Editorial

Ratna Sarumpaet dan John Vincet Moon yang Ingin ke Amerika Latin

Ratna Sarumpaet dan John Vincet Moon yang Ingin ke Amerika Latin
Ratna Sarumpaet. Sumber foto: detik.com.

Jorge Luis Borges, sastrawan besar Argentina, menggambarkan satu karakter yang cukup kompleks dalam salah satu cerita pendeknya yang berjudul “Pengkhianat”.

Di La Colorada, Brasil, tokoh tersebut dipanggil Si Inggris dari La Colorada.

Si aku dalam cerita tersebut, yang menjadi narator, menceritakan satu pertemuan dengan Si Inggris dari La Colorada.

“La Colorada adalah sebuah tanah pertanian. Ia membelinya dari Cardoso, tak lama setelah ia pindah dari perbatasan Brasil, Rio Frande do Sul. Kabarnya dulu ia adalah seorang penyelundup. […] banjir Caraguata memaksaku berhenti semalam di tanah pertanian La Colorada. ”

Demikian penggalan dalam cerita pendek tersebut yang merujuk asal-usul Si Inggris dari La Colorada dan bagaimana narator “aku” mendengar cerita berikut ini. Cerita yang bermula dengan rasa penasaran dan keingintahuan penyebab luka di wajah Si Inggris.

Dalam cerita tersebut, terjadi perubahan sudut pandang: si aku (narator) berpindah pada Si Inggris dari La Colorada, lalu berpindah lagi pada aku yang lain.

Si Inggris berkisah, sekitar tahun sembilan belas dua puluh dua, di Connaught, ia merupakan seorang pejuang kemerdekaan Irlandia, yang kala itu hendak memerdekan diri dari Inggris.

Ia bertutur tentang dirinya sendirinya, yang belakangan diketahui merupakan seorang anggota Partai Munster dengan nama John Vincent Moon.

“Pemuda itu berusia sekitar dua puluhan, kurus dan tampaknya lamban. Sorot matanya yang tajam sering kali membuat orang jengah. Ia telah mempelajari buku-buku komunis dengan bersemangat. Hal itu mendorongnya untuk selalu mengacaukan diskusi dengan apa yang disebutnya dialektika materialisme. Moon akan mereduksi sejarah dunia menjadi sekedar konflik ekonomi. Dia mengklaim bahwa hanya dengan revolusilah kemerdekaan akan tercapai. Suatu kali aku mencoba membantah argumen-argumennya, namun karena sudah larut malam, kami terpaksa melanjutkan perdebatan di beranda, lalu di atas tangga, dan kemudian di sepanjang jalan. […]Ketika kami mencapai rumah terakhir, sebuah suara tembakan tiba-tiba mengejutkan kami. Kami berbelok menuju sebuah lorong, sementara seorang tentara musuh berlari dari sebuah pondok yang terbakar. Ia berteriak menyuruh kami berhenti. Aku terus berlari, tetapi kawanku tidak mengikutiku. Aku menengok, John Vincent Moon masih berdiri dicekam rasa ngeri. Terpaksa aku kembali. Aku berhasil memukul roboh tentara itu, lalu kuseret Moon. Dia tampak ketakutan. Kami berlari menembus malam di bawah hujan tembakan. Sebuah peluru menembus bahu kanan Moon. Ketika pada akhirnya kami mencapai hutan pinus, pandangan kami telah mengabur.”

Waktu berlalu dan pasukan Kerajaan Inggris terus mengejar mereka, orang-orang republiken.

Dan ternyata, John Vincent Moon,  menjual temannya itu pada tentara meski disela adegan-adegan yang mendebarkan dan nyaris gagal. Keteguhan hati dan kesetiakawanan tadi hanyalah sandiwara belaka.

Sang teman sempat menggunus pedang saat mengejar John Vincent Moon. Sebuah goresan mengenai wajahnya sesaat sebelum tentara meringkus sang teman itu.

Usai menjebak temannya, ia kemudian melarikan diri ke Brasil.

Cerita di atas, bukan persis sama tapi memiliki beberapa kesamaan dengan kasus Ratna Sarumpaet. Semula Ratna menyebarkan berita bahwa dirinya bonyok, dikroyok sekelompok orang di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, pada 21 September lalu. Kabar tersebut membikin heboh publik seantero Indonesia. Bahkan, Prabowo dan tim, ramai-ramai mengutuk tindakan pengeroyokan Ratna yang belakangan ternyata diketahui hoaks. Wajah bonyok Ratna ternyata karena yang bersangkutan baru saja menjalani operasi plastik.

Pasca-terbongkarnya kebohongan tersebut, Ratna hendak terbang ke Cili, sebuah Negara di Amerika Latin. Berbeda dengan Vincent Moon yang berhasil lari ke Brasil, Ratna justru ditangkap polisi di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis, 4 Oktober 2018 malam. []

Komentar

Loading...