PDAM Tirta Mon Krueng Baro

Perlukah Audit Investigasi terhadap PDAM Tirta Mon Krueng Baro?

·
Perlukah Audit Investigasi terhadap PDAM Tirta Mon Krueng Baro?
Direktur PDAM Tirto Krueng Mon Baro Drs Ridwan. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co—Setiap tahun, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Krueng Baro, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie, terus mengalami kerugian.

Padahal, nilai saldo investasi permanen atau penyertaan modal Pemkab Pidie pada PDAM Tirta Mon Krueng Baro per 31 Desember 2017 adalah sebesar Rp 36.886.185.827.

Nilai tersebut lebih besar ketimbang penyertaan modal Pemkab Pidie pada Bank Aceh per 31 Desember 2017, yakni Rp 12.500.000.000.

Jika laba atas penyertaan modal yang disetor kepada PT. Bank Aceh per 31 Desember 2017 yang diperoleh Pemkab Pidie sebesar Rp 3.101.301.120, maka lain halnya dengan PDAM Tirta Mon Krueng Baro yang diklaim terus merugi.

 “Itu (penyertaan modal-red) dalam bentuk aset.  Bukan tidak terurus. Bila tidak disertakan modal oleh Pemerintah Kabupaten Pidie, ya begitu,” kata Direktur PDAM Tirto Krueng Mon Baro Drs Ridwan, Selasa, 6 November 2018 di Sigli.

Dikutip dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Pidie Tahun Anggaran 2017, kekayaan Pemkab Pidie yang dipisahkan per 31 Desember 2017 ialah Rp 3. 702.857.386, sedangkan modal hibah/bantuan donatur Rp 68.794.215.198. Beban Penurunan Nilai Investasi pada PDAM Tirta Mon Krueng Baro Pemkab Pidie pada 2017 ialah Rp 2.100.532.285.

Setiap tahun pula, Pemkab Pidie mengalokasikan belanja subsidi untuk PDAM Tirta Mon Krueng Baro. Pada 2013, belanja subsidi untuk PDAM Tirta Mon Krueng Baro sebesar Rp 1,8 miliar. Pada 2014, Rp 500 juta. Lalu pada 2015 Rp 400 juta. Terjadi tren penurunan: pada 2016 belanja subsidi untuk pembayaran bantuan biaya operasional PDAM Tirta Mon Krueng Baro sebesar Rp 125 juta. Lalu, pada 2017 Rp 100 juta.

Namun nampaknya, alih-alih belanja subsidi dipergunakan untuk menutupi  harga jual dari hasil produksi air agar terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas, subsidi itu justru digunakan untuk operasional listrik dan bahan bakar minyak.

“Subsidi, selisih harga produksi dengan harga jual. Misalnya biaya produksi per kubik Rp 5. 400. Sementara harga jual per kubik rata-rata Rp. 3 ribu. Kita butuh subsidi Rp 2 milliar tapi yang disubsidi Rp 125 juta. Itu adalah nilai yang mampu disubsidi Pemkab Pidie pada PDAM,” kata Drs Ridwan.

Laba Ditahan (Akumulasi Kerugian) dan Laba (Rugi) Tahun Berjalan

PDAM Tirta Mon Krueng Baro Pidie belum mampu menghasilkan keuntungan atau deviden untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) meskipun penyertaan modal Pemkab Pidie seratus persen dari keseluruhan modal yang disetor kepada PDAM Tirta Mon Krueng Baro dan disubsidi setiap tahun.

Laba ditahan, bagian dari laba bersih perusahaan yang ditahan oleh perusahaan dan tidak dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham (Pemkab Pidie) per 31 Desember 2017, ialah sebesar Rp 31.957.814.472.

Lalu, sebagaimana terungkap dalam laporan Akuntan Publik dan Konsultan Manajemen Drs. Kaito dan Rekan, -- Auditor Independen Nomor LAI.09-17 tanggal 25 April 2018-- laba (rugi) tahun berjalan sebesar Rp 3.653.072.285.

Daftar tarif air. Direkam berdasarkan dokumen dari PDAM Tirta Mon Krueng Baro. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

Air yang mengalir dari pipa-pipa PDAM Tirta Mon Krueng Baro merupakan air leding, sumber air yang berasal dari air yang konon telah melalui proses penjernihan dan penyehatan sebelum dialirkan kepada konsumen melalui dengan sistem Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Hasil analisis Sri Hartati dkk, dalam Jurnal Teknik Sipil Pascasarjana Universitas Syiah Kuala-- Kajian Potensi Sumber Air Baku untuk Pengembangan Daerah Layanan SPAM Kabupaten Pidie (2015)—menunjukkan, kondisi IPA di bawah PDAM Tirta Mon Krueng Baro tidak semua optimal pemanfaatannya. Yang masih aktif dan berfungsi hanya empat unit pelayanan/IPA, yaitu IPA Garot, IPA Jabal Ghafur I, IPA Keumala dan IPA Ibu Kota Kecamatan (IKK) Laweung.

“Potensi air permukaan yaitu Krueng Batee dengan debit andalan 79.50 l/det, Krueng Laweung dengan debit andalan 182,25 l/det, Krueng Putu dengan debit andalan 331,44 l/det, Krueng Rajui dengan debit andalan 75 l/det, Krueng Rukoh dengan debit andalan 845 l/det, Krueng Tangse dengan debit andalan 827,64 l/det, Mata air dan Kulam Tang-tang untuk SPAM Pedesaan dengan debit andalan 618,28 l/det,” demikian dikutip dari Kajian Potensi Sumber Air Baku untuk Pengembangan Daerah Layanan SPAM Kabupaten Pidie.

Masih dikutip dari sumber yang sama, “Jumlah pelanggan PDAM Tirta Mon Krueng Baro sebanyak ± 33.335 pada tahun 2014, sedangkan cakupan pelayanan PDAM Tirta Mon Krueng Baro masih rendah, yaitu sekitar 16,74 % pada tahun 2014”.

WTP Keumala.  pembangunan WTP Keumala ini menguras dana sebesar Rp 36 miliar, yang bersumber dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.(sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

Dikutip dari Kabupaten Pidie dalam Angka (BPS/2016), “Jika dibandingkan dengan data tahun 2014, jumlah pelanggan Air Minum PDAM mengalami kenaikan sebesar 12,95 persen. Jumlah Pelanggan terbesar berasal dari kategori Non Niaga dengan persentase sebesar 76,24 persen dari 8.032 pelanggan”.

Baca juga:

Namun, menurut Drs Ridwan, jumlah pelanggan PDAM Tirta Mon Krueng Baro berkisar 7000-an.

Jumlah Karyawan

Drs Ridwan, yang telah menjabat sebagai Direktur PDAM Tirto Krueng Mon Baro selama delapan tahun, menuturkan, jumlah keseluruhan pegawai di perusahaan daerah yang ia pimpin itu sebanyak 38 orang.

Daftar piket operator WTP Keumala. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“Gaji pegawai di PDAM Tirta Mon Krueng Baro merujuk pada standar gaji Pegawai Negeri Sipil. Tunduk pada Permendagri. Pegawai kan ada golongan,” ungkap Drs Ridwan, Senin, 7 Agustus 2017 silam di Sigli. "Pembayaran gaji karyawan, antara Rp 170 atau Rp 160 juta per bulan. Pengeluaran untuk listrik, Rp 80 juta per bulan. Juga biaya untuk perawatan pipa dan bahan kimia, itu biayanya tinggi." []

Komentar

Loading...