Iklan Pemkab Pidie

Rusuh di Rutan Kelas II B Sigli, 7 Tahanan Narkoba Polres Pidie Kabur

·
Rusuh di Rutan Kelas II B Sigli, 7 Tahanan Narkoba Polres Pidie Kabur
Kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Sigli. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Pasca-kericuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Sigli, Senin, 3 Juni 2019, tujuh tahanan kasus narkoba Polres Pidie berusaha kabur dengan memanfaatkan suasana gelap akibat aliran listrik yang padam.

Para tahanan tersebut disebut-sebut kabur dengan cara memanjat dinding pagar belakang lalu berjalan melewati perumahan warga.

“Ketujuh tahanan yang kabur baru diketahui kabur pada pukul 21.00 WIB berdasarkan informasi dari Wakapolres. Mereka memanfaatkan momentum saat PLN sedang sibuk-sibuknya memperbaiki aliran listrik di depan. Kemudian dilakukan pengejaran oleh aparat kepolisian dan tiga orang berhasil ditangkap,” kata Kepala Rutan Kelas II B Sigli, Mathrios Zulhidayat Hutasoit, Senin, 3 Juni 2019 malam.

Kondisi rutan

Luas tanah rutan tersebut 6.831 meter persegi dan luas bangunannya 833 meter persegi. Terdapat 45 pegawai di rutan tersebut, yang terdiri dari 4 pejabat struktural, 34 satuan pengamanan, 4 pembina PAS, 2 pegawai dukungan teknis (keuangan dan umum), dan 1 petugas kesehatan.

Rutan tersebut dihuni 466 orang, yang terdiri dari 143 tahanan dan 323 narapidana. Sementara, kapasitas rutan tersebut hanyalah 120 orang. Dengan kata lain, terjadi over kapasitas 288 persen.

Per Maret 2019, terdapat 27 penghuni rutan ini yang mendapatkan cuti bersyarat dan 6 penghuni mendapatkan pembebasan bersyarat.

Dugaan skenario loloskan bandar narkoba

Rutan tersebut didominasi oleh narapidana kasus narkoba: 253 bandar atau pengedar dan 119 pengguna narkoba. Di rutan tersebut, juga terdapat 4 narapidana kasus korupsi dan 6 narapidana kasus ilegal logging.

Direktur YBLHI-LBH Banda Aceh Syahrul SH MH mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran dan pengrusakan pada sejumlah Lapas yang ada di Aceh kerap terjadi.

Baca juga:

“Kini giliran Rutan kelas II B Sigli yang terbakar akibat warga binaan rutan tersebut mengamuk. Pada tahun 2017 tepatnya pada bulan Januari juga terjadi kerusuhan di Lapas kelas II A Lambaro, Aceh Besar. Hal serupa juga kembali terjadi pada bulan Januari 2018 dan yang lebih parahnya kejadian pada januari 2018 ditemukannya sejumlah paket narkoba juga tanaman ganja di dalam lapas,” kata dia dalam siaran pers yang diterima sinarpidie.co, Senin, 3 Juni 2019. “Pada November 2018, kerusuhan kembali terjadi di Lapas kelas II A Lambaro Aceh Besar. Pada kejadian ini berujung kaburnya 113 narapidana walaupun beberapa di antaranya berhasil ditangkap.”

Dikatakannya, karena tidak ada penjelasan yang kongkrit terkait dengan hasil pemeriksaan dari pihak yang berwewenang terhadap kerusuhan-kerusuhan tersebut, maka publik berasumsi dan menduga bahwa kejadian ini adalah upaya untuk meloloskan pelarian salah seorang bandar narkoba.

“Atas kejadian ini kami menduga bahwa rusaknya manajemen yang dibangun dan dijalankan pada lapas-lapas di Aceh. Selain itu juga kami menduga bahwa kejadian ini terjadi akibat adanya kesenjangan sosial antar warga binaan serta pelanggaran hak warga binaan yang kemudian berakibat pada amarah, lalu mereka bersatu atas haknya yang tidak dipenuhi untuk melawan,” sebutnya. "Kami duga beberapa kejadian pada lapas di Aceh adalah sandiwara untuk meloloskan pelarian bandar-bandar narkoba, ini diduga keras adalah skenario. Kementerian Hukum dan HAM harus segera turun tangang untuk memastikan kebenaran terhadap permasalahan-permasalahan pada Lapas di Aceh.” []

Komentar

Loading...