat. []

Komentar

Loading...