Figur

Perjalanan Hidup Sang Ketua Ikatan Persaudaraan Disabilitas Pidie

Perjalanan Hidup Sang Ketua Ikatan Persaudaraan Disabilitas Pidie
Bahagia mengendarai kendaraan miliknya. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--Bahagia, pria kelahiran Gampong Mbeue, Kecamatan Trienggadeng, 11 November 1976, semula lahir dengan keadaan normal. Namun, saat menginjak umur dua tahun, ia menderita step (kejang demam).

“Begitu ibu saya cerita. Diurut ibu setiap pagi. Sejak saat itu, pertumbuhan tubuh saya terhambat,” kata dia pada sinarpidie.co, Rabu, 16 Januari 2019.

Menginjak umur tujuh tahun, ia mengenyam pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Trienggadeng.

“Perlakuan teman-teman biasa. Tapi kita sendiri yang minder. Orang melihat kita kasihan,” cerita Bahagia. 

Selepas menamatkan MIN, ia melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Trienggadeng.

“Kemudian STM (SMKS-red) Alfitri Beureunuen. Tiga bulan jelang kelulusan di STM, pada 1994, saya mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan atau kursus reparasi alat-alat elektronik di Palembang. Saya pilih ke Palembang dan tidak ikut ujian kelulusan. Jadinya tidak lulus sekolah,” kisahnya.

Pulang dari Palembang, Sumatera Selatan pada 1997, ia sempat membuka usaha reparasi alat-alat elektronik di Trienggadeng.

“Sekitar enam bulan buka usaha, saya diminta oleh pihak Dinas Sosial Pidie untuk menjadi tutor. Tempatnya di Blang Asan Sigli. Saya mengajari para penyandang disabilitas tentang reparasi barang-barang elektronik. Saat itu Kepala Dinas Sosialnya almarhum Pak Husein,” ungkapnya.

Sekitar setahun mengajar, ia memilih membuka usaha reparasi alat-alat elektronik di Jln Banda Aceh-Medan, Gampong Blang Asan, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

“Buka usaha di sini hampir 20 tahun,” tutur ayah tiga anak, itu.

Pada 2003, ia menikah dengan Annisa, warga Gampong Krueng Dho, Sanggeue, Kecamatan Pidie. Sejak saat itu, ia menetap di gampong tersebut.

Bahagia di depan kedai reparasi alat-alat elektronik miliknya. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Di kedai papan berukuran 3 x 5 meter itu, ia membuka usaha dengan mempekerjakan dua pekerja: satu pekerja tetap dan satunya lagi tidak.

“Ada pendapatan sekitar Rp 300 ribu per hari. Tapi itu bukan pendapatan bersih,” ungkapnya.

Bahagia menuturkan, kini ia menjabat Ketua Ikatan Persaudaraan Disabilitas Pidie (IPDP), sebuah komunitas yang diinisiasi oleh para penyandang disabilitas secara mandiri dan swadaya.

“Kami saat ini didampingi Ibu Farida dari LSM PASKA. Ada pelatihan, pertukaran informasi. Kumpul semua penyandang disabilitas. Harapan kami, kami disabilitas ini diperhatikan oleh pemerintah. Oleh Pemkab Pidie dan DPR. Jangan sampai kami minta-minta di jalan,” kata Bahagia. “Dan, UU Dana Desa kan bisa sebenarnya alokasikan dana untuk kegiatan pemberdayaan para disabilitas, tapi ketika kita bicarakan dengan keuchik, mereka belum terlalu paham tentang isu itu.” []

Komentar

Loading...