Sejarah/17 Agustus

Sunyi Sendiri Nathar Zainuddin

·
Sunyi Sendiri Nathar Zainuddin
Teungku Daud Beureueh bersama Hatta. Sumber foto: Buku The Blood of the People—Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.

sinarpidie.co--Nama Nathar Zainuddin memang tak ditemukan dalam buku-buku sejarah formal di sekolah-sekolah. Namun, namanya tidak bisa tidak tercantum dalam sejarah gerakan pemuda Aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, baik pra hingga pada awal-awal kemerdekaan.

Nathar Zainuddin lahir di Sumatera Barat. Namun, ia tumbuh-besar di Idi, Aceh Timur. Nathar bekerja sebagai kondektur kereta api dan juga aktif dalam serikat pekerja kereta api. Nathar juga sempat mengajar di Sekolah Islam Sumatera Thawalib di Padang Panjang, Sumatera Barat, yang juga editor pada jurnal Djago! Djago!.

Nathar menikah dengan adik perempuan Abdul Xarim, mantan wakil ketua PNI cabang Aceh cum jurnalis, yang bernama Apiah.  Fikrul Hanif Sufyan, dalam Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis Di Serambi Mekah, menuliskan dari pernikahannya tersebut, Natar dikaruniai satu anak yang bernama Kartini.

Nathar pernah dipenjara Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda setelah pemogokan yang dilakukan serikat pekerja kereta api.  

“Abdul Xarim, Nathar Zianuddin, dan Junus Nasution juga dekat secara personal dan ideologis dengan Tan Malaka. Tuntutan untuk menciptakan tentara rakyat, pemerintahan rakyat dan pengambilalihan perkebunan serta properti milik Belanda lainnya, menjadi dorongan utama revolusi di Sumatera Timur,” tulis Andi Lili Evita dkk, dalam Gubernur Pertama Indonesia, yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2017).

Baik Xarim maupun Nathar sama-sama pernah merasakan penjara di Boven Digul.

“Xarim menikmati menjadi pusat perhatian, sedangkan Nathar tidak pernah disebutkan dalam suratkabar setelah dibebaskan dari Digul. Ia lebih memilih untuk tetap di belakang layar. Dia hidup dengan usaha perdagangan kecil-kecilan, di Meulaboh (Aceh Barat) dan Idi (Aceh Timur). Di setiap tempat ia membangun pengaruh yang kuat terhadap sekelompok aktivis politik muda, khususnya kelompok Pemuda PUSA, Hoesain Almujahid,” tulis sejarawan Anthony Reid dalam bukunya The Blood of the People—Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.

Andi Lili Evita dkk, dalam Gubernur Pertama Indonesia, yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2017), menuliskan, “beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda laskar dan ulama modernis di Aceh yang tergabung dalam PUSA melancarkan revolusi menumbangkan kekuasaan uleebalang—elite lokal yang selama bertahun-tahun menjadi wakil pemerintahan Hindia Belanda dalam menjalankan pemerintahan di Aceh.” []

Komentar

Loading...