Figur

Sang Ulee Sagoe Peukan Pidie dan Deretan Harta Benda yang telah Ia Jual

·
Sang Ulee Sagoe Peukan Pidie dan Deretan Harta Benda yang telah Ia Jual
Jailani HM Yacob. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Jailani HM Yacob berumur 43 tahun saat ia memutuskan untuk bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada suatu hari di tahun 1990, satu tahun setelah Daerah Operasi Militer (DOM) dengan sandi operasi jaring merah diberlakukan di Aceh. Pada tahun-tahun tersebut, suami Ida Lasmi ini sebenarnya sudah hidup dengan ekonomi yang mapan: memiliki usaha kilang kayu, ruko, dan pabrik kopi. Di samping itu, kala itu, pria yang akrab disapa Atok, ini, juga menjabat sebagai Keuchik Gampong Ulee Tutue Klibeut, Pidie.

Hari-hari di tahun-tahun saat pemberlakuan DOM di Aceh diisi kontak senjata, operasi Satuan Gabungan Intelijen (SGI), dan penculikan sebagian besar masyarakat sipil yang disiksa di Pos Satuan Taktis dan Strategis di Rumoh Geudong, yang menurut Amnesty Internasional, diperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur mengalami perkosaan dan antara 9.000-12.000 orang antara tahun 1989 hingga 1998 tewas dalam operasi tersebut.

Bergabung dengan GAM dilatarbelakangi cerita-cerita sejarah Aceh yang ia dengar, dan ayahnya, Haji Yacob, merupakan salah seorang anggota, sekaligus donatur Gerakan DI/TII yang dipimpin Daud Beureueuh.

“Saat-saat itu tugas saya merupakan juru-hubung antara GAM dengan masyarakat,” kata dia, mengenang kisah hidupnya di masa-masa itu, Selasa, 3 April 2019.

Ia menyulut rokok, menarik asapnya dalam-dalam, lalu melepaskan kepulan asap dengan tatapan kosong.

Pada 1999, satu tahun setelah reformasi dan pencabutan DOM oleh Presiden Ketiga Indonesia, BJ Habibie, ia menjual kilang kayu dan meninggalkan pabrik kopinya yang belakangan bangkrut dan terbengkalai.

“Saat itu, keluarga saya sudah berpencar-pencar. Yang menjadi kepala keluarga istri saya. Dia berjualan kue dan nasi di Banda Aceh. Rumah kosong karena setiap hari diteror,” kisahnya. “Saya sudah terlibat langsung dengan GAM di Daerah I Wilayah Pidie.”

Daerah I Wilayah Pidie terdiri dari Sagoe Laweung, Batee, Padang Tiji, Reubee, Pidie, Mila, dan Indrajaya.

Tugasnya, mula-mula, mengagendakan jadwal-jadwal dakwah GAM di pelosok-pelosok gampong. “Surat-menyurat, jual-beli, dan merekrut calon anggota GAM,” kata dia.

Pada tahun 2000, ia diangkat sebagai Ulee Sagoe Peukan Pidie, sebuah struktur jabatan sipil dalam pemerintahan GAM. Sejak saat itu, sebuah senjata jenis colt sudah tersampir di pinggangnya ke manapun ia pergi. “Ulee Sagoe bertugas mengelola administrasi,” katanya, “dan sehari-hari berada di gampong-gampong. Penuh risiko.”

Ia mengenang, bagaimana ia merekrut calon-calon anggota GAM untuk mendapatkan pelatihan militer. “Ada yang kita minta dari keuchik dan lebih banyak yang melamar sendiri,” katanya lagi. “Kita seleksi rata-rata pemuda yang belum menikah.”

Pelatihan militer calon anggota GAM Daerah I Wilayah Pidie dipusatkan di Blang Mee, Mila, Pidie.

“Ada dua angkatan yang didik di sana. Delapan bulan di kamp latihan dan dilatih oleh eks-Libya,” sebutnya.

Pada 2002, ia sudah menghabiskan seluruh waktunya bergerilya di dalam hutan. Saat-saat itu, tidak hanya desing peluru yang mengancam nyawanya, tapi juga penyakit malaria tropika juga selalu mengintai dan dapat menyerang tanpa diduga-duga.

“Alasan kami bergerilya dalam hutan agar masyarakat tak jadi korban. Jika perang di bawah, aparat biasanya akan melampiaskan ke masyarakat,” tuturnya. “Setiap harinya, kami menjelajahi hutan belantara Pidie. Mulai dari Kunyet, Padang Tiji, hingga perbatasan Aceh Besar.”

Pemerintah Pusat menerapkan darurat militer di Aceh pada 19 Mei  2003, setelah enam bulan gencatan senjata gagal menghasilkan kesepekatan antara GAM dan Pemerintah RI. Pemerintahan Megawati melancarkan operasi militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 tentara dan 12.000 polisi.

Kata ayah enam anak itu, rumahnya di Klibeut kala itu dijadikan pos satu peleton Siliwangi Manado.

“Pernah saya suruh bakar rumah saya. Tapi saya urungkan, karena ada yang bilang, kalau dibakar, rumah warga di sekeliling juga akan ikut terbakar,” kenangnya. “Saat saya di hutan, saya juga jual satu ruko milik keluarga saya.”

Pasca-damai pada 2005 silam, ia sibuk dengan aktivitas di Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie, organisasi mantan kombatan GAM yang dibentuk setelah GAM bubar.

Pada 2009, ia maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRK Pidie dan terpilih.

Ia masih menatap kosong ke depan. Rambut dan jenggotnya sudah putih keperakan. "Dari perjuangan bersenjata ke perjuangan politik," tutupnya.[]

Komentar

Loading...