Editorial

Siapa yang Untung dan yang Buntung akibat Aktivitas Tambang Ilegal di Geumpang?

·
Siapa yang Untung dan yang Buntung akibat Aktivitas Tambang Ilegal di Geumpang?
Sumber foto: aceh.antaranews.com.

Pada Juli 2014, ribuan ikan keureuling di sepanjang Krueng Meukup, Pidie, hingga Krueng Teunom, Aceh Jaya, ditemukan mati mendadak. Di samping itu, warga yang mengonsumsi ikan tersebut juga terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan.

Perawakan ikan-ikan yang mati dan terbawa arus sungai itu: putih pucat, dengan insang dan daging pecah; sisik memerah, mata bengkak, dan kelamin melepuh. 

Fakta itu membikin heboh publik seantero Aceh. Dugaan keracunan ini berasal dari pertambangan rakyat di Geumpang. Dilansir dari nationalgeographic.grid.id, Imum Mukim Leutung, Kemukiman Mane, Pidie, Sulaiman pernah menyebutkan, “Pertambangan di Geumpang, diduga tidak hanya menggunakan merkuri, tapi juga karbon, soda, obat tetes hingga beberapa cairan berbahaya lainnya seperti sianida, protas, kostik dan tetes.”

Setelah dipakai untuk pelarut emas, bahan-bahan tersebut ditengarai dibuang ke sungai.

Sementara itu, dilansir dari mediaindonesia.com, Rabu, 4 Oktober 2017, “Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mencatat ada sekitar 800 pekerja tambang emas ilegal di Geumpang.”

Tak hanya merusak air, aktivitas tersebut juga merambah hutan lindung di Geumpang dan Mane.

“Ekspansi kegiatan penambangan emas ilegal di Pidie, kini telah merambah hutan lindung di Desa Turue Cut, Kemukiman Lutueng, Kecamatan Mane, sebuah kawasan yang terletak di antara Geumpang dan Tangse yang merupakan sentra penambangan emas liar di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Dalam tempo enam bulan, para penambang ini telah membuka akses jalan sejauh sembilan kilometer menuju Sungai Krueng Geupoh yang diduga sebagai lokasi atau sumbernya galian emas,” demikian dikutip dari mangobay.id.

Pulolhoih atau Lapangan eksekusi mati?

Baru-baru ini, seorang toke dan dua buruh tambang ditemukan tewas saat melakukan ekploitasi di Km 12 Gampong Pulolhoih, Kecamatan Geumpang, Pidie.

Keuchik Gampong Blang Dalam, Kecamatan Mane, Armia Hanafiah menjelaskan, berdasarkan Informasi yang ia peroleh, penyebab meninggalnya tiga penambang itu karena blower tidak berfungsi saat mereka sudah berada di dalam lubang tambang.

Ketiga korban bernama Mur, 38 tahun, disebut-sebut sebagai toke (pemilik modal), warga gampong Blang Dalam Kecamatan Mane, Pidie; Pen, 27 tahun, warga Sungai Raya Aceh Timur, sebagai pekerja; dan SA, 27 tahun, warga Sungai Raya Aceh Timur, juga sebagai pekerja. 

Tewasnya penambang tradisional karena kekurangan oksigen bukanlah hal yang pertama kali terjadi di lokasi ekpolitasi tambang illegal di Gampong Pulolhoih, Kecamatan Geumpang, Pidie.

Dilansir dari detik.com, pada Januari 2014, tiga  penambang emas ilegal ditemukan tewas di dalam lokasi tambang di Gampong Pulolhoih karena kekurangan oksigen di lobang tambang dengan kedalaman 30 meter.

“Ketiga warga tewas itu yakni Muhammad (30), warga Blang Miroe, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, sementara dua korban tewas lainnya adalah Sandi (25), Andi (25) asal Provinsi Bengkulu,” demikian detik.com.

Berdasarkan data yang dihimpun sinarpidie.co melalui klipping pemberitaan, sejak 2013 hingga 2018, tercatat 33 penambang meninggal di lubang tambang emas di Geumpang.

Dilansir dari aceh.tribunnews.com, Rabu, 19 Juni 2013, Mukhsin, 23 tahun, warga Gampong Pulo Ie, Kecamatan Tangse, Pidie tewas tertimbun longsor di lokasi tambang liar di Gampong Pulo Loih, Kecamatan Geumpang.

“Korban bekerja sebagai buruh menggali lobang di km 12 milik Imparian Abdullah (30) warga Gampong Pucok Kecamatan Geumpang,” demikian aceh.tribunnews.com.

Satu bulan sebelumnya, pada Mei 2013, seorang pekerja asal Jawa Tengah, Turahman meninggal setelah lubang yang digalinya terutup longsor.

Dilansir dari mongabay.co.id, pada Desember 2013, 13 pekerja terperangkap longsoran di lubang dengan kedalaman 20 meter. Hingga kini, seluruh jasad belum ditemukan. Sedangkan pertengahan Januari 2014, tiga pekerja yaitu Muhammad, warga Kabupaten Pidie Jaya, dan dua warga Bandar Lampung, Sandi dan Suandi, merenggang nyawa akibat tertimbun longsor saat mengali lubang.

Pada Rabu, 18 November 2015, Hendra, 32 tahun, penambang emas tradisional yang berasal dari Gampong Pulo Drien, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, tewas setelah tertimpa tanah longsor di dekat lubang galian di Geumpang.

“Pada 10 Desember 2015, empat pekerja buruh tambang di Pulo Loih, Kecamatan Geumpang, Pidie, tewas di tempat setelah kamp tempat mereka berteduh tertimpa tanah longsor,” demikian dilansir dari aceh.tribunnews.com.

Pada November 2016, tiga penambang emas asal Kabupaten Suka Bumi, Jawa Barat tewas tertimbun longsor di lokasi tambang emas ilegal, di KM 12, Gampong Pulolhoih, Kecamatan Geumpang, Pidie. 

Pada 2017, dilansir dari acehtribunnews.com, Erwin bin Zainal Abidin, 35 tahun, warga Gampong Puloloih, Kecamatan Geumpang, Pidie meninggal dunia di lokasi tambang Km 12 Gampong Puloloih sedalam 8 meter.

Alat berat bukan tradisional

Sedikitnya terdapat lima lokasi tambang emas ilegal di Geumpang, yaitu Krueng Tangse, Krueng Sikolen, Krueng Geumpang, Gunung Miwah dan Gampong Bangkeh.

“Berdasarkan pengakuan warga, Krueng Geumpang yang memiliki banyak lubang tambang dan sudah berlangsung sejak 2009 - 2014 penambangan secara tradisional,” demikian dikutip dari merdeka.com.

Masih dikutip dari sumber yang sama, “di atas tahun 2014, proses penambangan sudah dilakukan secara modern, yaitu menggunakan alat berat, seperti yang berada di Alue Saya, Alue Rek dan Alue Suloek, sungai tersebut bermuara bagian dari hulu wilayah sungai Woyla Kabupaten Aceh Barat.”

"Warga yang kami wawancarai, tidak berani menyebutkan identitas pemilik tambang. Akan tetapi pemilik tambang sebutkan para pengusaha SPBU, oknum pejabat, oknum TNI/Polri dan juga oknum pengurus partai politik," kata Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur, seperti dikutip dari merdeka.com.

Siapa yang untung dan siapa yang buntung?

Komentar

Loading...