Figur

Perempuan Penarik Pukat

Perempuan Penarik Pukat
Basariah Umar. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Dari atas Jembatan Gampong Benteng, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, sebuah sampan kecil sedang merapat ke pinggir sungai. Seorang perempuan paruh baya tampak sibuk melepaskan satu per satu ikan dari jaring. Ia menutupi kepalanya dengan sebuah tudung.

“Saya cuma bantu, karena punya saudara, karena kebetulan hari ini banyak bagok, tapi tidak tiap hari,” kata Basariah Umar, 68 tahun, kepada sinarpidie.co, Selasa, 9 April 2019.

Basariah Umar, perempuan kelahiran Tepin Raya pada1968 silam, sudah sejak 2003 menjadi tulang punggung keluarga, khususnya bagi lima anaknya.

“Suami saya dibunuh saat konflik. Katanya salah tangkap,” ungkapnya.

Sejak saat itu, ia harus memikirkan kelangsungan hidup keluarganya. Kemudian, ia memutuskan menikah lagi dan meninggalkan kampungnya, lantaran harus ikut suaminya yang berkerja sebagai nelayan di Benteng.

“Penghasilan suami kecil, jadi saya ikut bantu-bantu,” kata dia.

Ia menggenggam sebuah tang di tangannya. Sambil mematahkan duri-duri ikan bagok, ia bercerita tentang kegiatannya sebagai penarik pukat.

Subuh-subuh buta, ia sudah harus bangun mempersiapkan sarapan pagi keluarganya lalu bergegas pergi ke laut. Sebab jika terlambat, ia bisa saja tidak bekerja dalam satu hari itu karena ketinggalan kapal.

“Jam enam sudah berangkat, pulangnya siang jam satu,” kata dia.

Biasanya, dalam satu kapal, mengangkut dua belas sampai delapan belas nelayan. Dan di setiap kapal yang Basariah tumpangi, ia merupakan satu-satunya perempuan. Kadang, ia dan suaminya menumpangi satu kapal yang sama. Kadang juga bisa berbeda kapal.

“Dari sini, nanti kami ke Gigieng, sampai di tengah laut, pukatnya dilempar, setelah itu orang yang ada dalam kapal turun, delapan orang ke pesisir kanan, dan delapan orang ke pesisir kiri,” kata dia.

Pekerjaan itu sudah ia lakoni sejak 2005 silam.

“Sebenarnya takut karena saya tidak bisa berenang, tapi harus memberanikan diri, karena ini pekerjaan satu-satunya,” ungkapnya. “Penghasilan tidak menentu. Kadang tujuh ribu, kadang tujuh ribu bagi dua, paling banyak tiga puluh ribu, tapi cuma sesekali."

Komentar

Loading...