Sejarah

Sang Desertir

Sang Desertir
Sumber ilustrasi: merdeka.com.

PADA akhir 2002, Efendi, pemuda tanggung yang bertubuh kurus, yang tinggal di Gampong Reului Busu, Kecamatan Mutiara, Pidie, memutuskan untuk bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Baginya, bergabung dengan GAM adalah memerdekakan Aceh dengan berperang melawan TNI dari subuh buta hingga tengah malam.

Kondisi politik di Aceh saat itu berada pada tolak-tarik perdamaian semu dan sesaat antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia (RI). Dua tahun sebelumnya, pada tahun 2000, pernah diberlakukan Jeda Kemanusiaan (The Humanitarian Pause). Namun, Jeda Kemanusiaan itu tidak berlangsung lama.

RI-GAM juga pernah menandatangani Kesepakatan Penghentian Permusuhan atau Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) pada 9 Desember 2002. CoHA juga bernasib serupa dengan Jeda Kemanusiaan. Tidak berlangsung lama.

Dalam rentang waktu tersebut, rekrutmen terhadap pasukan GAM terjadi secara besar-besaran. Di lain sisi, kekerasan terhadap masyarakat sipil di Aceh, yang dilakukan oleh militer Indonesia, juga meningkat.

Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat, pejuang HAM, dan akademisi ditembak dan dihabisi dengan cara yang keji. Rektor IAIN (kini menjadi UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Safwan Idris, M.A., anggota  DPRD Aceh, H.T. Djohan; Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. DR. H. Dayan Dawood, M.A., dan Direktur Internasional Forum for Aceh (IFA), Muhammad Jafar Siddiq Hamzah, dihabisi dalam kurun waktu dua tahun tersebut.

“Tulis nama,” ujar Hasballah, atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Pak Joko. Hasballah—kini Almarhum—membentangkan sebuah buku tulis yang sudah lusuh di atas meja di sebuah kedai kopi. Nama sandi Hasballah dalam pasukan GAM: Komandan 11. Tugasnya: merekrut pemuda dan mengumpulkan logistik.

Beberapa waktu kemudian, Efendi mengikuti latihan fisik di Cot Maneut, Gampong Meunasah Me Ujong Lon, Kecamatan Mutiara, Pidie, selama 20 hari. Sebelumnya, semua calon pasukan GAM di beberapa gampong di kemukiman Busu, dikumpulkan di rumah Hasballah di Busu Meunasah Pande, Kecamatan Mutiara, Pidie.

Tempat latihan itu adalah ladang warga yang terletak berada di pinggir sawah. Kini, ladang tersebut telah dipagar dan difungsikan.

“Pelatihnya Teungku Hasan. Dia pelatih fisik dan baris-berbaris,” kata Efendi, pada awal Desember 2016, mengenang kembali hal tersebut.

Jumlah calon anggota GAM, yang mengikuti latihan bersama Efendi saat itu, sekitar 30 orang. Setelah mengikuti latihan fisik dan baris-berbaris, ke-30 anggota tersebut kemudian dikukuhkan dan diambil sumpahnya di Simbe, Kecamatan Kota Bakti, Pidie.

“Selama tiga hari di sana. Lalu, kami resmi menjadi anggota. Belajar pegang senjata di situ. Bongkar pasang senjata. Untuk menembak, tidak ada, karena jumlah peluru yang sangat minim,” tuturnya.

Efendi, dengan mulut komat-kamit, menyebut nama-nama rekan seperjuangan dengannya, yang seangkatan dan satu tempat latihan. Ia menghitung mereka dengan jari tangan.

“Dari 30 orang tersebut, yang masih hidup sekitar sembilan orang,” kata dia kemudian.

Saat kemukiman Busu mulai disisir oleh TNI, Efendi dan rekan-rekannya pindah ke Rinti, perbatasan Tiro dengan Teupin Raya. Itu adalah ketika mantan Presiden RI, Megawati Soekarno Putri, memberlakukan Daerah Operasi Militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 tentara dan 12.000 polisi.

“Di Mampre, ada pos wilayah. Seminggu kami di sana,” tuturnya. “Kemudian kami ke Cot Tunong. Ada dua kompi di sana. Dari berbagai Sagoe (kecamatan). 638 A dan 638 B. Satu kompi terdiri dari 16 pasukan.”

Kala itu, 30 rekannya sudah ditugaskan pada kompi-kompi yang berbeda. Efendi di Kompi B. Lokasi Kompi tersebut: di Gampong Cot Baroh dan Cot Gampong Cot Tunong, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie.

Teuku Rahmat, yang mengikuti latihan pada tempat dan waktu yang sama dengan Efendi, menuturkan, pasca-latihan, ia ditempatkan di Didoh, Pante Krueng.

“Nama Kompi saya: Polisi Hongkong,” kata dia, pada akhir Desember 2016 lalu.

EFENDI masih beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman barunya ketika terjadi kontak senjata pada suatu pagi.

“Kami dikejar tentara. Jumlah tentara sekitar 100-an orang,” kenangnya.

Saat itu, kata dia, ia dan rekan-rekannya yang lain harus mencapai lokasi yang mereka sebut dengan sebutan: T.

“Ada jembatan, tebing, dan posisinya agak tinggi.  Di depannya ada sawah. T adalah tempat khusus ketika terjadi kontak senjata,” tuturnya.

Itulah pertempuran perdana Efendi.  Didorong oleh rasa takut dan ngeri, ia lari dan terus saja berlari.

Kompi 638 A dan 638 B sudah berkumpul di T.

Kata Efendi, dalam tiap pertempuran, ada satu tukang bidik yang mengambil posisi paling depan, yang memegang senjata M-16.

“Harus kena. Harus jitu. Kalau senjatanya sudah meletus, baru yang lainnya boleh menembak,” ungkap Efendi.

Dalam kontak senjata tersebut, AK-47 yang dipegang  Efendi tidak memuntahkan peluru sebutir pun. Ia gugup.

Beberapa waktu kemudian, sang komandan memerintahkan pasukan untuk mundur.

Mereka kemudian mundur ke dalam hutan.

“Pasukan kami yang tewas dalam pertempuran itu dua orang,” kata Efendi.

Efendi benar-benar memahami bahwa peristiwa tadi merupakan pembukaan untuk tragedi-tragedi berikutnya.

Kewalahan dengan operasi tentara yang seakan tak kenal hari libur, Efendi dan rekan-rekannya memasang bom di jembatan di dekat T.

“Pada malam hari, bom sudah ada,” ungkapnya.

Efendi tiarap di belakang sebuah pohon yang rindang sambil membaca surah-surah pendek.

Subuh buta, pasukan TNI telah merayap ke T.

Kata Efendi, “Kawat-kawat mereka potong. Punya alat mereka. Ya, mereka itu kan tugas. Perintah komandan mereka sendiri,” tuturnya.

Senyap. Lalu, seekor anjing tiba-tiba datang ke tempat Efendi.  Anjing itu mengintip ke arah Efendi.

“Aduh, sudah sampai mereka,” bisiknya dalam hati.

Anjing itu lalu berbalik arah dan memberi isyarat pada tentara dengan duduk di atas jembatan, tepat di atas bom, sembari mengibas-ngibaskan ekornya.

Firasat ihwal kedatangan tentara diperkuat dengan kesalahan seorang tentara. Saat menuju ke lokasi persembunyian Efendi dan rekan-rekannya, ujung senjata si tentara itu mengenai besi pada jembatan sehingga mengeluarkan bunyi.

Si tentara tersebut kemudian memantik korek api tanpa benar-benar menyalakannya. Ia sedang memberi satu kode.

Sepuluh meter dari jembatan tersebut, seorang pasukan GAM yang memegang remot bom, menekan tombol tanpa mengulur-ngulur waktu. Pemandangan tampak putih semua. Cahaya berkelebat.

Serpihan bom dan potongan tubuh manusia terbang di udara.

Makian yang diselipi beberapa kata cabul terdengar dari sejumlah tentara yang berang.

Rentetan senjata dimulai oleh pasukan GAM. Namun, kala itu senjata AK-47 Efendi macet.

Lebih karena dikuasai rasa takut ketimbang rasa gatal-gatal di sekujur tubuhnya, ia berguling saraya menundukkan kepala serapat mungkin dengan tanah, mendekati salah satu temannya.

“Saat senjata kami menyalak, mereka (TNI) diam. Belum ada balasan. Mereka masih kocar-kacir,” kata dia.

Kala TNI membalas, desing peluru terdengar seperti suara hujan. Deras.

Beberapa saat kemudian suasana kembali sunyi. Saat itu, Efendi mengeluarkan tembakan dua kali. Tidak ada balasan.

Komandan kompinya berteriak, “Tarik!”

Efendi dan rekan-rekannya menanggapi perintah tersebut seketika itu juga.

Kelak, Efendi mendapati sebuah dinding di Komando Distrik 0102 Pidie, yang bertuliskan nama-nama pasukan TNI yang gugur dalam pertempuran tersebut.

PASCA pertempuran pada subuh yang mengerikan itu, Efendi dan rekan-rekannya mundur ke dalam hutan.  Tak dinyana, Efendi  dan seorang rekannya telah terpisah dari pasukan. Mereka tersesat di hutan.

“Kami sudah mencar setelah mundur tadi,” kisah pria yang kini berumur 36 tahun itu.

Mereka berdua lalu berjalan, menelusuri hutan. Dalam perjalanan, Efendi dan rekannya itu melihat ada gerak manusia di balik semak-semak dan pepohonan.

Rekan Efendi berteriak, “Teh”

“Tarek,” jawab suara yang bergema di seberang, sesaat kemudian.

Itu sandi. Jika tidak ada jawaban atau jawabannya bukan tarek, maka itu bukan teman seperjuangan melainkan musuh.

“Kami akhirnya bertemu kembali,” tutur Efendi, yang memiliki sandi Atlanta.

Mereka pergi ke kawasan Alue Meuputa. Itu tempat persembunyian yang berlokasi di puncak Teupin Raya, Pidie.

“Di situ saya merasa kaki saya sakit. Saya tidak bisa berjalan lagi,” ungkapnya.

Saat itu ia merasa menjadi beban bagi dirinya sendiri. Lalu, atas nasihat rekan-rekannya, ia turun ke gampong untuk berobat. 

Sesampainya ke bawah, ia dijemput oleh pasukan GAM yang bertugas di “bawah”, yang memiliki sandi Labang Donya. Efendi dibawa berobat ke Simbe, Kecamatan Sakti, Pidie untuk beberapa waktu.

“Kamu jangan naik gunung lagi. Tapi bantu di bawah sini,” ujar Labang Donya kepada Efendi.

Kelak, Labang Donya tewas dalam sebuah kontak senjata di areal persawahan di Kemukiman Busu.

Efendi lantas membantu anggota GAM yang bertugas mencari dana di kampung.

Di gampong, Efendi bertemu kembali dengan rekannya, Ismail, yang satu angkatan dan satu tempat latihan dengannya dulu. Sang kawan, yang sejak resmi menjadi anggota GAM, bertugas di kompi yang berbeda dengan Efendi, terpaksa harus turun dari gunung karena sakit.

Situasi semakin genting. Efendi secara pribadi merasa semakin terjepit. Ia kemudian memalsukan KTP. Ia menggunakan KTP merah-putih adik perempuannya, Milawati, untuk bisa keluar dari kampung. Ia mencoret-coret nama asli pada KTP tersebut hingga hilang. Lalu, ia mengambil mesin ketik pada Sekdes untuk mengetikkan namanya pada KTP itu. Ia, Ismail, dan beberapa pasukan GAM lainnya kemudian menetap di Banda Aceh selama beberapa bulan.

Efendi sempat berpikir untuk kembali ke gunung.

Kala pulang ke kampung bersama Ismail, saat itulah tentara mengepung rumahnya dan rumah Ismail. Ismail tewas diterjang peluru, sementara Efendi selamat karena malam itu ia tidak tidur di rumah orangtuanya tapi di rumah neneknya. 

Mendengar suara tembakan, Efendi keluar dari rumah neneknya. Di sepanjang jalan, ia menemukan kerumunan tentara. 

Ia memberhentikan mobil yang melintas di jalan. Selamatlah ia sampai ke Kota Sigli. 

Ia merasakan nelangsa dan seakan hilang arah dalam hidup: teman telah tertembak dan “ke gunung” pun tak mungkin lagi ia pergi.

Hasballah atau Pak Joko juga menghadapi rentetan musibah. Ia telah kehilangan dua putranya, yang juga anggota GAM: Bahagia dan Yunus. Mereka tewas di dalam peperangan.

Beberapa waktu kemudian, TNI mengepung tempat persembunyian Hasballah di sebuah perdu bambu. Untuk bisa sampai ke tempat persembunyiannya, Hasballah memanjat pohon melinjo lalu masuk ke dalam perdu bambu yang telah ia buat sedemikian rupa, menjadi tempat peristirahatannya.

TNI menggunakan adik ipar Hasballah, yang bernama Hasballah Arsyad, sebagai umpan.

Setelah dipukul, Hasballah atau Pak Joko alias komandan sebelas ditembak di depan warga. Dengan satu tembakan. Tepat di kepala.

SUATU HARI, sebuah berita yang sampai ke telinga Efendi: jika ia tidak menyerahkan diri, orangtuanya akan “diambil” TNI.

“Saya tidak tahan kalau dipukul. Lebih baik ditembak sampai mati,” kata Efendi pada Teuku Manyak, yang saat itu menjabat sebagai Mukim Busu.

Teuku Manyak, kini menjabat sebagai salah seorang anggota DPR Kabupaten Pidie dari Partai Demokrat, menuturkan, ia tidak pernah memaksa atau meminta anggota GAM di Kemukiman Busu, termasuk Efendi, untuk menyerah kepada TNI.

“Itu permintaan keluarga Efendi. Sekarang, seolah-olah saya yang suruh dia menyerah,” kata Teuku Manyak, akhir Desember 2016 silam. “Saya juga sudah pastikan pada Efendi saat itu, itu atas kesadaran sendiri, kan? Dan iya dia jawab saat itu.”

Meskipun sudah menyerah secara sukarela dan dijanjikan tidak akan dipukul atau disiksa, ternyata Efendi tetap memperoleh perlakuan yang tidak manusiawi di Koramil 09 Mutiara. 

“Kamu punya HT, kan?” tanya seorang tentara di Koramil 09 Mutiara, yang dipanggil dengan panggilan Rambe.

“Tidak ada, Pak,” jawab Efendi.

Efendi melanjutkan, mencoba semampunya meyakinkan Rambe bahwa ia menjadi anggota GAM karena ikut-ikutan. 

“Saya ditanya terus-menerus, apakah saya pernah naik gunung, yang kemudian saya jawab tidak. Dan, setiap nama rekan-rekan seperjuangan, yang mereka tanyakan, saya bilang, saya tidak kenal, supaya kawan-kawan saya itu tidak celaka,” kata dia.

Rambe bertanya sambil membentak, “Jadi kau dengan siapa di kampung?”

Efendi menyebut nama rekan-rekannya yang kesemuanya telah meninggal dunia.

“Saya tidak ingin membunuh bangsa sendiri. Ya sudah, biar saya saja yang mereka siksa,” kata dia, dengan nada bicara yang datar.

Tidak kenal. Tidak pernah naik gunung. Tidak tahu cara pegang senjata. Begitulah jawaban Efendi selama di Koramil 09 Mutiara. 

Tiap kali menerima pukulan, Efendi pura-pura terjatuh. “Saya pura-pura lemas. Padahal mana ada, waktu latihan GAM dulu, sudah cukup jera saya. Diinjak-injak diperut.”

Suatu siang, Efendi diperintahkan untuk skot jump. Dari jarak beberapa meter, seorang tentara melemparinya dengan batu sebesar bola pimpong. Sasarannya di dada. Namun, tak dinyana, pada lemparan yang kesekian, batu mengenai kepalanya saat ia melompat.

Darah di kepalanya bercucuran dan ia pura-pura pingsan.

Ia menguping pembicaraan tentara-tentara yang melemparinya dengan batu.

“Kenapa kamu lempar di kepala?”

“Tidak sengaja.”

Sejurus kemudian, seorang tentara pergi ke apotek membeli obat dan perban. 

“Anak-anak buahnya si Rambe yang lempari saya dengan batu,” kenang Efendi.

Pada malam hari, Rambe berdiri di depan sel Efendi. Dengan perasaan iba yang dibuat-buat ia bertanya, “Itu kepala kenapa, kok pakai perban?”

“Padahal waktu kejadian dia ada di sana,” kata Efendi.

Sepuluh hari di Koramil 09 Mutiara, Efendi dipindahkan ke Kodim 0102 Pidie. 

“Aduh,” gumam Efendi saat itu, membayangkan ngeri siksa di Kodim, “matilah aku.”

Sebelum dibawa ke Kodim, pihak Koramil 09 Mutiara berpesan pada Efendi, “Pengakuan di sini, harus sama nanti kausampaikan di Kodim! Jangan dibalik-balik!”

Sesampainya di Kodim 0102 Pidie, Efendi ditendang ke dalam sel. “Tahu-tahu sudah ada kawan di dalam sana,” tuturnya. “Perawakannya sudah tidak menyerupai manusia lagi. Sudah remuk.”

Kawan se-sel dengannya, kata dia, sudah minum autan dan menusuk-nusuk tubuh dengan gagang sikat gigi—setelah diruncingkan dengan menggesek-gesekkan benda itu di lantai—agar bisa mati.

“Sudah sampai autan saya minum, tapi tidak mati juga saya,” ucap Efendi, menirukan ucapan teman se-sel dengannya saat itu. 

Si kawan, kata Efendi, sudah tidak tahan lagi dipukul.

Pagi pertama di Kodim 0102/Pidie,  Efendi mendapatkan hantaman dengan kursi di ruang pemeriksaan.

“Beruntung sekali kau, ya, cuma satu hari di sini!” kata petugas yang mengintrogasinya.

Efendi dan rekan-rekan tahanan lainnya kemudian di bawa ke Banda Aceh. 

“Dibina. Begitulah bahasanya,” kata Efendi. “Kemudian dipulangkan sebagai masyarakat biasa.”

Tak lama setelah itu, Efendi bekerja sebagai kernet L-300. Ia menetap di Jeunib, Bireuen.

Pasca-damai pada 2005, Efendi berhadapan dengan stigma pengkhianat dari beberapa kawan-kawan seperjuangan di GAM dulu. 

“Saya tidak pernah buang perjuangan. Apakah saya sakit hati karena dicap pengkhianat? Tidak, tidak sakit hati saya. Kalau dikasih, saya terima, kalau tidak, ya tidak apa-apa.”

Di akhir wawancara, Efendi berujar, “Sekarang, hampir semua yang mengatakan untuk saya pengkhianat, sudah lari dari garis perjuangan politik Partai Aceh!”[]

Tulisan ini pernah ditayangkan di portalsatu.com.

Komentar

Loading...