Pembangunan Bendungan Tiro

Sejarah Akan Mati di Kampung Kami*

·
Sejarah Akan Mati di Kampung Kami*
Gapura Gampong Panton Buenot, Kecamatan Tiro, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Rencana pembangunan Bendungan Tiro yang semula hendak menenggelamkan dua gampong di Kecamatan Tiro--Panton Buenot dan Blang Rikui--mendapat penolakan dari warga. Penolakan tersebut tidak sia-sia, pihak terkait melakukan revisi DED, yang menjadi alternatif pembangunan bendungan tanpa harus mengorbankan pemukiman penduduk dan juga menenggelamkan sejarah di dalamnya.

sinarpidie.co—Pada ketinggian 180 meter di atas permukaan laut, jalan memasuki ke Gampong Panton Buenot, Kecamatan Tiro, Pidie, berkerikil dan berdebu. Rumah-rumah warga, rata-rata berkontruksi kayu dan semi permanen, berdiri dengan jarak yang agak jarang. Deretan bukit dan lembah mengapit rumah-rumah tersebut. Sepanjang jalan, kebun-kebun dengan pagar alami (jeunerop) juga terbentang di kiri dan kanan.

Gemercik air sungai masih terdengar di gampong itu. Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten Pidie, Sigli, ke gampong itu, 28 kilometer. 

Gampong Panton Buenot punya segalanya, kecuali sinyal HP dan kesetaraan pembangunan. Ia punya tanah yang subur, ikan segar di sungai, dan semangat perlawanan. Fasilitas umum di sini, yang nampak hanyalah SDN Blang Keudah. Tanpa pagar dan tak lagi tersentuh pemeliharaan pembangunan.

Taufik, ayah dua anak, pria kelahiran 1988, merupakan keuchik gampong ini. Sabtu, 10 Agustus 2019, ia tengah duduk berselonjor di balai di depan rumahnya. Mengenakan kaus dan jins biru, ia duduk dan memandang kosong ke depan.

“Ada 70 KK di gampong ini. Dan kami menolak untuk direlokasi ke Mampre, karena terdampak pembangunan Bendungan Tiro,” kata dia, membuka obrolan. “Kami akan pertahankan tanah ini.”

Taufik mengenang, bagaimana lelaki-lelaki di gampong tersebut naik ke gunung dan tidak bisa tinggal di gampong pada saat konflik bersenjata dulu. Ia, pada suatu hari saat berumur 13 tahun, pernah ditodongkan senjata dan dipaksa menelusuri lebatnya Hutan Tiro untuk menunjukkan tempat persembunyian GAM.

"Nyawa ayam lebih berharga daripada nyawamu, sebab ayam bisa dimakan sedangkan kamu tidak," kata Taufik, menirukan ucapan seorang tentara yang menondongkan senjata padanya saat itu.

"Tak ada lelaki di gampong itu saat konflik. Ini daerah merah!" sebut Taufik lagi.

Ia menyulut rokok. Sejumlah pria berdatangan, duduk di balai bambu yang beratapkan daun nipah di sana.

Pada masa perang Aceh-Belanda, Tiro memainkan peran yang sangat penting. Terletak di kaki Gunung Halimon, Tiro merupakan salah satu daerah penyuplai kebutuhan perang para gerilyawan di Aceh Besar.  Di Tiro juga berdiri sebuah dayah Teungku Chik Dayah Cut, paman Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman. Di sini, agama dan semangat perlawanan ditempa dan disebarkan ke seluruh Aceh.

Kini, Gampong Panton Buenot dan Gampong Blang Rikui, Tiro, merupakan dua gampong yang terdampak pembangunan Bendungan Tiro.

Rencana pembangunan bendungan ini dengan tipe zona inti tanah kedap air. Ketinggian dari dasar galian 63 meter dan ketinggian dari dasar sungai 41.5 meter. Bendungan ini direncanakan akan memiliki kapasitas sebesar 41.44 meter persegi dan dapat mengairi lahan persawahan seluas 6.330 hektare.

Bendungan tersebut, pada rencana semula, akan menenggelamkan Gampong Panton Buenot. Dampak yang terasa dari rencana pembangunan bendungan tersebut salah satunya adanya perlakuan pembangunan yang diskriminatif dari pemerintah.

“Kalau pintu air bendungan di gampong ini, maka kami harus pindah. Karena itu, kami menolak rencana tersebut,” kata Taufik. “Karena isu hendak dilakukan pembangunan bendungan, maka fasilitas apapun tidak dibangun di gampong ini. Kami ajukan permohonan jalan tidak keluar, kami ajukan pembangunan  masjid tidak keluar, pagar sekolah sudah keluar dialihkan ke sekolah lain. Kata pemerintah kalau dibangun di sini akan mubazir.”

Masyarakat Panton Buenot, jika merujuk gagasan Dahrendrof, dalam bukunya Class and Class Conflict in Industrial, adalah kelompok masyarakat subordinat: masyarakat yang berada di luar hirarki kekuasaan, yang jauh dari kekuasaan politik dan miskin. Kelompok subordinat merupakan antonim dari kelompok masyarakat dominan: yang berada dalam hirarki kekuasaan, pemilik modal, kelas menengah, bahkan memiliki kekuasaan politik yang tinggi.

Kondisi DAS Tiro di Gampong Blang Rikui. (sinarpidie.co/Firdaus).

Tak heran mendengar cerita masyarakat Panton Buenot, di balik nestapa mereka, justru ada kelompok-kelompok sosial tertentu yang  telah membeli tanah di sana dengan harapan, jika bendungan dibangun, tanah tersebut akan kembali dibeli untuk dibebaskan dengan harga yang tinggi.

"Salah seorangnya pengusaha hotel di Banda Aceh. Dia berasal dari Tiro juga. Dia bahkan sudah beli tanah di Mampre agar ketika kami direlokasi, maka pemerintah juga akan bayar tanah dia," cerita Taufik.

Kepala Badan Pertanahan Nasional Pidie, Fauzi, mengatakan, pihaknya telah merekomendasikan dilakukannya revisi  Detail Engineering Design (DED) items-items pembangunan bendungan tersebut.

“Agar tidak ada masyarakat yang dikorbankan, karena masyarakatlah yang seharusnya menikmati hasil pembangunan. Untuk pembebasan lahan, untuk sementara, hanya berkaitan dengan pembangunan saluran air dan jalan inpeksi kiri-kanan saluran air. Sedangkan waduk tidak lagi berada pada posisi pemukiman dan sawah masyarakat,” kata dia, Rabu, 14 Agustus 2019.

Apa yang dikatakan Fauzi dibenarkan PPK Perencanaan Bendungan pada Balai Wilayah Sungai Sumatera 1, Nizamuddin.

“Kami sedang membuat alternatif desain, sehingga masyarakat di Panton Buenot dan Blang Rikui tidak kita pindah. Mereka tetap bertempat tinggal dan mencari nafkah di tempat tersebut,” kata dia, Rabu, 14 Agustus 2019. “Kita sudah putuskan hal itu bersama dengan masyarakat melalui rapat. Kita targetkan alternatif desain ini selesai pada akhir 2019.”

Hasil alternatif desain tersebut, kata dia, juga akan disampaikan kembali pada Kementerian PU PR. “Kita akan clearkan dulu di perencanaan,” sebut Nizamuddin. []

Judul tersebut diambil dari judul artikel yang ditulis Nezar Patria pada Majalah Tempo: Sejarah Mati di Kampung Kami.

Komentar

Loading...