Banner Stunting

Liputan khusus stunting

Penguasaan Lahan Pertanian di Pidie, Hasil Panen, dan Stunting

Penguasaan Lahan Pertanian di Pidie, Hasil Panen, dan Stunting
Kolase anak stunting di Pidie. Dok. sinarpidie.co

sinarpidie.co—Petani gurem (rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,50 hektare) di Pidie pada  2013 sebanyak 34.856 rumah tangga. Lalu, terhitung sejak 2013 hingga 2018, terjadi pertumbuhan sebesar 30,79 persen atau bertambah menjadi 45.589 rumah tangga.

Sementara, sawah dengan luas 0,50 hektare hingga 0,99 hektare dimiliki oleh 15.356 rumah tangga. Untuk 1,00 hektare hingga 1,99 hektare dimiliki oleh 7.563 rumah tangga.

Selanjutnya, 2,00 hingga 2,99 hektare dimiliki 1.505 rumah tangga. Itu merupakan data yang dikutip dari Survei Pertanian Antar Sensus 2018 (SUTAS2018) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh pada Desember 2018.

Namun, dalam terbitan tersebut, tidak tertera jumlah angka rumah tangga yang mengelola usaha pertanian milik orang lain baik yang menerima upah maupun secara bagi hasil.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Sofyan Ahmad mengatakan, jumlah petani penggarap atau para buruh tani di Pidie persentasenya sekitar 50 sampai 60 persen.

“Kepemilikan lahan rata-rata 0,25 hektare per KK dari luas lahan sawah 25.660 hektare,” kata dia, Selasa, 5 Maret 2019.

Zakaria, 42 tahun, Keuchik Gampong Ara, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, mengatakan, mayoritas penduduk di gampong setempat berkerja sebagai buruh tani dan petani yang menggarap lahan milik pihak lain.

“Penduduk umur 60 tahun ke atas, kebanyakan lulusan SD dan SMP. Lulusan SMA sekitar 30 persen. S-1 baru di tahun-tahun 2000-an. Pekerjaan penduduk bertani di desa tetangga, tidak memiliki lahan pribadi. Umumnya juga bekerja sebagai petani garam,” kata Zakaria.

Infografis sinarpidie.co

Gampong Ara merupakan salah satu gampong di Pidie prioritas penurunan angka stunting Kemenkes RI tahun 2018. Selain Ara, terdapat Gampong Ulee Gunong, Mesjid Usi, Campli Usi, Balee Ujong Rimba, Gampong Nien, Tengoh Mangki, Gampong Peunadok, Meunasah Panah, dan Panton Beunot.

Angka kasus stunting, anak bertubuh pendek karena kurang gizi kronis sejak dalam kandungan, di Pidie pada 2018 sebanyak 1.461 kasus dan kasus wasting (bayi kurus) 522 kasus.

Rawan pangan

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur daerah rawan pangan. Pertama,  ketersediaan pangan. Pidie surplus dan tidak memiliki kendala terhadap produktivitas gabah. Kedua, akses terhadap pangan dan penghasilan. Ketiga, pemanfaatan dan penyerapan pangan.  Meski hasil panen gabah di Pidie mengalami surplus, bahkan Pidie mengalami surplus setara beras sekitar 171 ribu ton setiap tahun, namun stok beras tidak ada di Pidie melainkan di Medan, Sumatera Utara. Dari Medan baru kemudian beras yang telah dikemas dipasarkan kembali ke Pidie. Hal itu menyebabkan Pidie masuk ke dalam salah satu kabupaten yang rawan pangan.

41.142 RTS Raskin dan PKH

Jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima beras miskin (Raskin) di Pidie sekitar 41.142 RTS. Lalu,  jumlah kuota Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Keluarga Harapan (PKH) di Pidie juga sekitar 41.142 KPM dengan total pagu anggaran Rp 73.292.310.000 per tahun.

Garis kemiskinan

Jumlah penduduk Pidie yang hidup di bawah garis kemiskinan pada 2018 berjumlah 89, 533 jiwa. Terjadi penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang berjumlah 92,345 jiwa. Kendati demikian, angka penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan di Pidie masih di atas 20 persen.

“Persentase penyumbang angka garis kemiskinan makanan dan non-makan. Ada dua komponen. Makanan sehari-sehari seperti sembako 65-an persen, non-makan 35 persen seperti pakaian, listrik, bensin dan sebagainya,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pidie Munir Ilyas SE pada sinarpidie.co, Senin, 4 Maret 2019 di Sigli.

Baca juga:

Garis Kemiskinan Pidie pada tahun 2018 sebesar Rp. 435.873. Garis kemiskinan diukur dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.

Jumlah penduduk miskin yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Rp 435.873 pada 2018 sebanyak 89, 533 jiwa.

Kata Munir, penduduk Pidie yang memiliki rata-rata pengeluaran konsumsi per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan (Rp 435.873) dikategorikan sebagai penduduk miskin.

“Ketika harga beras bergejolak, beras langsung berpengaruh pada pengeluaran per kapita dan penghitungan kemiskinan. Termasuk sembako.  Rokok juga, meski rokok dikategorikan makan non-kalori, yang tidak menyumbang kalori. Rp 500 ribu per kapita, misalnya, dalam satu keluarga ada empat orang. Rp 2 juta. Per hari untuk rokok Rp 20 ribu. Dikalikan sebulan jadi Rp 600 ribu. Jadi Rp 1,4 juta. Jadinya pendapatan per kapita Rp 350 ribu. Walhasil, untuk konsumsi kalori sudah dikategorikan miskin,” kata Kepala BPS Pidie, Munir Ilyas SE. []

Reporter: Candra Saymima, Diky Zulkarnen, Firdaus

Komentar

Loading...